Oleh : :Faiz Maulana Hidayat (Mahasiswa Universitas Marsekal Suryadarama)

Nabi Muhammad lahir dari orang tua bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Abdullah merupakan seorang saudagar yang sering bepergian ke Negeri Syam. Akan tetapi Abdullah meninggal dunia saat Aminah mengandung Nabi Muhammad yang baru berusia 2 bulan. Setelah itu, Nabi Muhammad pun lahir tanpa didampingi oleh sang ayah. Setelah lahir, Nabi Muhammad diserahkan pada Halimah Sa’diah untuk disusukan. Zaman dulu masyarakat Arab memiliki kebiasaan menyusukan anak-anak mereka kepada perempuan desa. Hal ini bertujuan agar anak-anaknya tumbuh dilingkungan pedesaan yang udaranya mash bersih. Nabi Muhammad pun tinggal bersama ibu susunya di dusun Bani Sa’ad selama empat tahun. Setelah tumbuh dewasa, Nabi Muhammad SAW menikah dengan Siti Khadijah. Khadijah merupakan wanita terpandang, cantik rupawan, dan berasal dari golongan orang berada di Arab. Awalnya, Nabi Muhammad SAW dan Khadijah bekerja sama saat berdagang. Namun dengan pribadi Nabi Muhammad SAW yang baik, jujur, dan patut diteladani, Khadijah pun jatuh hati dan meminta sahabatnya, Nafisah binti Munyah, datang untuk meminang Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad menikah saat berumur 25 tahun.

Sedangkan Khadijah saat itu berusia 40 tahun. Khadijah disebut sebagai cinta pertama Nabi Muhammad SAW. Ini terbukti karena dalam pernikahan mereka, Nabi Muhammad SAW tak pernah menikahi wanita lain. Wahyu pertama yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW datang melalui mimpi saat ia berusia 40 tahun. Dalam mimpi tersebut, Nabi Muhammad berada seorang diri dalam Gua Hira di Jabal Nur, dan bertemu dengan Malaikat Jibril. Melalui Malaikat Jibril, wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT adalah surat Al-Alaq ayat 1-5. Setelah mendapat wahyu dari Allah SWT, Nabi Muhammad SAW pun mulai melakukan dakwah. Pada awalnya, dakwah yang disampaikan dengan cara bersembunyi-sembunyi. “Kemudian, satu demi satu umat masyarakat masuk islam seperti Bilal bin Rabah, Abu Ubaidah Amin bin Jarrah, Abu Salamah, Arqam bin Abi Arqam, Utsman bin Madz’un, Fatimah binti Khatab, dan lainnya. Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi karena Nabi Muhammad menyampaikan dakwahnya secara individu dan rahasia,”.

Adapun yang menjadi pengikut Nabi Muhammad yang pertama adalah sang istri, Khadijah, lalu para sahabatnya, yakni Ummu Aiman, Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar Al-Shiddiq dan Zaid bin Haritsah. Setelah itu, Nabi Muhammad SAW kembali mendapat wahyu lewat Surat Al-Hajr. Dalam wahyu tersebut, Allah SWT memerintah Nabi Muhammad SAW untuk mulai berdakwah secara terang-terangan. Isra Mi’raj merupakan peristiwa penting umat Islam yang dijalani oleh Nabi Muhammad. Ini merupakan perjalanan yang dilakukan selama tujuh hari oleh Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha di langit ke tujuh. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada 27 Rajab di tahun Kenabian. Kisahnya pun tertulis dalam Al-Qur’an surat Al-Isra. Di malam itu, Rasulullah bersama Malaikat Jibril melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Lalu, Nabi diangkat ke langit ke tujuh untuk bertemu dengan Allah. Saat diangkat ke langit ketujuh, Nabi bertemu dengan malaikat dan nabi-nabi terdahulu. Di sana, Nabi Muhammad SAW pun menerima perintah salat 5 waktu oleh Allah SWT, juga diminta untuk memperhatikan umatnya oleh para nabi-nabi terdahulu.

Nabi Muhammad wafat saat berusia 63 tahun. Kematiannya terjadi setelah mengalami sakit dalam beberapa waktu. Lalu lima hari sebelum Nabi Muhammad menghembuskan napas terakhir, suhu tubuhnya begitu tinggi, sehingga meminta para sahabatnya untuk menyiraminya dengan air. “Para sahabatnya pun melakukanya dan menyiramkannya. Sehingga beliau berkata, ‘cukup…cukup,” tulis Abdullah Haidir. Di hari kematiannya dan dalam sakaratul maut, Nabi Muhammad SAW berada dalam pangkuan istri ketiganya, Aisyah. Saat mata Nabi Muhammad SAW memandang ke arah langit-langit rumah, bibirnya bergerak dan Aisyah pun berusaha mendengarkan apa yang diucapkannya. “Ya Allah, ampunilah dan kasihanilah aku, pertemukan aku dengan teman-teman yang tinggi (kedudukannya), Ya Allah pertemukan aku dengan temanteman (yang tinggi kedudukannya),” ucap Nabi Muhammad SAW. Kalimat tersebut diulang sebanyak tiga kali. Kemudian tangannya menjadi lemas dan jiwanya pun terpisah dari raga.

Nabi Muhammad meninggal pada waktu Dhuha, Senin, 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah. Umat Islam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal yang jatuh pada Kamis, 29 Oktober 2020. Terdapat sejumlah hikmah yang bisa dipetik dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ustaz Hilman Fauzi menjelaskan hikmah adalah nilai-nilai yang bisa diambil dari suatu peristiwa dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat lima hikmah yang bisa diambil dari peristiwa dan peringatan maulid nabi. Berikut lima hikmah kelahiran nabi Muhammad saw.

  1. Bersholawat untuk Rasulullah “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya,” firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 56.
  2. Waktu Bergembira Umat Islam juga mesti bergembira memperingati maulid nabi. Pasalnya, peringatan maulid nabi berarti merayakan kehadiran sosok yang menjadi suri teladan bagi umat Islam sesuai dengan surat Al-Ahzab ayat 21.
  3. Menumbuhkan Kecintaan Pada Rasulullah Hikmah maulid nabi juga dapat menjadi momentum untuk meneguhkan kembali rasa cinta pada Nabi Muhammad SAW dengan mengikuti ajarannya. Mencintai Nabi Muhammad juga berarti mencintai Allah swt. Dalam surat Ali Imran ayat 31, dijelaskan bahwa syarat untuk mencintai Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah SAW.
  4. Meneladani Nabi Muhammad saw Peringatan maulid nabi bukan sekadar seremonial, tapi meneladani perilaku dan juga perbuatan Nabi Muhammad dalam semua aspek kehidupan dan aktualisasi diri. “Bagi milenial dapat dicontoh dengan menjadi pemuda hebat. Lalu, bagi para suami dapat mencontoh kejujuran dan keadilan. Serta sosok ayah yang paling baik menyayangi keluarga dan tidak pernah marah. Juga menjadi pemimpin yang sangat adil dan menjadi guru yang bijak,”
  5. Melanjutkan Perjuangan Nabi Muhammad saw Hikmah maulid nabi juga berarti melanjutkan perjuangan dan misi Nabi Muhammad SAW dengan mengikuti Alquran dan sunah. Mengamalkan Alquran dan sunah dapat menjadi panduan dan juga menyempurnakan keislaman. Jadikan peringatan maulid nabi sebagai momentum untuk memperbaiki akhlak dengan meniru perilaku Nabi Muhammad dan juga menambah keimanan kepada Allah SWT.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *