Gusti Allah berfirman dalam Adh Dhuha ayat 6
وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ
“Dan saat Dia mendapatimu, Hai Muhammad, dalam keadaan bingung, maka Dia memberimu petunjuk”
Ayat ini menurut Syaikh Yusri Al Hasani Al Azhari bermakna bahwa Gusti Allah mendapati Kanjeng Nabi Muhammad SAW sedang bingung bagaimana cara menyampaikan hidayah pada umat manusia, maka Dia pun Menghidayahi beliau dengan wahyu. Dan wahyu tersebut ada yang memuat kisah-kisah Nabi terdahulu.
Kisah-kisah nabi terdahulu yang termuat dalam Al Qur’an, kalo kita perhatikan secara seksama, merujuk pada situasi yg sama yang juga dihadapi Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Ini seakan Gusti Allah memerintahkan Kanjeng Nabi Muhammad untuk selalu bercermin pada kisah orang terdahulu yg juga menghadapi situasi yg sama.
Ada banyak kisah Nabi terdahulu yg situasinya sama persis dgn situasi yg dihadapi Kanjeng Nabi Muhammsd SAW. Kita bahas salah satunya saja, mbah.
Diceritakan dalam berbagai Siroh Nabawi, walaupun Kanjeng Nabi Muhammad SAW berasal dari Bani Hasyim yang dihormati di Makkah, akan tetapi secara personal, sebelum pengutusannya sebagai nabi, beliau bukanlah pembesar secara sosial di kalangan penduduk kota Makkah. Beliau bukan pemimpin suku, bukan saudagar terkaya, bukan pemimpin ritual keagamaan, bukan pemegang kekuasaan dan wewenang secara politik dan ekonomi.
Hal ini bisa dilihat dari protes yang dikemukakan kaum kafir Quraisy ketika beliau memperoleh wahyu Gusti Allah, sebagaimana direkam Al Quran dalam Surat Az Zuhruf 31.
وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ
“Dan mereka (orang kafir Makkah) berkata: Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?”
Maksudnya, para Kafir Makkkah itu berkata, jika saja Al Qur’an benar-benar diturunkan dari sisi Tuhan Yang Agung, maka harusnya diturunkan untuk orang agung yang berasal dari pembesar dua negeri. Yaitu Walid bin Mughirah dari Makkah dan Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqfiy dari Thaif.
Sayyidina Ibnu Abbas tentang ayat ini dawuh, bahwa orang-orang Arab berkata: “Jika saja Nabi itu manusia, maka orang lain selain Muhammad itu lebih berhak mendapatkan risalah,”. Karena menurut orang Arab, wahyu Tuhan itu agung dan hanya untuk pembesar dan pemuka secara sosial.
Bagian Al Quran lainnya yang bercerita kisah Nabi yang punya kesamaan situasi yang dihadapi Kanjeng Nabi Muhammad SAW tersebut adalah Surat Huud 91, yang mengisahkan protes dan pelecehan kaum Nabi Syu‘aib pada Nabi Sy’aib
قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا ۖ وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ
“Mereka berkata: Hai Syu´aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami, kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami”
Maksudnya, kaum Nabi Syu’aib meremehkan Nabi Syu’aib. Mereka gerah dengan nasihat nasihat dan wejangan wejangan Nabi Syu’aib. Itu karena mereka memandang Nabi Syu’aib adalah seorang yang lemah diantara kaumnya, karena Nabi Syu’aib bukan seorang pemimpin besar di kalangan kaumnya, sehingga Nabi Syu’aib dianggap orang rendahan.
Nabi Syu’aib dibiarkan hidup karena kaum kafir itu cuma sungkan pada keluarga Nabi Syu’aib, yakni kabilahnya dan orang-orang yg melindungi beliau. Andai bukan karena itu, tentu kaumnya telah merajam Nabi Syu’aib. Sama seperti situasi yang dihadapi Kanjeng Nabi Muhammad SAW selama di Makkah, beliau bisa bertahan selama 10 tahun karena lindungan Bani Hasyim, terutama keluarga Abu Tholib. Andai bukan karena itu, tentu Kanjeng Nabi sudah dibunuh.
Nabi Syu’aib pun secara sosial, politik dan ekonomi, walau dari keluarga terkemuka, tapi bukan seorang yang spesial dan berwibawa di sisi kaumnya. Sama seperti situasi yg dialami Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang berasal dari keluarga terhormat tapi tidak termasuk dalam pembesar kabilahnya yang punya wewenang spesial secara sosial, politik maupun ekonomi.
Seakan semua kejadian yang dialami Nsbi terdahulu memang dikondidikan demikian agar jadi hikmah buat Kanjeng Nabi Muhammad dan umat beliau. Jadi bukan tanpa alasan Al Qur’an menampilkan kisah-kisah Nabi terdahulu. Banyak hal serupa dalam Al Qur’an yang kalau kita bisa hayati dan gali terus, semua ayat-ayatnya itu sangat menarik dan besar hikmahnya. Kalau dibilang kebetulan, sungguh gak masuk akal. Ya ini mukjizat Al Qur’an.
Ini membuktikan bahwa Al Qur’an benar-benar turun dari Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad benar-benar utusan Gusti Allah.
Maka dengan hikmah ini semua, kita patut mengucap
رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا
“Saya ridho bertuhan Gusti Allah, ridho beragama Islam dan ridho mengakui kenabian dan kerosulan Kanjeng Nabi Muhammad SAW”

No responses yet