Bapak adalah sosok pejuang tangguh. Beliau berjuang demi apapun sekalipun nyawa menjadi taruhannya. Terpenting, bangsa ini keluar dari cengkraman penjajah. Sudah berapa musuh yang lenyap dengan senjata ditangannya. Bapak hidupnya jarang sekali dirumah. Banyak waktunya dihabiskan di medan perjuangan. Bapak merupakan seorang lelaki tangguh yang berasal dari Dusun yang ada di kaki Gunung Muria, di daerah Kudus, Jawa Tengah.

Nama bapak sangat singkat, Maksum. Maksum sebagai anak bapak merupakan seorang anak penurut kepada orangtuanya, terutama ibunya. Saat memasuki usia muda, ibunya dawuh kepadanya, “Ayahmu telah lama meninggalkan kampungnya. Pergilah engkau mencarinya ke arah Timur.” Sebagai anak laki-laki tersayang yang kini tinggal bersama ibunya dirumah tergerak hatinya menindaklanjuti dawuh ibunya. Beliau ingin berbakti sepenuh hati kepada ibunya untuk mencari bapaknya yang telah dirindukannya.

Petunjuk dari Ibu, bapak hanya bergerak ke Timur. Tepatnya timur mana? Tidak jelas, pokoknya ke Timur. Bapak pergi ditemani beberapa pemuda kampung di desanya yang tergabung dalam pergerakan perlawanan terhadap Belanda. Karena itu dawuh ibu nya, ia berangkat saja tanpa bertanya dan berani membantah. Bisa jadi, ibunya juga tidak tahu persisnya.

Jaman-jaman saat bangsa ini dijajah, keluar kampung halaman sendiri merupakan suatu hal yang tak biasa bagi seorang pemuda desa. Tapi dalam diri pemuda Maksum telah mengalir darah pejuang. Tidak ada rasa takut untuk keluar kampung, melangkahkan kaki mencari sang bapak seorang diri. Ya, ini juga sebenarnya pembuktian seorang anak pejuang.

Sebelum Maksum berangkat berjalan kaki mencari bapaknya oleh ibunya diberi sebilah keris. Tentu saja, doa khusus untuk keselamatan selama dalam perjalanannya dipanjatkan ibunya. Saat itu di almanak menunjukan kisaran tahun 1880 an.

Maksum berjalan kaki menuju ke Timur seorang diri. Rumah penduduk Jawa saat itu masih langka. Apalagi jalan-jalan berpaving dan aneka lampu warna warni berada di pinggir jalan, jelas tidak ada. Jalan utama saat itu hanya ada Jalan Raya Dendles yang terbentang dari Anyer sampai Banyuwangi. Hutan Belukar masih banyak di daerah Semarang, Purwodadi, Grobogan, Cepu, Bojonegoro, dan sekitarnya.

Maksum berhasil menghilangkan segala ketakutan didalam dirinya saat melintasi perjalannya yang memungkinkan dia menjumpai, Genderwo, Pocong, dan mahluk halus lainnya. Pun juga saat bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenalnya yang sewaktu-waktu dapat mengancam dirinya. Dia punya keris pemberian ibunya. Dalam kondisi tertentu bisa dijadikan alat untuk menjaga diri. Tetapi senjata utamanya bukan itu. Melainkan Doa.

Dengan memanjatkan doa kepada Allah dengan tulus dan ikhlas supaya diberi keselamatan dari marabahaya dan memintanya perlindungan kepada Allah senantiasa dilakukan. Benar, doanya dikabulkan Allah. Beliau selamat sepanjang perjalanan.

Kini perjalanan yang telah ditempuh selama berhari-hari dan melintasi banyak jalan kecil dan besar sampai ke suatu tempat yang sangat jauh dari jangkauan kaki. Maksum telah sampai berada di daerah Singosari, Malang. Semasa di Malang ini, Maksum mendengar kabar dari orang kampung bahwa ada seseorang yang berasal dari daerahnya.

Maksum pun bergegas untuk menemuinya. Barangkali mengenal sosok ayahnya. Syukur, si dia memang bapaknya yang selama ini dicarinya. Setelah berhasil ditemui, dengan kecakapannya membawakan diri membuatnya diterima dengan baik. Maksum berbincang lama dengan orang yang dimaksud.

Hasilnya, orang itu bukan bapaknya, dia seseorang yang berasal dari Jepara. Namun dia mengenali bahkan bersahabat baik dengan bapaknya. Saat di medan juang dia juga bergerak bersama-sama. Sesama satu barisan pemuda dari kampung halaman sudah seperti keluarganya. Mereka senasib dan seperjuangan dan sependeritaan.

Kata sahabat bapak, “Memang, kami dahulu berangkat bersama-sama, meninggalkan desa. Kami adalah teman seperjuangan dan sepaham. Namun sekali ayahmu telah mendahului kita semua. Dia telah mendapat penggilan Ilahi. Semoga arwahnya mendapat tempat yang layak di sisiNya.” Mendengar itu, Maksum terhenyak seketika. Tetapi apa yang hendak diratapi? Bukankah, tiap makhluk hidup akan mengalami kematian? Kematian pasti akan datang dan menghampiri siapa saja dengan cara apa saja pada berlainan waktu?

Sahabat perjuangan bapaknya itu, mengatakan, “bertafakur lah wahai anak muda!” Perjalanan yang kau tempuh sungguh sangat luar biasa. Kamu telah berjalan melintasi gunung gemunung, menerobos hutan belukar. Kamu jelas telah menjumpai mahluk Tuhan lainnya selain manusia. Kamu juga telah menjalankan amanat dari seorang Ibunda tercinta. Kini, kamu mau melakukan apa anak muda? Tanya teman, bapak.

Maksum menjawab dengan mantap. Saya akan pulang kembali ke kampung halaman untuk melaporkan informasi penting ini kepada ibunda dan menyerahkan sebilah keris. Kata-kata itu kemudian direvisi oleh Maksum. Dalam pikirannya terbayang sebuah perjalanan panjang dan sangat berat dari Singosari Malang ke Jepara di Kaki Gunung Muria.

Maksum saat itu mendengar di daerah Singosari Malang ada sebuah pesantren yang diasuh oleh Kiai Rohim. Di pesantren itu diajarkan bermacam-macam ilmu Keislaman. Dari mulai membaca Quran dan tajwidnya, Falak, dan lainnya. Para santri yang belajar tidak dipungut biaya alias gratis. Hati Maksum tergerak untuk menjadi santri di pondok itu. Ia pun meluncur ke pesantren tersebut, setelah sampai ia sowan kepada Kiai Rohim. Maksum diterima menjadi santrinya.

Selama menjadi santri, Maksum sangat tekun dalam belajar. Untuk menopang hidupnya beliau bekerja apa saja, mungkin juga menggarap pertanian di hutan milik kiainya. Maksum dikenal menjadi santri yang rajin, tekun, jujur, dan pemberani. Kepribadian Maksum memang sudah terlihat sejak kecil. Terutama sikap patuhnya kepada ibunya.

Selama menyantri di Pesantren milik Kiai Rohim, Maksum dalam tempo yang singkat sudah terlihat menguasai apa yang telah diajarkan kiainya. Bahkan, semasa menyantri, diam-diam Kiai Rohim juga menaruh simpatik kepada santrinya. Maksum dinikahkan dengan Maemunnah, putri Kiai Rohim.

Singkat cerita, setelah Maksum menikah dikemudian hari menunaikan ibadah haji dan dikarunia beberapa orang keturunan. Anak pertama, Masjkur. Kedua, Toyib. Ketiga, Barmawi. Keeempat, Toha dan Hasan.
Sosok KH. Masykur putra KH.Maksum dalam perjalanan hidupnya kemudian menjadi tokoh besar di Republik Indonesia dan Nahdlatul Ulama. Melihat cerita bapak KH. Masjkur rasanya sungguh sangat luar biasa. Wajar, jika itu semua mempengaruhi putranya. Sosok KH. Masjkur sebagai tokoh NU sepanjang hidupnya utamanya saat muda saat menyantrinya menarik dijadikan inspirasi para santri. Alfatihah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *