Saya masih berusaha merampungkan karya Gurutta Ahmad Baso, “Al-Jabiri, Eropa dan Kita” yang saya beli dari Cak Muniri Faqod. Ini buku tebal yang bagus. Dalam memahami “turats” alias tradisi ala Abid Al-Jabiri, saya malah lebih mudah memahaminya melalui kajian sepakbola. Hahaha…

Parma, klub yang dibiayai pabrikan susu Parmalat ini, sempat Berjaya di era 1990-an.  Kejayaannya mulai pudar saat para prajurit emasnya berdiaspora ke berbagai klub di pengujung 1990-an: Gianluigi Buffon, Juan Sebastian Veron, Lilian Thuram, Alain Boghossian, Fabio Cannavaro, Hernan Crespo, dan lain sebagainya, pindah klub. Lalu, perlahan-lahan skuad klub legendaris ini buyar, bangkrut, lalu terdegradasi ke Serie-C. Hancur. Dan, hingga saat ini Parma tetap terseok-seok. 

Se-era dengan Parma, ada Blackburn Rovers, klub medioker yang menjadi kampiun Liga Inggris. Di awal 2000-an, ada Bayern Leverkusen yang perah mencapai final Liga Champions meski ditekuk Real Madrid dengan tendangan indah Zinedine Zidane yang menjadi gol terbaik itu. Setelah itu ada FC Porto yang fenomenal di tangah Jose Mourinho. Berselang satu dekade, di Prancis ada AS Monaco. Di Inggris ada Leicester City. Keduanya mendobrak pakem para jawara. Mereka adalah al-mustasnayat, pengecualian dalam sebuah pakem dan tradisi kejuaraan tradisional sepakbola. 

Mengapa klub-klub penjegal para raksasa ini hanya bersinar sebentar, lalu tumbang, dan gagal mengulangi prestasinya. Banyak faktor: dari finansial, kepindahan para bintang, ditinggal manajer, hingga ganti pemilik. Tapi, ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian. Apa itu? Tradisi. Ya, sebuah tradisi.

Saya sampai pada kesimpulan: kegagalan klub-klub kecil di Eropa dalam mempertahankan konsistensi (Nottingham Forest, Marseille, Blackburn Rovers, Parma, AS Monaco, hingga Leicester City), adalah tidak memiliki sebuah “tradisi”, yang dalam hal ini bermakna sebuah mentalitas, kerinduan, harapan bersifat ideologis yang diwariskan secara turun temurun. 

Karena tidak memiliki sebuah tradisi juara, maka sekali naik, lalu jeblok, maka sulit bangkit. Bandingkan dengan Juventus. Si Nyoya Tua pernah jeblok ke Serie-B gara-gara skandal calciopoli. Tapi, dia bisa bangkit dengan cepat. Mengkonsolidasikan kekuatannya dengan berpijak pada mentalitas jawara dan tradisi klasik klub utara yang dominal. Oke, AC Milan bisa saja terseok-seok di tangan Montella yang dilanjutkan Gattuso (dan, kini di tangan Stefano Pioli, Rossoneri menjadi mesin perang yang kece). Percayalah, klub tua biasanya memiliki takdirnya sendiri.

Di Spanyol. Tradisi permusuhan dipelihara. Antara klub borjuis Real Madrid melawan klub kebanggaan Catalan yang ingin memisahkan diri dari Spanyol, Barcelona. Sebuah mentalitas dan tradisi pertarungan yang disajikan secara brutal dalam el-clasico.

Saya kira ini pula yang menjadi jawaban atas pertanyaan klasik: mengapa klub-klub jawara Liga Champions senantiasa lahir dari bekas negara fasis, dari Italia, Spanyol, dan Jerman? Bukan dari kawasan Skandinavia maupun Eropa Timur. Sebab, mungkin lho ya, mereka memiliki sebuah mentalitas dominan yang dikonstruksikan sebagai basis tradisi persepakbolaan mereka. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *