Seorang filsuf besar bangsa Yunani, murid dari Plato (427 SM –  347 SM di Athena) dan guru dari Alexander Agung (Aleksander III dari Makedonia 21 Juli 356 SM – 11 Juni 323 SM), yaitu Aristoteles (384 SM, Stagira, Yunani – 322 SM, Khalkis, Yunani), bahwa pada puncaknya tujuan dari tindakan2 etis adalah ketenangan dan kebahagiaan. 

Hal ini dipertegas oleh sebuah hadits yg berbunyi, “Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam menyatakan, perbuatan baik adalah yg membuat hatimu tenteram, sedangkan perbuatan buruk adalah yg membuat hatimu gelisah.” (Hadist ini tertulis di dalam kitab Musnad Ahmad Ibnu Hambal, Jilid. 4, Hal. 228 dan Jilid. 4, Hal. 194. Kitab al-Mu’jam al-Mufakhras li al-Fadh al-Hadts an-Nabawi, karya  A. J. Wensink, Jilid. 1, 160)

Perasaan gelisah dalam hati memang bisa dirasakan oleh siapapun. Karena hal itu merupakan salah satu kodrat yg dimiliki manusia. Ada manusia yg mampu mengatasi rasa gelisah tersebut dan ada pula yg tidak mampu mengatasinya. Penyebab rasa gelisah di dalam hati dapat disebabkan oleh berbagai alasan dan faktor2 tertentu. Apalagi dalam kehidupan saat ini, di mana banyaknya pilihan ataupun hal2 baru yg terkadang meragukan pikiran manusia sehingga membuat hati menjadi gelisah.

Setiap manusia menginginkan ketenangan dalam hati mereka agar bisa mendapatkan kebahagiaan. Ketenangan jiwa adalah sebuah kondisi dimana kita bisa terhubung kepada salah satu bagian dalam jiwa kita, yaitu jiwa tenang. Dalam kondisi ini kita bisa membedakan mana yg harus dilakukan, mana yg tidak, mana yg EGO, mana yg KEINGINAN, mana yg AMARAH.

Lebih dipertegas lagi oleh Sayyid Mujtaba Musavi Lari (1925 –  2013 M Iran) bahwa, dgn bertambahnya tanggung jawab seseorang, maka seharusnya tingkat kestabilan dan ketenangan jiwa manusianya pun harus bertambah. Beberapa teori di atas, semuanya berbicara hal yg sama yaitu, tentang ketenteraman, dan ketenangan. (Sayyid Mujtaba Musavi Lari, Psikologi Islam, diterjemahkan oleh Satrio Pinandito, (Jakarta: Pustaka Hidayah, hal 25)

Sementara fenomena di masyarakat, banyak orang yg tidak menggapai tujuan hidupnya sebagaimana diteorikan oleh para pakar diatas. Bahkan data di lapangan menyebutkan bahwa banyak orang yg tidak tenang, justru mengalami penyakit depresi karena berbagai hal. Dari data penelitian kementerian kesehatan menyebutkan, depresi terjadi karena, gejala utama rasa sedih dan hilangnya semangat yg berkepanjangan.

Hal di atas menunjukkan adanya kesenjangan antara kondisi bahagia dan tenang yg seharusnya dimiliki manusia dgn kenyataan yg mereka hadapi. Terkait ketenangan jiwa al-Qur’an telah banyak membicarakannya. Contoh, “(yaitu) orang2 yg beriman dan hati mereka manjadi tenteram dgn mengingat Allah. Ingatlah, hanya dgn mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram (QS. Ar-Ra’du ayat 28)”

Menanggapi ayat di atas, Prof. DR. KH. Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka rahimahullah (17 Februari 1908, Sungai Batang –  24 Juli 1981 M, Jakarta) mengatakan bahwa “ketenteraman hati merupakan pokok kesehatan rohani dan 

jasmani”. Dalam kitab Tafsirnya, Al-Azhar, beliau berkomentar penyebab hati tidak tenteram. Diantaranya adalah gelisah, putus asa, pikiran kusut, ketakutan, kecemasan, keragu2an, dan duka cita. Dia mengatakan iman menyebabkan hati kita mempunyai pusat ingatan dan tujuan. Iman menimbulkan dzikir dan dzikir yg menimbulkan Thuma’ninah. 

Intinya, ayat di atas menjelaskan hubungan ketenangan jiwa dgn iman yg disebabkan Dzikrullah. Di tempat lain Al-Qur’an menjelaskan tentang ketenangan jiwa dgn menggunakan istilah Sakinah. Contoh, “Dan di antara tanda2 kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri2 dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya (QS. Ar-Rum ayat 21)”

Sejatinya makna sederhana dari kata ketenangan jiwa adalah kondisi dimana jiwa itu sudah berada pada tahap ketenangan sejati, rasa lapang, tidak ada tekanan, menerima kenyataan, berpasrah diri pada Sang Khalik, bisa merasakan manisnya iman, bisa mengendalikan diri dan hawa nafsu, jauh dari kebencian, tenteram dan hati menjadi luas dan lepas.

Manusia yg sudah bisa mencapai tahap ketenangan jiwa ini adalah manusia yg memahami hakikat kehidupan, sudah mengerti apa yg harus dilakukan dan apa yg harus dihindari. Dan umumnya, manusia akan menjadi lebih tenang jika ia sudah berada di dekat Penciptanya, jika manusia sudah mengenal dan meyakini bahwa ada kekuatan amat besar di alam ini yg melampaui kekuatan apapun dan hanya DIA yg maha berkuasa atas dirinya dan segala sesuatu yg ada di sekitarnya.

Dan itulah hakikat diciptakannya jiwa ini bagi seluruh makhluk, jiwa itu akan selalu mencari kebenaran hakiki tentang sosok Penciptanya dan jiwa akan merasa tenang jika sudah menemukan dan menjadikan Sang pencipta sebagai sandaran utama hidupnya. Kemanapun jiwa itu pergi dan sembunyi maka jiwa akan selalu berupaya mencari kebenaran hakiki, karena itulah hakikat diciptakannya jiwa didalam diri manusia.

Ada banyak ulama yg menyampaikan ulasannya tentang masalah ini, tentang “al-uns bi Allah,” hakikat ketenangan dan kedamaian karena dekat dan mengenal Allah. Kalau diringkas, ada tiga tahapan yg harus dilalui untuk tiba di tujuan ketenangan jiwa itu.

Pertama adalah bebas dan selamatnya hati dari berbagai jenis penyakit hati. Sebagaimana badan merasa tak nyaman dengan adanya penyakit sekecil apapun, hati pun tak akan merasa nyaman dgn kenyamanan sempurna saat ada penyakit di dalamnya. Pelajarilah penyakit2 hati dan jauhkan dari hati kita. Apa saja dan bagaimana caranya adalah bahasan lain yg perlu kita kaji bersama.

Tahapan kedua adalah mengistiqamahkan hati untuk senantiasa bersambung dgn Allah dan menerima dgn senang hati semua yg diperintahkanNya. Keterputusan hati dgn Allah, lupanya hati akan Allah dan alpanya diri dari melaksanakan perintah Allah hanya akan menambah beban hidup dan kegelisahan jwa. Diajarkannya doa dan dzikir oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam untuk setiap aktifitas kita salah satunya adalah untuk menguatkan sambungan hati kita dgn Allah demi ketenangan dan kedamaian jiwa kita. Sudahkah kita laksanakan?

Tahapan yg ketiga adalah memperbaiki kualitas amal perbuatan kita dan menyegerakan semua jenis perbuatan baik yg mungkin kita lakukan. Gabungan kualitas dan kuantitas amal kebaikan adalah modal utama kebahagiaan dan kedamaian hati kita. Renungkanlah dan semoga ada manfaatnya ….

Jangan lupa SHOLAT, MEMBACA ALQURAN, DZIKIR DAN SHOLAWAT adalah ikhtiar menguatkan ketenangan jiwa, jangan lupa selalu optimis dan positif thinking, serta iringi ruang hidup dgn senyuman ..

Yogyakarta, 20022021

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *