Categories:

Dalam satu riwayat, Almarhum Hadrotussyeh KH. Khozin salah satu pengasuh pondok Siwalanpanji (guru Mbah Hasyim Asy’ari) generasi ke-3, kira-kira tahun 1850-an. Beliau di kenal zahid (istiqomah dalam urusan ukhrowi) dan waro’ (hati-hati dalam hukum). Dalam satu kesempatan, beliau di minta oleh takmir Masjid Jami’ Sidoarjo untuk menjadi imam sholat Jumat di Masjid Jami’ Sidoarjo, namun beliau menolaknya dengan alasan tertentu. Takmir dan para kyai tetap berkeinginan dan terus berusaha agar Kyai Khozin tetap berkenan ngimami. Lalu para kyai se-Sidoarjo memutuskan untuk berangkat sowan ke Mbah Khozin dan memohon agar beliau berkenan jadi imam. Akhirnya beliau berkenan menjadi imam.

Tibalah hari Jumat, jadwal Mbah Khozin menjadi imam. Setelah selesai mengimami, beliau langsung pulang. Setiba di rumah, beliau sudah ditunggu oleh seorang tamu yang kebetulan sholat di Masjid Jami’ juga, tapi dia tidak tahu jika Kyai Khozin sholat Jumat di Masjid Jami’ dan menjadi imamnya. Si tamu lalu bertanya ke Mbah Khozin, Jumatan teng pundi kyai? (Jumatan di mana, Kyai?) Kyai Khozin menjawab, sholat teng Masjid Jami’ (Sholat di Masjid Jami’). Si tamu yang tidak tahu siapa sebenarnya yang jadi imam di Masjid Jami’ itu bertanya ke Kyai Khozin, sinten sing ngimami niki wau? Suaranipun sae, teng ati asrep (Siapa yang mengimami tadi ? Suaranya bagus, di hati terasa dingin). Kyai Khozin diam saja tidak menjawab sepatah kata pun. Padahal yang di maksud si tamu ini adalah beliau. Setelah tamunya pulang Mbah Khozin langsung mengutus santrinya untuk menyampaikan ke takmir Masjid Jami’, bahwa Kyai Khozin mengundurkan diri dari imam tanpa alasan apapun.

Menurut beberapa sumber, mengingat Mbah Khozin itu seorang yang zahid, waro’ dan abid, kemunduran Mbah Khozin itu di sebabkan takut ada rasa riya’ dan ujub yang bisa menyebabkan sholatnya mulgho (percuma), tidak sampai ke haribaan Ilahi. Baru ngimami satu kali, Mbah Khozin sudah mengundurkan diri dari imam hanya karena mendapatkan pujian dari orang yang bisa merusak satu amal.

Bagi sufiyun, riya’ adalah syirik khofi (syirik samar) karena beramal dengan tujuan apresiasi manusia, berarti menyekutukkan Tuhan dengan manusia. Hal tersulit adalah menghindari riya’, lebih-lebih pada zaman yang mengagungkan ibadah sosial, semua persoalan ibadah dikaitkan dengan manusia.

Wallohu a’lamu bisowab.

Sumber: FB Lazisnu Kab Malang

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *