Sunan Weruju, adalah putra Sunan Giri (wafat 1506 M) dari hasil pernikahannya dgn Dewi Murthosiyah binti Sunan Ampel. Sunan Weruju memiliki seorang putri bernama Nyai Ageng Tumengkang Sari, berarti cucu Sunan Giri.

Kompleks makam Nyai Ageng Tumengkang Sari tidak berada satu kompleks dgn makam kakeknya, Sunan Giri di Kebomas Gresik, tapi terletak di Dusun Sumur Songo, Kelurahan Sidokumpul, Jalan Panglima Sudirman  Gresik. Masyarakat asli Sumur Songo dan sekitarnya menjuluki Nyai Ageng Tumengkang Sari dgn sebutan Mbah Buyut Sumur Songo atau Nyai Ageng Pamengkang Sari atau Nyai Ageng Pemangku Sumur Songo.

Sebagai cucu Ulama besar Sunan Giri, Nyai Ageng Tumengkang Sari juga membantu perkembangan dakwah Islam kepada masyarakat sekitar. Karena jasanya itulah hingga kini pusaranya banyak diziarahi orang. 

Ahli Pembuat Jamu dan Bidan

Selain itu, semasa hidupnya beliau juga dikenal sbg perempuan “ningrat” yg ahli dalam pembuatan jamu (pengobatan) dan kebidanan banyak menolong ibu2 yg akan melahirkan. Sehingga, sebagian masyarakat masih percaya dgn bermunajad dan berdoa kepada Allah di makam Nyai Ageng Tumengkang Sari, maka proses persalinan bayinya akan menjadi gangsar (muda dan lancar, red). Para peziarah itu biasanya membawa minyak kelapa dan air dari Sumur Songo yg diyakini berkhasiat terutama membantu proses melahirkan.

Dinamakan Dusun Sumur Songo  (Sumur Sembilan), karena waktu itu Nyai Ageng Tumengkang Sari untuk pertama kalinya babad alas (membuka hutan) di kawasan yg sekarang bernama Kelurahan Sidokumpul Gresik. Beliau dan para pengikutnya membuat sumber air (sumur) berjumlah Sembilan. Namun sayangnya, hingga saat ini hanya beberapa sumur saja yg berhasil ditemukan, itupun terletak di antara pemukiman warga setempat.

Di dalam cungkup utama terdapat nisan Nyai Ageng Tumengkang Sari dan Buyut Susilowati yg menjadi  dayang (pengikut) setia beliau. Di sekitar cungkup utama, bisa ditemukan juga beberapa nisan yg katanya sbg pengikut sang Nyai Ageng yg sangat berjasa membantu dakwah dan proses persalinan, antara lain Mbah Brojol (Brojol = melahirkan) dan Mbah Goplo.

Ada sebuah batu andesit berbentuk lumpang yg dipergunakan untuk membuat yg ada di halaman cungkup utama. Sayangnya alu yg berfungsi sbg penumbuk bahan jamu tidak ada.

Kompleks makam Islam Sumur Songo yang ada di Kelurahan Sido Kumpul Gresik sangat terawat dengan baik. Jalan sdh berpaving agar pengunjung merasa nyaman berjalan saat berziarah dan Gedung sbg tempat merayakan haul Nyai Ageng Tumengkang Sari yg rutin setiap tahun pada tanggal 12 Syafar.

Asal usul nama Sumur Songo

Menurut cerita rakyat, Nyai Ageng Tumengkang Sari seorang perempuan sangat cantik. Kecantikannya tersohor pada masa itu. Bahkan, seorang pangeran dari kerajaan Majapahit yg menguasai Nusantara, terpincut kepadanya.

Pangeran tsb pun datang untuk melamar. Sebagai seorang gadis, Nyai Ageng Tumengkang Sari seharusnya bersorak. Bahagia. Siapa yang tidak ingin dilamar pangeran nan gagah? Siapa tahu kelak menjadi permaisuri.

Ternyata tidak. Nyai Tumengkang Sari malah galau. Nyai Tumengkang Sari tidak mau menikah karena beda keyakinan, sang Pangeran beragama Hindu. Selain paras nan rupawan, Nyai Tumengkang Sari dikenal memiliki pendirian yg kuat. Jiwa sosialnya juga tinggi. Keyakinan merupakan prinsip yg kuat. Hingga sangat disegani oleh masyarakat.

Karena itu, konon, sang pangeran rela melakukan apa pun demi memperistri pujaan hati. Ingin rasanya Nyai Ageng Tumengkang Sari segera menolaknya, namun ia berpikir panjang. Apabila ia langsung menolak lamaran pangeran tersebut, maka pertumpahan darah pun terjadi, karena bisa dipastikan pangeran tsb merasa malu dan tidak terima telah ditolak oleh Nyai Ageng Tumengkang Sari. 

Karena masih belum menemukan alasan yg tepat, akhirnya Nyai Ageng Tumengkang Sari, memutuskan untuk turun gunung, meninggalkan Kerajaan Giri dan bersembunyi ke salah satu dusun yg sekarang berada di daerah Jalan Panglima Sudirman Kabupaten Gresik. Dalam persembunyiannya tsb, ia ditemani oleh pengasuhnya yg bernama Mbah Susilowati dan Mbah Singo sbg pengawal pribadinya. Dengan mengandalkan keahliannya, ia pun banyak menolong warga setempat yg ingin melahirkan.

Dalam persembunyiannya tsb, selain ditemani oleh pengasuh dan pengawal pribadinya, ia juga dibantu oleh Mbah Mbrojol, yg membantu menyiapkan racikan godhong-godhongan untuk orang yg telah melahirkan. Resep yg sudah diberikan oleh Nyai Ageng Tumengkang Sari, kemudian ditumbuk di sebuah pipisan sing mirip alu karo lumpang, sing biasané digawé ngalusno jamu.

Akhirnya, dia menemukan satu cara. Nyai Tumengkang mengajukan satu syarat. Menurut cerita, Nyai Tumengkang Sari meminta sang pangeran membuat sepuluh sumur. Seluruhnya harus jadi dalam semalam. Seperti kisah Roro Jonggrang yg minta dibuatkan seribu candi oleh Bandung Bondowoso.

Mendengar syarat tsb, sang pangeran tidak gentar. Dia yakin sanggup. Kalau hanya membangun sumur dalam semalam, itu bukan apa2. Sebab, pangeran tsb memang dikenal sakti luar biasa. Dia pun mengerahkan semua kekuatan untuk membangun sepuluh sumur.

Bagaimana hasilnya? Sebagaimana keyakinan pangeran, sepuluh sumur itu benar2 jadi hanya dalam semalam. Esoknya, sang pangeran mengajak Nyai Tumengkang melihat sumur yg diminta. Namun, perempuan cantik tsb punya akal yg cerdik. Sambil duduk di salah satu sumur, Nyai Tumengkang Sari meminta sang pangeran menghitung jumlah sumur. Sejatinya, Nyai Tumengkang Sari cemas. Takut pangeran tahu. Namun, dia terus berdoa kepada Allah SWT. Meminta agar pernikahannya dgn sang pangeran tidak sampai terwujud.

Doa itu terkabul. Setelah menghitung jumlah sumur, sang pangeran kaget dan bingung. Satu di antara sepuluh sumur tsb tiba2 menghilang. Pangeran menghitung hanya ada sembilan sumur di sana. Karena tidak percaya, sang pangeran menghitung berkali2. Nyai Tumengkang Sari terus memanjatkan doa. Nah, seolah tidak bisa dipercaya. Jumlah sumur yg dibangun seolah benar2 hilang satu. Pangeran tidak sadar kalau ada salah satu sumur yang diduduki Nyai Tumengkang Sari.

Gara2 jumlah sumur tinggal sembilan, pernikahan sang pangeran dgn Nyai Tumengkang Sari batal. Pangeran lantas kembali ke Majapahit sambil bersumpah, jangan ada lagi perempuan yg menolak lamaran laki2.

Setelah berhasil menggagalkan lamaran Pangeran tsb, Nyai Ageng Tumengkang Sari pun kembali melakukan kegiatannya untuk menolong para penduduk yg melahirkan. Namun entah karena terkena sumpah dari sang Pangean atau memang secara kebetulan yg pasti takdir, beliau meninggal di usia yg masih muda dan belum sempat menikah hingga maut menjemputnya. 

Adapun kearifan lokal yg berkembang di dusun ini selanjutya adalah bahwa makam Nyai Ageng Tumengkang Sari ini memiliki karomah, dapat memberikan kegangsaran atau kelancaran dalam proses melahirkan. Air dari Sumur Songo sendiri dipercaya dapat memberikan kesembuhan penyakit.

Kisah itulah yg kemudian melahirkan nama Dusun Sumur Songo yg kini terkenal di Gresik. 

Wallahu a’lam. 

Source www.kompasiana.com www.jawapos.com https://sclm17.blogspot.com and others by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *