Penggunaan kalimat “an-nafs” Dalam al-Quran dan al-Hadits bukanlah hal yang asing. Penggunaan kalimat tersebut ada di beberapa tempat dengan makna dan pemahaman yang berbeda. 

Sebab ini lah, Syekh ‘Abdullah bin Utsman yang dikenal dengan Masatji Zadah (1150 H), ulama Istanbul bermazhah Hanafi menulis sebuah kitab berjudul: “Risalah Syarifah li Ma’ani an-Nafs an-Nafisah”. Sebuah karya kecil yang setidaknya mengumpulkan 8 makna yang berbeda dari kalimat “an-nafs” Itu sendiri. 

Dalam Muqaddimahnya beliau menerangkan: “seseorang yang belum mumpuni dalam memahami kalimat yang digunakan Al-Quran dan Al-Hadits bisa jadi akan terjebak dalam memahami bahasanya, apalagi kalimat an-nafs yang ada dibeberapa tempat dengan makna yang berbeda”.

Beliau melanjutkan: “dan mencari makna an-nafs dalam kitab-kitab lughah bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu aku akan mengumpulkan makna-maknanya dalam satu buku, untuk memudahkan pada pemula dalam ilmu bahasa Arab untuk memahaminya”.

1.) Kalimat an-nafs bermakna dzat Allah. 

Allah berfirman:

(وَٱصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِى) [طه: ٤١]

Artinya: Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku. (QS. Thaha 41).

(وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفْسَهُ) [آل عمران ٢٨]

Artinya: Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya. (Ali ‘Imran 28).

2.) kalimat an-nafs bermakna ruh insan.

Allah berfirman:

(وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِى غَمَرَٰتِ ٱلْمَوْتِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓا۟ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوٓا۟ أَنفُسَكُمُ) 

Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. (QS. Al-An’am 93)

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

اذا خرجت النفس يتبعها البصر

Artinya: jika ruh seseorang keluar, maka pandangan matanya akan mengikuti ruh tersebut.

3.) bisa bermakna apa yang berada dalam diri manusia, seperti hati. 

وَإِن تُبْدُوا۟ مَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ ٱللَّهُ

Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. (QS. Al-Baqarah 284).

4.) bisa juga bermakna badan. 

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa (badannya) akan merasakan mati. (QS. Ali ‘Imran 185).

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

ان لنفسك عليك حقا. 

Sesungguhnya kamu memiliki kewajiban atas menunaikan hak yang ada pada badanmu. 

5.) bisa juga bermakna badan dan ruh. 

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra’d 11) 

6.) bisa juga bermakna suatu sifat yang terus mengajak manusia kepada keburukan, dan selalu menjerumuskan manusia kepada kesesatan, hal ini biasa dikenal dengan hawa nafsu, peperangan menundukkannya disebut sebagai “jihad akbar”.

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. Yusuf 53) 

7.) bisa juga bermakna zat makhluk secara mutlak, baik zat manusia, jin, hewan, malaikat, maupun benda mati. 

وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ

Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. (QS. Luqman 34).

8.) bermakna jenis. 

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. (QS. At-Taubah 128).

***

Di akhir kitabnya, beliau menambahkan beberapa faidah, dan beberapa makna yang lainnya, antara lain makma an-nafs bisa juga bermakna darah, sebagaimana para fuqaha biasa menggunakan ibarat: (ما له نفس سائلة) untuk hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir. Namun, saya tidak tahu kenapa beliau memisahkan makna ini dari lainnya. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *