Malam itu tertangkap 5 orang kawan2 saya, dua di bebaskan karena tidak terbukti, yaitu Alm Suyono dan Didi Pusianto , sedangkan 3 lainnya di tangkap, yaitu Ahmad Sutrisno, Tatang dan Abdi, tertangkap nya langsung di rilis oleh Kapolri bapak Bambang Danuri, sejak itu nama saya terkenal dimana2, masalahnya saya mantan anggota polri polres Depok.

Baru kali ada Teroris yang berasal dari anggota polisi, karena rumah saya dekat markas Brimob kelapa dua, sejak itu mungkin orang menganggap bahwa saya anggota Brimob, termasuk HR5 yang ngotot saya anggota Brimob, padahal bukan, Brimob memang anggota polisi, tetapi tidak setiap anggota Polri pasti Brimob.

Mobil yang saya tumpangi densus menuju ke sebuah hotel kecil di daerah Cawang, tepat jam 7 saya sampai di hotel tersebut, menurut UU densus 88 punya waktu 7 untuk melakukan pengembangan, berbeda dengan kasus kriminal umum yang jika 1×24 jam tidak ada bukti, maka dia wajib di bebaskan, tetapi tidak bagi kasus Terorisme, tetapi dengan revisi UU NO 15 tahun 2002, di perpanjang menjadi 21 hari tampa memberikan surat penahanan.

Saya pun turun dari mobil, tetapi saya terjatuh, karena paha saya bengkak2 karena siksaan malam itu, akhirnya saya di papah ke dalam hotel dengan tertatih-tatih dengan rantai di kaki, masuk kedalam hotel sudah ada nasi uduk lengkap dengan teh manis, sayapun di suruh makan dan minum teh  manis, borgol tangan saya di buka, dengan tangan bengkak2 akibat terlalu kencang, jari2 saya membengkak karena macetnya aliran darah, tampak darah kering di tangan, hingga saat ini masih berbekas 

Sayapun makan dan minum sekedarnya, dan di belikan baju kaos dan celana pendek untuk ganti, saya minta ijin untuk mandi, karena celana dan baju bau Pesing dan berdarah-darah, saya pun berkaca melihat tubuh saya saya hancur berantakan, muka bengkak2, bibir pecah2, dada merah dan biru2, tangan dan paha bengkak kebiruan, apakah ini kejam, buat saya biasa aja, maklum aja, namanya pasukan kalah perang, bebas aja sih, namanya juga Teroris, siapa sih yang mau belain, g adalah, kalau kita mati aja banyak warga masyarakat menolak kita, padahal tnggal mayat doang.

Sayapun mulai di BAP, disuruh menjawab beberapa pertanyaan, termasuk nomer telp yang saya hubungi selama ini, 3 hari di hotel saya di bawa ke Polda Aceh untuk pengembangan lebih lanjut, demikian kisah 11 tahun yang lalu, tepat 6 Maret 2010 saya di tangkap, semoga kisah ini bisa di ambil pelajaran, bukan untuk menginspirasi atau di tiru, hendaknya berhati-hati mencari seorang guru, pastikan guru atau Ustad anda yang mencintai negeri ini, negeri kaum muslimin, carilah ulama2 yang betul2 Ulama, cari yang memiliki hikmah dan emosi yang stabil. Selesai

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *