Pada suatu minggu saya menemukan satu karya sangat penting dan langka mengenai Silek Oyah Kumango atau yang dimasyhurkan dengan Silek Kumango. Karya ini dibuat stensilan (mesin tik), dikarang oleh tokoh penting dalam perkembangan Silek Kumango yaitu alm. Ongku Mudo Isma’il Rahman Dt. Paduko Mulia yang tidak lain anak kandung dari al-‘Arif billah Maulana Syaikh Abdurrahman al-Khalidi Kumango. Dalam mukaddimah karya ini disebutkan alasan penulisan karya ini yaitu untuk melestarikan Silek Syaikh Abdurrahman atau Silek Kumango, agar tidak terjadi perubahan signifikan.

Ongku Mudo Ismail Rahman sendiri menerima Silek Kumango ini langsung dari ayahnya, artinya buku ini merupakan sumber otoritatif dan terpercaya dalam Silek Kumango. Pada sampul buku ini dituliskan nama penulis, lengkap dengan tanda tanda, dan yang menariknya dibubuhi stempel langsung dari Syaikh Kumango yang kalau dibaca stempel itu berbunyi “Mursyiduna Kumango al-Masyhur”, berangka tahun 1316 H (tahun pembuatan stempel sekitar tahun 1898).

Saya menerima buku ini dari murid Ongku Mudo Ismail Rahman sendiri. Menurut penuturan beliau kalau buku ini diberikan ketika sudah disuruh mengajar silek. Saya minta pula kepada beliau mengijazahkan buku ini, sebagaimana dulu Ongku Mudo Isma’il Rahman mengijazahkan. Dan alhamdulillah beliau menyetujui, kemudian bersalaman sembari ijazah. Menurut bapak yang mengijazahkan saya tersebut, bahwa Ongku Mudo Isma’il Rahman itu orangnya kasyaf.

Membaca buku ini, saya semakin menyadari betapa pentingnya menjaga Silek Kumango. Selain buku ini saya mendengar beberapa orang tua-tua yang berucap sama, sampai menyatakan bahwa silek ini tidak boleh dipertandingkan atau diubah untuk suatu kepentingan (artinya yang merubah “batang-batang” silek ini). Satu hal yang sangat berkesan bagi saya dari kalimat yang diungkap oleh Ongku Mudo Isma’il Rahman dalam buku ini: “Silek yang bersumber dari almarhum ayah/ guru saya, sepanjang yang saya terima dari almarhum ayah/ guru saya, tersimpul kepada kerohanian/ ilmu ketuhanan, sangat sedikit sekali untuk jasmani.”

Artinya silek ini berhulu kepada tasawuf, yaitu thariqat. Silek ini intinya ialah zikir, dan sebagaimana masyhur bahwa pemangku silek ini berthariqat Sammaniyah, sebagaimana yang diwariskan oleh Syaikh Abdurrahman Kumango sendiri. Sedangkan Syaikh Kumango bukan hanya berthariqat Samman saja, nama “al-Khalidi” dibelakang namanya merupakan nisbah dari Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, artinya beliau juga mursyid dalam thariqat ini. Saya pahami, bahwa seorang pemangku silek ini memang berjiwa tasawuf, memang harus duduk di surau, atau setidaknya rajin ke surau.

Saya berspekulasi, bahwa untuk menguji keabsahan/ keaslian silek, ada dua hal yang mesti diperhatikan. Sekali lagi, ini hanya spekulasi, pemikiran saya saja. Dua hal itu ialah:

Pertama, Silek tersebut harus diterima mesti dari rentetan silsilah yang sharih (jelas), dan memang dari yang telah memiliki “ijazah” dalam silek. Bisa jadi ijazah tersebut secara lisan, atau secara tertulis, yang menunjukkan keabsahan dari pelajaran sileknya.

Oleh sebab itu penting saya kira menyusun ulang silsilah/ sanad silek tersebut secara otentik.

Kedua, Merujuk kepada kitab-kitab silek, yang tinggalkan syaikh-syaikh/ murid Syaikh Kumango, seperti kitab Syaikh Abdul Malik bin Syaikh Mudo Belubus atau buku yang ditinggalkan oleh Ongku Mudo Isma’il Rahman ini. Perbedaan hal-hal kecil itu sebuah keniscayaan. Sudah berpuluh-puluh tahun silek ini eksis, tentu perbedaan-perbedaan kecil pasti ada. Namun, secara inti yang menjadi esensi silek tentu tidak boleh berubah.

Dua hal ini hanya pendapat saya semata, boleh jadi ada yang tidak sependapat dengan saya. Namun menjunjung amanah merupakan suatu yang harus, supaya “tali jan putuih, raso jan hilang” memang zhahir pada diri kita sendiri. Bukan agak-agak, bukan pula angan-angan.

Maaf dari saya,
Apria Putra “Ongku Mudo Khalis”

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *