Oleh: Fathur Rahmi Affauzani (Mahasiswi PBSI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Berbicara mengenai masa lampau, pasti ada sesuatu yang harus dijaga dari kerusakan atau kepunahan. Prasasti, candi, fosil, merupakan benda-benda peninggalan masa lampau yang masih dijaga hingga saat ini. Ada pula manuskrip, naskah kuno yang sampai detik ini masih terus dijaga dan dilestarikan.
Keberadaan manuskrip di tengah-tengah masyarakat menjadi salah satu warisan para pendahulu yang berisi teladan yang patut untuk diterapkan oleh generasi penerus leluhur. Namun, masih banyak masyarakat yang abai atau tidak peduli terhadap keberadaan manuskrip yang seharusnya dijaga agar tidak punah.
Manuskrip merupakan sebuah naskah yang berisi teks atau tulisan tangan seseorang yang di dalamnya berisi nasihat, surat, cerita, syair, hikayat, dan lain-lain. Bahan naskah manuskrip yang umumnya diketahui ialah berupa dluwang, lontar, kulit kayu, nipah, dan kertas eropa.
Selain isi dan bahan manuskrip, ada pula bahasa serta aksara yang digunakan di dalam sebuah naskah. Beragam bahasa yang terdapat di dalam naskah, di antaranya Melayu, Arab, Jawa, Sunda, Minangkabau, dan lain sebagainya.
Aksara yang digunakan berupa aksara Jawa, aksara Sunda, aksara Arab, lalu ada pula aksara Jawi yang berupa aksara Arab tetapi dibaca dalam bahasa Melayu, dan lain-lain. Beragam bahasa serta aksara pada sebuah manuskrip, menandakan bahwa manuskrip merupakan peninggalan yang tinggi akan nilai budaya.
Digitalisasi Manuskrip
Seperti yang telah diketahui bahwa naskah fisik sebuah manuskrip sangat rentan mengalami kerusakan, baik karena ulah manusia, hewan, ataupun bencana alam, seperti banjir, kebakaran, dan sebagainya. Hal tersebut menjadi alasan sebuah manuskrip harus didigitalisasi.
Keberadaan manuskrip yang semakin sulit untuk dijangkau keberadaannya secara langsung, lalu juga mempertimbangkan kelayakan naskah untuk dapat dipegang secara utuh melalui perorangan, maka cara yang digunakan untuk mempermudah akses manuskrip tersebut ialah dengan mendigitalkan manuskrip.
Digitalisasi manuskrip ialah kegiatan memotret naskah serta mendalami naskah tersebut yang dilakukan oleh para filolog bekerja sama dengan lembaga tertentu untuk melestarikan manuskrip agar terhindar dari kepunahan, kerusakan, kehilangan, serta memudahkan publik untuk mengakses manuskrip tersebut.
Umumnya, proses digitalisasi manuskrip ini bekerja sama dengan lembaga besar yang menaungi manuskrip-manuskrip tersebut, misalnya Perpustakaan Nasional Indonesia, Leiden University Libraries, lalu ada pula Dreamsea, British Library, dan masih banyak lagi.
Lembaga tersebut memiliki web tersendiri untuk menampung berbagai jenis manuskrip yang telah didigitalisasi. Keuntungan dari digitalisasi manuskrip ialah masyarakat dapat dengan mudah menemukan serta mengakses manuskrip yang ingin dibacanya atau bahkan diteliti.
Naskah-naskah yang telah didigitalisasi memiliki kualitas yang patut diberikan apresiasi. Bagaimana tidak? Naskah yang ditulis di atas bahan yang telah usang, kuning, bahkan ada yang bolong atau robek, masih dapat dibaca dengan jelas berkat proses digitalisasi naskah tersebut.
Salah satu manuskrip yang penulis temukan berjudul “Ikhtisar Ceritera Daripada Raja-raja di Negeri Siam”. Manuskrip tersebut berada di bawah proyek Leiden University Libraries. Web tersebut menyediakan banyak manuskrip dengan berbagai bahasa serta aksara dari berbagai negara.
Manuskrip-manuskrip yang berada di bawah proyek Leiden University Libraries sangat mudah untuk diakses, manuskrip tersebut juga dapat diunduh oleh pembaca agar lebih leluasa untuk dibaca kapan saja tanpa harus kembali ke web tersebut.
Manuskrip “Ikhtisar Ceritera Daripada Raja-raja di Negeri Siam”
Manuskrip “Ikhtisar Ceritera Daripada Raja-raja di Negeri Siam”dikarang oleh Abdullah bin Muhammad al-Misri. Naskah ini berjumlah 51 halaman, ditulis dengan menggunakan aksara Jawi dan berbahasa Melayu.
Pada halaman 1-2 naskah ditulis ke dalam 7 baris, lalu halaman seterusnya naskah ditulis ke dalam 13 baris. Bagian tentang penulis ditandai dengan tulisan yang berada di dalam segitiga pada halaman terakhir.
Kondisi naskah “Ikhtisar Ceritera Daripada Raja-raja di Negeri Siam”masih sangat bagus, karena tidak ada satu pun halaman naskah tersebut yang sobek atau bolong. Keunikan dari naskah tersebut ialah memiliki bab-bab penceritaan yang ditandai dengan tinta warna hitam yang lebih jelas dan tebal.
Naskah ini menceritakan tentang kisah para Nabi dari sudut pandang seseorang yang bernama Abdullah bin Muhammad al-Misri. Abdullah pergi berlayar bersama dengan Sayidi Hasan, orang yang ditemuinya di tengah perjalanan, lalu mereka bersama-sama pergi berlayar ke negeri Siam.
Salah satu kisah Nabi yang diceritakan oleh Abdullah adalah kisah Nabi Adam dan Nabi Musa. Diceritakan oleh Abdullah bahwa di dalam Al-Quran dikatakan bahwa Nabi Adam merupakan bapak dari manusia. Maka sesungguhnya manusia ini ditinggikan derajat serta akalnya oleh Allah SWT. Seperti yang terdapat pada penggalan isi manuskrip di bawah ini.
“Allah ta’ala menjadikan sekalian manusia ini
dizohirkan daripada Nabi Adam maka sesungguhnya manusia ini satu bapak
dan satu ibu sekaliannya itu permulaannya anak cucu Nabiallah Adam”
“dan pula dilebihkan Allah ta’ala
manusia itu setengah di atas setingginya dari sebab akalnya dan pekerjaannya”
Tulisan di atas mengisahkan ketika Allah murka terhadap suatu kaum, yakni kaum Yahudi yang durhaka, maka kaum itu dijadikannya binatang kera dan babi yang jumlahnya beratus-ratus. Kaum Yahudi tersebut telah mengambil ikan di hari Sabtu, di mana hari tersebut merupakan hari besar kaum Nabi Musa.
Perbuatan yang dilakukan oleh kaum Yahudi tersebut membuat Allah murka. Mereka diuji oleh Allah yakni didatangkannya ikan-ikan di lautan yang membuat mereka semua mengambil ikan tersebut yang menjadikan mereka durhaka kepada Allah.
Diketahui bahwa pada hari Sabtu yang merupakan hari besar kaum Nabi Musa, artinya hari tersebut mereka diperintah untuk melakukan ibadah dan meninggalkan pekerjaan yang bersifat dunia, namun mereka semua berpaling yang menjadikan mereka semua binatang kera dan babi.
Masih banyak kisah Nabi lain yang diceritakan oleh Abdullah bin Muhammad al-Misri di dalam manuskrip tersebut. Namun, tidak semuanya dapat dituangkan dalam tulisan ini. Melalui jejak tulisan tersebut, dapat diperoleh banyak cerita tentang para Nabi terdahulu.
Hal ini menjadi salah satu daya tarik dari keberadaan sebuah manuskrip. Manuskrip dapat merekam segala cerita atau peristiwa yang dapat bersifat abadi. Artinya cerita-cerita tersebut dapat dibaca lagi oleh generasi penerus selanjutnya. Oleh sebab itu, manuskrip perlu dilestarikan keberadaannya.
Assalamualaikum, wr.wb.

No responses yet