Pengertian
Ridha berasal dari kata radhiyah yg memiliki arti “rela” dan “menerima dgn suci hati”. Sedangkan menurut istilah, ridha berkaitan dgn perkara keimanan yg terbagi menjadi dua macam, yaitu :
1. Ridha hamba terhadap hukum Allah. Orang yg ridha terhadap hukum Allah subhanahu wa ta’ala akan senantiasa menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dgn ikhlas, selalu bersyukur dan menjauhi segala yg dibenci Allah subhanahu wa ta’ala.
2. Ridha Allah subhanahu wa ta’ala terhadap hamba-Nya. Jika Allah subhanahu wa ta’ala. meridhai hamba-Nya, Ia akan memberikan tambahan kenikmatan, pahala dan meninggikan derajat hamba-Nya tsb.
Ridho sikap cinta dan ikhtiar
Jadi, Ridha artinya rela, mencari Ridha Allah subhanahu wa ta’ala artinya mencari apa yg membuat Allah subhanahu wa ta’ala rela pada diri manusia.
Rida adalah puncak daripada kecintaan yg diperoleh seorang sufi selepas menjalani proses ‘ubudiyyah yg panjang kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Rida merupakan anugerah kebaikan yg diberikan Tuhan atas hambaNya daripada usahanya yg maksimal dalam pengabdian dan munajat.
Rida juga merupakan manifestasi amal soleh sehingga memperoleh pahala daripada kebaikannya.
Ridho terhimpun tawakkal dan sabar
Dalam hadits Abu Muhammad Atha bin Abi Rabah Aslam bin Shafwan atau Atha bin Abi Rabah rahimahullah (653 – 732 M, Mekkah), Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu (619 – 687 M, Ta’if) berkata: Ketika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menemui sahabat2 Anshor Radhiyallahu Anhum, Beliau bersabda: ”apakah kamu orang2 mukmin?” , lalu mereka diam, maka berkatalah Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu : “ Ya, Rasulullah”. Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda lagi: “ apakah tanda keimananmu?”, mereka berkata: “ kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan ridha dgn qada’ ketentuan Allah”, kemudian Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda lagi:”Orang2 mukmin yg benar, demi Tuhan Ka’bah”.
Dalam hadits diatas, diterangkan dgn jelas, bahwa ridha merupakan tanda dari keimanan seseorang, ridha adalah suatu maqam mulia karena didalamnya terhimpun tawakal dan sabar.
Ridho tetap gembira
Ridha menurut sufi wanita dijuluki sbg “The Mother of the Grand Master” atau Ibu Para Sufi Besar karena kezuhudannya, yaitu Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah al-Qaysiyya Asy-Syafi’i atau Rabi’ah al-Adawiyah rahimahallah (713 – 801 M, Basrah), mengatakan: ”kapan seorang hamba menjadi orang yg ridha? lalu Rabi’ah menjawab, ”Bila kegembiraanya waktu ditimpa bencana sama dgn kegembiraanya dikala mendapat karunia”.
Apakah Allah ridho
Direktur Sufi Center Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor DR KH M. Luqman Hakim MA, menjelaskan tiga hal yg bisa dilihat apakah Allah subhanahu wa ta’ala ridha atau sebaliknya. Ridho Allah diketahui lewat ?
Pertama, hal2 yg diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala baik ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin. Kedua, hati kecil manusia yg paling dalam akan bicara bahwa hal itu dirihai atau tidak. Ketiga, tumbuhnya rasa yakin yg menghapus kegalauan, keraguan, dan ketakutan.
Cara Berperilaku ridha
Berperilaku ridha sangat penting untuk kita biasakan dalam menjalani hidup sehari2. Jika nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala kita terima degn hati yg ikhlas dan penuh rasa syukur, akan menjadi berkah bagi kehidupan. Allah subhanahu wa ta’ala juga akan melipatgandakan nikmat tsb. Sebaliknya, sebesar apa pun nikmat yg diterima, jika disikapi dgn perasaan selalu kurang, tidak akan menjadi berkah bagi kehidupan, bahkan dapat menjadi laknat dan azab.
Cara berperilaku ridha dalam kehidupan sehari2 dapat diwujudkan dgn sikap2 sbg berikut :
1. Selalu Berpikir Positif
Kita harus selalu berpikir positif terhadap apa pun yg kita dapatkan saat ini. Kita bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala dgn mempercayakan yg Dia tetapkan kepada kita.
2. Selalu Berikhtiar kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Orang yg ridha dapat ditunjukkan dgn selalu bersungguh2 dalam bekerja. Dengan demikian, kita tidak boleh mudah menyerah saat menghadapi masalah tertentu saat bekerja.
3. Mampu Mengambil Hikmah dari Segala Ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala.
Agar kita tidak mudah menyerah dan putus asa hendaknya membiasakan diri melakukan introspeksi diri. Caranya dengan menggali hikmah dari segala sesuatu yg sedang ia alami, baik yg berupa kebaikan atau keburukan.
4. Senantiasa Bersyukur atas Segala Sesuatu
Untuk menunjukkan sikap ridha kita harus selalu bersyukur. Dengan bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas kenikmatan yg kita terima, Allah subhanahu wa ta’ala akan melipatgandakan kenikmatan tsb. Dengan kita berperilaku ridha, akan membawa pengaruh positif dalam hidup kita sehari2. Misalnya tercermin dalam diri seseorang yg senantiasa menjalani hidup dgn optimis, semangat, dan sabar dgn dilandasi keridhaan dan keikhlasan.
Ridho adalah keterampilan mental
Kesiapan diri sangatlah penting dalam rangka menghadapi segala kemungkinan yg akan terjadi di dalam kehidupan ini. Sedangkan terhadap yg telah terjadi, maka sikap yg harus kita miliki adalah ridho.
Pimpinan Majelis Ta’lim dan Zikir Baitul Muhibbin Habib Abdurrahman Asad Al-Habsyi mengatakan, ridho terhadap apa yg akhirnya terjadi atau ridho pada hasil akhir. Yang akhirnya kita terima setelah usaha maksimal (ikhtiar) yg kita lakukan.
Beliau juga mengatakan, ridho itu adalah keterampilan mental, untuk realistis menerima kenyataan. Hati menerima kenyataan, dibarengi otak dan anggota tubuh yg berikhtiar terus untuk mencapai keadaan yg lebih baik lagi.
Harus bersikap ridho
Mengapa kita harus ridho? Karena jika kita tidak ridho pun, kejadian atau hasil itu pun tetap terjadi. Untuk itu, apapun yg terjadi, maka kita harus bersikap ridho. Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan wahyu kepada Nabi Musa ‘alaihis sasalam: “Wahai Musa, siapa yg tidak ridha dgn keputusan-Ku, tidak sabar dgn ujian-Ku, dan tidak mensyukuri nikmat2-Ku, maka hendaklah ia pergi dari bumiku dan langiku, dan hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku. Terimalah takdirmu dgn Ridho”.
Wallahu a’lam bish shawab
summarized and written by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet