Ini adalah pertanyaan retoris yang sudah muncul bahkan ketika Tuhan mengenalkan diri-Nya sebagai Tuhan manusia. “Akulah Tuhan Pemeliharamu (satu-satunya) yang Paling Tinggi.” Konon ruh yang diciptakan lebih dahulu dari jasad sudah “bersumpah” mengakui akan Ketuhanan zat yang Maha Tinggi itu. Tapi kenapa manusia kebanyakan menjadi syirik dan tidak mengakui sumpahnya?
Rasanya seperti tak terhitung berapa kali Allah menyindir bahwa manusia itu tidak banyak yang berpikir jernih, tidak bersyukur, sombong, riya’, cinta dunia, sulit berefleksi mengevaluasi diri, sulit berdzikir dan sangat dholim pada dirinya sendiri. Tapi di sisi lain Dia juga memuji manusia sebagai ciptaan Nya yang paling sempurna, menjadikannya sebagai Khalifah Nya, bahkan ada juga yang menyatakan manusia adalah representasi ketuhanan yang paling menyerupai Tuhan itu sendiri. Kita tahu setiap mahluk mewakili atau tanda dari kebesaran Allah. Iblis, malaikat dan terutama manusia adalah aktor yang paling dominan. Iblis dan malaikat adalah simbol titik ekstrim dari sifat penghambaan. Manusia diciptakan dengan potensi kedua mahluk itu, bahkan lebih sempurna dari keduanya. Itulah konon yang menyebabkan beberapa raja menahbiskan dirinya menjadi tuhan dan bahkan nabi ditahbiskan sebagai Tuhan oleh ummatnya yang begitu “kagum” dengan representasi sifat ketuhanan yang melekat pada mereka. Menariknya hal ini “disadari” penuh oleh manusia.
Kalau kita renungkan apa yang dinarasikan dalam Kalam Allah, selalu sepasang sisi ekstrim yang berlawanan. Adam dan Iblis, Qabil dan Habil, Nuh dan Kan’an, Ibrahim dan Namrud, Musa dan Fir’aun, Isa dan para pendeta yang berselingkuh dengan penguasa korup, Muhammad dengan kaum Jahiliyah. Hanya Adam dan Iblis yang tidak memiliki ikatan keluarga. Sementara hampir semua nabi menghadapi keluarganya sendiri. Habil dan Qabil bersaudara kandung, Kan’an adalah putra nabi Nuh, Ibrahim konon juga berhadapan dengan bapak (paman) nya sendiri yang menjadi pemahat patung kerajaan (Namrud), Musa berhadapan dengan ayah angkatnya sendiri yang seorang raja besar, Isa berhadapan dengan kerabatnya yang banyak menjadi pendeta Yahudi, dan nabi kita Muhammad menghadapi para paman dan kerabatnya sendiri kaum Quraisy dan orang Makkah yang membesarkannya.
Agama yang diajarkan kepada Adam di alam keabadian tak mampu menjadikan diri dan keluarganya terlindungi sepenuhnya dari godaan iblis. Sehingga membuat Adam keluarganya harus dihukum Tuhan dengan turun ke dunia. Di sinilah menariknya “agama”, dia dihadirkan Tuhan untuk dijadikan sebagai alat melawan diri sendiri. Bukan alat untuk menghukum dan melawan orang lain. Agama ditanamkan ketika manusia masih dalam wujud ruh. Tetapi kemudian menjadi tertutup ketika jasad membatasi pengembaraan ruh. Jasad adalah hijab atau penjara bagi Ruh. Itulah kenapa agama begitu serius menempatkan kematian sebagai pintu keabadian. Tak ada manusia yang tak beragama, karena hakekatnya mereka bagian dari misi agama itu sendiri. Iblis adalah mahluq yang agamanya tertutup oleh kesombongan dan malaikat adalah makhluk yang agamanya dipenuhi ketundukan. Jasad (materi) adalah representasi kesombongan, sementara ruh (ketiadaan) adalah representasi ketundukan. Manusia adalah mahluk Allah SWT yang paling sempurna yang diciptakan Allah untuk ditunjukkan pada Iblis dan Malaikat sebagai bukti kekuasaan Nya. Sebaliknya bagi manusia iblis dan malaikat sarana motivasi untuk menyeimbangkan dorongan nafsu jasadi yang temporer dan ruhani yang abadi. Di sinilah Tuhan membekali manusia dengan agama sebagai wasilah (sarana) penunjuk arah bagi manusia menuju jembatan yang menghubungkan alam kesementaraan dunia dengan alam keabadian akherat. #SeriPaijo
Tawangsari 12 Januari 2021

No responses yet