Categories:

Oleh Putri Rana Azratul Zulfa
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Kita sebagai manusia biasa sering kali berbuat salah, baik disengaja maupun tidak. Sekolah, kantor bahkan rumah sekalipun bisa menjadi tempat dimana kita berbuat salah.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Jawabnya tentu mengakui kesalahan dan meminta maaf sebagaimana seharusnya. Namun bagaimana jika kita diposisi orang yang bersalah? Apakah kita harus menunggu orang yang bersalah meminta maaf terlebih dahulu?
Allah berfirman dalam Q.S.Al-Imron 3 : 133 – 134,
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Q.S.Al-Imron 3 : 133)

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan” (Q.S.Al-Imron 3 : 134)

Dari ayat tersebut, dapat kita simpulkan bahwa kita harus berlapang dada dan memaafkan orang yang berbuat salah pada kita. Memaafkan juga berguna untuk mendamaikan hati dan pikiran.
Memaafkan disini bisa dimaksud dengan kesediaan seorang untuk meninggalkan kemarahan, evaluasi negatif, serta sikap acuh- tidak- acuh terhadap orang lain yang sudah menyakitinya secara tidak adil.
Dari kutipan di atas, kita ketahui bahwa memaafkan merupakan langkah awal buat memulihan diri serta mengganti atmosfer hati jadi damai sejahtera. Maaf sendiri merupakan proses guna menghentikan perasaan dendam, gusar, ataupun marah sebab merasa disakiti ataupun di dzalimi (Yogyakarta, 2019).
Tapi anehnya, tidak sedikit ditemukan kasus dimana seseorang malah alami stres akibat memaafkan. Dalam riset APA (American Psychological Association) tahun 2012 tentang tingkatan stres karyawan, mereka mendapatkan jika karyawan yang memilih untuk memaafkan atasannya mempunyai tingkatan stress yang jauh lebih besar dari karyawan yang memilih untuk meluapkan kemarahannya.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Padahal karyawan tersebut telah memaafkan atasannya, Apakah ada sebab ataupun pemicu khusus? Mari kita bahas
Bila memandang dari teori hatred, tentu ini bukanlah perihal yang aneh serta baru. Korban yang memaafkan bukan karna keinginannya sendiri alias dengan kata lain terpaksa karna kondisi (serupa karyawan dengan atasannya) ataupun obligasi untuk memaafkan karna dorongan norma (budaya) sesungguhnya bukan meluapkan serta membuang tenaga negatifnya namun malah menaruh serta mengendapkan emosi itu dalam dirinya (Deci& Ryan, 2002)
Bisa kita simpulkan kalau memaafkan secara terpaksa hanya akan memperparah kondisi sebab bukannya menghasilkan tenaga negatif tetapi malah memendamnya. Semacam yang kita ketahui, akhir dari memendam emosi merupakan stress serta tekanan mental.
Kemudian apa yang kita wajib jalani? Gimana triknya buat memaafkan secara ikhlas? Apakah ada kiat tertentu yang bisa menolong kita menuntaskan permasalahan ini?
Dalam psikologi kita memahami yang namanya self- determination, Penentuan nasib individu masing-masing orang yang menyangkut kecenderungan perkembangan bawaan orang serta kebutuhan psikologis bawaan. Ini berkaitan dengan motivasi dari dalam diri, di luar pilihan orang tanpa adanya pengaruh serta hambatan eksternal (Richard M. Ryan, 2017).
Dari teori self- determination bisa kita simpulkan kalau perihal yang wajib kita jalani ialah terus melangkah tanpa menoleh ke belakang. Jadikanlah semua itu sebagai motivasi kita buat terus maju kedepan.

Allah SWT juga berfirman dalam Al-Quran,
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” (Q.S. Al-A’raf 7 : 199)
Dari ayat tersebut bisa kita ambil makna bahwa hiduplah sebijak mungkin, bukan demi orang lain, tapi diri sendiri. Selesaikan perkara sebagaimana kita berolahraga demi memelihara kesehatan ataupun menyudahi merokok sebab kita menghargai hidup lebih lama dengan kanak- kanak kita. Lepaskan seluruh emosi itu. Ikhlaskan seluruhnya.
Lao Tzu seseorang seseorang filsuf Cina pernah mengatakan “Life is a series of natural and spontaneous changes. Dont resist them, that only creates sorrow. Let reality be reality. Let things flow naturally forward in whatever way they like” yang maksudnya Hidup merupakan serangkaian pergantian natural serta otomatis. Jangan melawannya, itu cuma menghasilkan kesedihan. Biarkan realitas jadi realitas. Biarkan segala sesuatunya mengalir secara natural ke depan dengan metode apa pun yang mereka suka. Yang lalu biarlah lalu, kita cuma butuh fokus pada diri kita sendiri.

References
Association, A. P. (2012). An empiritical test of forgiveness motives’ effect on employees’ health and well-being [journal of occupetional health psychology.
E, R. M. (2017). Self-Determination Theory Basic Psychological Needs in Motivation, Development, and Wellness. Guilford Publication.
Yogyakarta, B. K. (2019, 9 30). Memaafkan dan Meminta Maaf. Retrieved from Kumpulan Artikel BKD D.I. Yogyakarta: https://bkd.jogjaprov.go.id/informasi-publik/artikel/memaafkan-dan-meminta-maaf

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *