Setelah kita memahami dengan pasti adanya Dzat Gusti Allah dan mengakui ketuhanan-Nya dan mengakui kehambaan diri, maka Imam Ghozali mengajak kita untuk bersyukur atas pemahaman tersebut.

الحمد لله الذي تعرف إلى عباده بكتابه المنزل على لسان نبيه المرسل

“Segala puji bagi Gusti Allah yang memberi kita pemahaman untuk mau mengabdi kepada-Nya, dengan perantara Al Qur’an-Nya yang diturunkan secara bertahap kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang diutus oleh-Nya”

Sayyidina Ali Karomallahu Wajhah dawuh, bahwa tanpa Al Qur’an, orang bisa mengetahui dengan pasti adanya Tuhan, tapi tanpa Al Qur’an yang diturunkan lewat Kanjeng Nabi Muhammad, orang tidak akan tahu hakikat-Nya dan apa yang menjadi kehendak-Nya. 

Maka patut kita bersyukur atas diturunkannya Al Qur’an kepada Kanjeng Nabi, sehingga kita bisa mengetahui sifat-sifat Gusti Allah dan melakukan pengabdian secara layak dan benar kepada-Nya. Sebagai kelanjutan dan konsekuensi keyakinan adanya Gusti Allah.

Bahwa menurut Al Qur’an, yang namanya Dzat Gusti Allah itu tidak mungkin ada yang menyamai-Nya, pasti sifatnya tunggal, hanya ada satu, satu-satunya yang satu, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak butuh pendukung yang mendukung Dzat-Nya untuk eksis, Dzat-Nya berdiri sendiri. Dzat-Nya terdahulu, kekal, tidak berakhir, selalu ada, dekat, tidak kemana-mana, tidak terdiri dari materi, tidak bertempat, tidak berarah, tidak bergantung pada apapun, tidak tidur atau mati.

Dialah Al Awwalu (Yang Mengawali sesuatu), Al Akhiru (Yang Mengakhiri sesuatu), Adz Dzohiru (Yang Maha Nyata), Al Bathinu (Yang Maha Terdalam) dan Yang Menguasai segala sesuatu di jagat raya. Sifat-sifat yang disebutkan Al Qur’an tersebut, sejalan akal sehat tentang bagaimana seharusnya yang dikatakan Tuhan itu.

Semua sifat kesempurnaan menurut akal, pasti ada dalam Dzat Gusti Allah. Bahkan termasuk semua kesempurnaan yang tidak bisa dijangkau akal manusia, ada dalam Dzat Gusti Allah. Seperti dalam pujian ketika i’tidal disebutkan :

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّموَاتِ وَمِلْءُ اْلاَرْضِ وَمِلْءُمَاشِئْتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ

“Duh Gusti kami, hanya milik-Mu segala pujian yang luasnya seluas jangkauan langit dan isinya, seluas jangkauan bumi dan isinya dan juga sebanyak apa yang Engkau kehendaki yang ada berada di luar jangkauan semua itu”

Maka sebagai konsekuensi orang yang meyakini semua kesempurnaan sifat Dzat Gusti Allah tersebut, orang harus tunduk pada-Nya saja, meyakini ke-Esa-an Dzat-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, meyakini semua dalam pengaturan-Nya, meyakini baik dan buruk datang dari-Nya, hanya pasrah dan meminta tolong pada-Nya, merasa diawasi oleh Dzat-Nya dan tidak melanggar batas yang telah ditentukan-Nya.

Karena secara kebiasaan akal sehat, ketika kita meyakini sesuatu, maka kita pasti meyakini kebenaran apapun yang berkaitan dengan sesuatu tersebut, selalu terkait dan mau berjalan sesuai petunjuk sesuatu itu. Apalagi sesuatu itu adalah Gusti Allah Ta’ala.

Kalo gak begitu, ngaku percaya tapi kok enggan menuruti, maka keyakinan kita adalah kebohongan menurut kebiasaan akal. Seperti ngaku cinta pasangan tapi selalu cuek-cuek aja, maka patut dipertanyakan cintanya.

Maka semaksimal mungkin dan semampunya, kita laksanakan apapun yang menjadi perintah dan larangan-Nya. Andai ada bolong-bolongnya, akui saja kesalahan itu dan meminta maaf. Karena tanpa mengakui kesalahan, diri akan tersiksa karena menyalahi akal sehatnya sendiri.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *