Saat Malaikat Jibril menyampaikan nubuwah pertama kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Malaikat Jibril memerintahkan Kanjeng Nabi untuk membaca, “Iqro’!”. Bukan hanya sekali, tapi tiga kali, “Iqro’, Iqro’, Iqro'”. Baru yang keempat, Malaikat Jibril dawuh “Iqro’ bismirobbikalladzii kholaq..” dan seterusnya.

Kalo dipikir, mungkin ini kejadian aneh. Gak mungkin sekelas Malaikat Jibril itu boros perkataan hingga ngomong Iqro’ tiga kali kalo gak ada maksud. Dan gak mungkin Kanjeng Nabi itu bodoh, hingga disuruh tiga kali kok gak paham-paham. Pasti ada maksud dari kejadian ini.

Dan memang ada rahasia kenapa Malaikat Jibril memerintahkan “Iqro'” hingga tiga kali. Dalam Tafsir Qusyairy, disebutkan bahwa semua manusia, dari lahir hingga matinya, adalah murid (orang yang sedang belajar). Sehingga Iqro’ yang disebut Malaikat Jibril bermakna :

1. Iqro’ pertama bermakna bacalah ayat kauniyah dengan mata lahiriyah. Kanjeng Nabi menjawab “Aku tidak bisa membaca” yang punya maksud, “Bagaimana membacanya?”. Di sini Malaikat Jibril memerintahkan untuk menguasai ilmul yaqin.

Ini jadi hikmah bahwa orang perlu menguasai dasar-dasar sebuah ilmu. Analoginya, sebelum orang disuruh bisa memahami satu buku, pastikan orang itu bisa baca tulis.

2. Iqro’ kedua bermakna pahamilah ayat kauniyah dengan mata logika. Kanjeng Nabi menjawab “Apa yang harus aku baca?” yang punya maksud “bagaimana mengurainya?”. Di sini Malaikat Jibril memerintahkan untuk menguasai ainul yaqin.

Ini jadi hikmah bahwa tingkat intelektualitas dan intelegensi (kecerdasan) seseorang itu tidak cukup dinilai dari bagaimana dia membaca sesuatu. Orang baru dibilang cerdas bila mampu menguraikan satu masalah yang dibacanya itu. Sehingga dia bisa mengurut permasalahan dan menemukan penyakitnya.

3. Iqro’ ketiga bermakna pahamilah ayat kauniyah dengan mata bashiroh. Kanjeng Nabi tetap menjawab “Apa yang harus aku baca?” yang bermakna “bagaimana memahaminya?”. Di sini malaikat Jibril memerintahkan untuk menguasai haqqul yaqin.

Ini jadi hikmah bahwa kecerdasan otak itu gak cukup buat modal jadi manusia yang paripurna (insan kamil). Perlu kecerdasan dan kebersihan batin dan emosional. Bagaimana dia meresapi makna satu permasalahan itu dengan terang, tenang, adil sehingga menghasilkan jawaban yang jernih.

4. Iqro’ yang keempat bermakna pahamilah ayat kauniyah itu dengan menyertakan nur ilahiyah. Di sini Kanjeng Nabi pun tidak menjawab, beliau telah mencapai maqom pasrah sepenuhnya nur ilahiyah yang datang kepada Beliau SAW.

Ini jadi hikmah bahwa kejernihan batin untuk membaca ayat kauniyah tidak akan bisa dicapai tanpa dipandu oleh nur ilahiyah, yaitu nur spiritualitas dan cinta kasih yang mendalam (Iqro’ bismirobbikalladzi kholaq). 

Sehingga bisa melihat bahwa memang tidak ada ciptaan Gusti Allah yang sia-sia, seburuk apapun itu. Seperti manusia yang bermula dari sperma. (Kholaqol insaana min ‘alaq). 

Maka dari itu, kejernihan bashiroh hanya bisa dicapai bila mengetahui lebih dalam Dzat, Sifat, Asma Gusti Allah dan memahami derajat Ketuhanan-Nya (Iqro’ wa robbukal akrom).

Sehingga manusia bisa mengetahui darimana asalnya, kemana akan berakhir dan maksud dari semuanya. Dan semua pengetahuan itu hanya bisa diketahui lewat nubuwwah (Alladzi ‘allama bil qolam).

Sehingga dari mengetahui isi nubuwah tersebut, manusia memperoleh manfaat berupa pemahaman sempurna tentang derajat kemanusiaan dirinya, baik hal itu diperoleh secara naluri (dhoruri) maupun yang diusahakan (kasbi) (‘allamal insaana maa lam ya’lam).

Maka, yang disebut insan kamil adalah orang yang pandai membaca secara lahiriyah ayat2 Gusti Allah, mampu mengurainya, cerdas menyikapinya sesuai dengan panduan nur ilahiyah dari Gusti Allah. Nur yang memberi kesadaran ketuhanan Gusti Allah dan manusiawinya diri sendiri.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *