Gusti Allah sebagai pemilik syariat sholat ini memang tidak main-main dalam mendesain syariatnya. Mengupayakan sholat khusyuk itu saja bukan perkara remeh. Dimensinya bisa berimplikasi besar pada lahir batin pribadi dan masyarakat hingga bermacam bidang. Kalo diseriusi, bisa jadi semacam revolusi bagi umat.
Seperti tulisan-tulisan kemarin, agar bisa khusyuk, kita usahakan urusan duniawi tuntas dulu dan banyak dzikir. Dua hal ini saja kalo diperluas aplikasinya, bisa mencakup segala bidang.
Urusan duniawi seperti ekonomi, artinya kita bangun kesejahteraan dulu. Karena menurut Mbah Sholeh Darat, tauhidnya orang awam itu terletak pada perekonomiannya. Orang bisa hilang akal sehat gara-gara ekonomi. Padahal ibadah dalam rangka bertauhid, syaratnya harus punya akal sehat. Maka tauhidnya harus didukung kesejahteraan ekonomi.
Dalam Quutul Qulub juga disebutkan :
قال بعض المتوكلين: من فقد الأسباب فضعف قلبه أوكان وجودها أسكن لقلبه من عدمها لم يصح له القعود عن المكاسب لأن فيه انتظارا لغير الله تعالى
“Dawuh para ulama ahli tawakal : Siapa saja yang tidak punya asbab (sumber penghasilan dan pekerjaan) maka jadi lemah jiwanya. Atau jika adanya penghasilan itu justru membuat hatinya tenang daripada saat bokek, maka dia tidak boleh berhenti dari pekerjaannya. Karena berpotensi besar akan menjadikannya berharap pada selain Gusti Allah”
Maka wajib orang membangun ekonomi yg cukup, bagi diri maupun lingkungannya. Agar tercipta lingkungan yang berakal sehat dan nyaman untuk ibadah.
Sementara mendawamkan dzikir, berguna menciptakan mindset diri dan lingkungan yang bertanggung jawab. Gak ada maling sambil baca Qur’an. Atau orang selingkuh sambil baca rotib. Orang yang selalu dzikir, mau korupsi juga sungkan. Kalo tiap orang bisa mendawamkan dzikir, lingkungan pun berjiwa sehat.
Nah, berawal dari keinginan untuk bisa sholat khusyuk, implikasinya bisa gede banget kan?
Jadi punya inisiatif membangun ekonomi dan sosial yang ideal bagi diri dan lingkungan sekitar. Ekonomi diri cukup, lingkungan pun kecipratan manfaat. Kebutuhan jasmani tercukupi, mental jiwa yang kuat pun terbangun. Itupun mencakup diri dan lingkungan. Dipastikan tidak ada gejolak. Maka tercipta lingkungan ideal untuk sholat khusyuk. Bisa jadi satu konsep untuk menciptakan masyarakat madani.
Dengan demikian, relevan bahwa sholat yang bagus, akan mencegah kejahatan. Dan hasil kebaikannya akan kembali ke diri dan lingkungannya.
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)” (Al Ankabuut 45)
Jadi, sebagai seorang yg ngaku muslim yg rajin sholat, harusnya bisa jadi pionir dan perintis kemajuan umat. Paling tidak, pernah mikir untuk menuju ke sana. Kerena mikir itu juga ibadah.
Mugi manfaat.

No responses yet