Oleh: Ricky Armansyah (Mahasiswa Univ Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA)
Nabi Muhammad S.A.W merupakan seorang utusan allah yang diturunkan ke bumi untuk menyampaikan ajaran rahamatan lil alamin. Dilahirkan dan dibesarkan di Arab, diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahun dengan jumlah pengikut 13 orang. Dengan istri bernama Siti khadijah. Nabi muhammad pada usia kecil hingga remaja dia hidup bersama pamannya disebabkan kedua orang tuanya meninggal pada saat nabi muhammad masih kecil. Disini dapat disimpulkan bahwa apabila kita menghadapi masalah kita harus bersabar dan ikhlas serta bersyukur atas nikmat yang allah berikan.
Keluarga merupakan suatu sepasang suami istri yang telah melalui proses pernikahan yang sakral berdasarkan sesuai ketentuan syariat agama islam dan mempunyai seorang anak untuk meneruskan perjuangan kedua orang tuanya supaya menjadi pemimpin yang menjadi contoh yang baik dimuka bumi ini. Pada keluarga terdapat kepala keluarga yakni ayah, keluarga juga terdiri dari beberapa orang yang terkumpul serta orang orang yang selalu menerima baik kekurangan dan kelebihan orang yang ada di sekitarnya. Tetap tidak bisa mengubah kodrat yang ada, akan tetapi garis besarnya yang baik dapat diarahkan dan yang tidak baik diperbaiki tanpa harus menghakimi. Pada ruang lingkup keluarga terdapat sub-sistem, Subsistem dalam keluarga adalah fungsi-fungsi dari hubungan suatu anggota keluarga yang ada dalam keluarga (Rusmana, 2020). Fungsi suami sebagai mestinya mencari nafkah sedangkan istri berkewajiban mengurus keperluan rumah seperti memasak dan memberikan dukungan moral dan motivasi kepada suami pada aspek kehidupan.
Dalam membentuk keluarga berdasarkan teladan nabi muhammad, maka perlu diperhatikan adalah dengan melihat karakter nabi muhammad selalu bersikap kepala dingin dan senantiasa dekat dengan allah swt melalui dengan doa. Berikut ini cara membentuk keluarga berdasarkan teladan yang diberikan oleh nabi muhammad saw. Agar senantiasa dapat menciptakan keluarga yang harmonis hingga akhir hayat serta selamat dunia dan akhirat.
Menjauhkan dari sifat yang haram
Perbuatan haram merupakan suatu perbuatan yang dilarang oleh hukum Islam. Haram juga salah satu perbuatan yang dijauhi dan dilarang oleh allah dan nabi Muhammad, jika perbuatan haram itu dilaksanakan maka pelaku akan mendapatkan mudharat dan azab yang perih kelak diakhirat nanti. Adapun perintah Allah dari surat Al Araf ayat 74:
وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ عَادٍ وَّبَوَّاَكُمْ فِى الْاَرْضِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْ سُهُوْلِهَا قُصُوْرًا وَّتَنْحِتُوْنَ الْجِبَالَ بُيُوْتًا ۚفَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ
Ingatlah ketika (Allah) menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu membuat pada dataran rendahnya bangunan-bangunan besar dan kamu pahat gunung-gunungnya menjadi rumah. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.”
Dalam berkeluarga kita harus menjauhi segala bentuk dari berbohong kepada siapa pun, bergunjing, kikir, pelit, bermusuhan dan meninggalkan perintah Allah seperti salat dan berzakat. Dengan menjauhkan keluarga dari perbuatan haram, maka Allah akan memberikan nikmat yang melimpah dan terhindar dari godaan setan yang seolah-olah mengajak keluarga tersebut melakukan perbuatan yang haram. Apabila setan sudah mengoda keluarga tersebut maka keluarga itu akan terpecah belah dan berantakan.
Bersikap tegas dan mendidik dalam menghadapi permasalahan yang diluar batasan
Pendidikan merupakan hal yang didambakan oleh khalayak orang baik dari kalangan anak hingga orang tua. Suatu pendiddikan yang bermutu harus didasari dengan kedisiplinan yang tinggi, akan tetapi kedisiplinan juga sulit terwujud tanpa kurikulum yang baik (Nurhadi, 2019). Pada penegakkan kurikulum yang bersifat disipliner yang menganjurkan untuk dalam mematuhi perintah dan larangan berikut konsekuensi yang didapat.
Pada setiap anggota keluarga memerlukan bimbingan dan pendidikan dari kepala keluarga. bersikap tegas harus dilakukan jika melakukan suatu kesalahan agar terhindar dari perbuatan yang keji dan dibarengi dengan mendidik supaya terarah untuk melakukan perbuatan yang mahmudah. Tindakan tegas yang dilakukan suami sebagai kepala keluarga dalam mendidik keluarga sebagai berikut, mendiamkan dengan tidak berbicara selambatnya tiga hari. Kemudian jika kesalahannya tersebut diulang kembali maka tindakannya adalah dengan memberikan pukulan kasih sayang atau pukulan mendidik yang bertujuan tidak menimbulkan cidera serta diberi nasehat dan memberikan contoh yang baik.
Meringankan pekerjaan istri apabila dalam berumah tangga
Teladan yang patut dicontoh dari nabi Muhammad terhadap keluarga dalam rumah tangga adalah membantu istri. Beliau ini selalu membantu istrinya ketika ia tidak menjalankan sebagai pemimpin umat islam, nabi Muhammad selalu membantu istrinya seperti menjahit baju yang sobek, menyapu rumah, memeras susu kambing, dan belanja akan kebutuhan kepasar. Beliau juga ini melakukannya secara sendiri dan tanpa bantuan dari orang.
Dilakukan upaya ini bertujuan untuk membantu pekerjaan istri dirumah. Disaat zaman sekarang suami harus dituntut serba bisa selain dari mencari nafkah, oleh karena itu suami juga kalau ada waktu luang dapat membantu istri apabila dirumah. Bertujuan untuk membangun keluarga yang saling melegkapi, karena setiap orang pun ada kelebihan dan kekurangannya.
Menciptakan hubungan yang mesra dan saling pengertian
Seorang suami dalam berkeluarga dituntut lebih besar untuk mengalah dan berlapang dada dari istrinya dalam berkeluarga. Dalam berkeluarga suami harus menunjukkan saling mengasihi, mengayomi, memberikan motivasi terhadap keluarga supaya mendapatkan hubungan yang mengutungkan. Suami juga dapat menunjukkan sifat membimbing, mengimani dan
Selalu menunjukkan sifat lemah lembut
Nabi muhammad dikenal dengan sikap lemah lembutnya, baik dari segi perbuatan dan perkataannya. Dari Abu Abdillah al-Jadali RA dia berkata, “Saya berkata kepada Aisyah, ‘Bagaimana sikap Nabi terhadap keluarganya’ Aisyah menjawab, “Dia adalah orang yang paling terpuji.
“Rasulullah tidak pernah bersikap dengan buruk, kasar atau berteriak di tengah pasar. Dia tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan. Tapi dia memaafkan dan memaafkan hal-hal buruk yang ditujukan kepadanya secara pribadi.” (HR Imam Ahmad).
Lemah lembut juga berarti seorang suami harus ditunjukkan dengan bertutur kata yang sopan, tidak menyakiti perasaan dan paling penting adalah sabar dan tenang dalam meghadapi permasalahan. Begitu juga sebaliknya baik anak dan istrinya juga harus bersikap lemah lembut kepada suami, sebab suami sudah mencari nafkah dari pagi hingga sore. Dengan adanya lemah lembut dalam berkeluarga dapat terciptanya kebaikan diantaranya.
Berlaku adil terhadap anggota keluarga
Kita dapat melihat contoh bahwa nabi muhammad saw selalu bersikap adil terhadap istri-istrinya. Beliau juga tidak mendahulukan dan mengakhiri sebagian istrinya, sebagai contohnya yakni dalam masalah menginap. Nabi muhammad juga selalu istrinya tidak melihat yang tua dan muda, sehingga dapat menimbulkan kesetaraan diantara para istri nabi muhamad. Nabi muhammad saw juga menganjurkan kepada kita untuk berbuat adil pada anak-anak kita, sebab anak-anak juga merupakan karunia dari allah. Menurut sebuah hadist oleh al-Nasai. Hajib bin al-Mufadhdhal bin al-Muhallab dari bapaknya, ia berkata.
“Aku mendengar al-Nu’man bin Basyir berkata dalam khutbahnya, ‘Rasulullah saw. bersabda, ‘Berlakulah adil kepada anak-anakmu, berlakulah adil kepada anak-anakmu, berlakulah adil kepada anak-anakmu.”
Dengan kita berlaku adil ini, senantiasa terjaga dari penyakit hati seperti iri hati, dengki dan dendam. Apabila sudah muncul penyakit hati yang telah disebutkan tadi dapat menjermuskan keluarga tersebut kepada perbuatan dosa. Sebagaimana mestinya bahwa berperilaku adil ini dalam keluarga ini menciptakan keluarga yang tentram, damai, harmonis dan sejahtera.
Menunjukkan segala bentuk kasih sayang
Dalam membentuk suatu keluarga faktor yang terpenting adalah ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak, curahan kasih sayang dari orang tua dapat memberikan kesan yang sangat kuat di dalam hati dan benak anak. Menurut Siti Chadijah (2018) Persaaan kasih yang berperan besar dalam membentuk jiwa, sekaligus membangun kepribadiannya. Menurut pakar psikologi bahwa perasaan seorang anak terhadap curahan cinta dan interaksi orang disekelilingnya terhadap dirinya sangat penting untuk membantu pertumbuhan emosional dan kejiwaan, bahkan kecerdasan pada anak.
Apabila tidak ada rasa kasih sayang dapat menimbulkan dampak negatif pada anak. Seperti terlambatnya perkembangan motorik, gagap sulit berkonsentrasi, egois, agresif dan nakal. Dengan kata lain, kurangnya kasih sayang terhadap anak dapat menimbulkan gangguan lingkungan sosial dan penyesuaian terhadap dirinya. Oleh karena itu, Nabi saw mengungkapkan kasih sayangnya tidak saja secara verbal (dengan kata-kata), tetapi juga dengan perbuatan (Chadijah, 2018).
Dengan ini, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam membentuk keluarga yang erat sampai akhir hayat dan selamat dari neraka pada saat diakhirat nanti. Kita dapat dapat mengambil contoh dari sifat nabi muhammad bagaimana dia memperlakukan anggota keluarganya, berikut sudah dijelaskan diatas cuma ada sebagian saja. Hingga pada akhirnya kita dapat mengetahuicara yang tepat dalam memebentuk suatu keluarga.
Referensi :
Chadijah, S. (2018). Karakteristik Keluarga Sakinah Dalam Islam. Rausyan Fikr : Jurnal Pemikiran dan Pencerahan, 14(1), 113–129. https://doi.org/10.31000/rf.v14i1.676.
Rusmana, I. (2020). Teladan Tarbiyah Ilahiyah Keluarga Nabi ibrahim Menuju Era New Normal. Journal of Islamic Education. https://d1wqtxts1xzle7.cloudfront.net/68763810/pdf-libre.pdf?1629094206=&response-contentdisposition=inline%3B+filename%3DTeladan_Tarbiyah_Ilahiyah_Keluarga_Nabi.
Nurhadi, N. (2019). Pendidikan Keluarga Perspektif Hadis Nabi Muhammad Saw. INSANIA : Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, 24(1), 1–34. https://doi.org/10.24090/insania.v24i1.2696.

No responses yet