Tauhid atau kalam merupakan ilmu penting dalam Islam. Kedudukannya difungsikan sebagai pondasi atas bangunan Islam. Layaknya pondasi rumah, supaya rumah tidak mudah goyang atau runtuh, maka idealnya pondasinya harus kokoh dan kuat. Meskipun, angin dan gempa menerjang, setidaknya ada kekokohan dan kekuatan sendiri yang menjaga ketidakruntuhan rumah. Begitulah kiranya gambaran pentingnya pondasi.
Tidak kalah pentingnya, tauhid juga merupakan ilmu yang mulia untuk dipelajari. Bagaimana tidak? Objek kajiannya sendiri ialah Tuhan. Tuhan disepakati bersama atas Maha Suci dan Maha MuliaNya. Selain itu, segala ritual keberagamaan juga ditujukan hanya kepadaNya; bentuk kepatuhan dan keberadaban makhluk kepada pencipta (kelemahaman daya juga kebutuhan atas pertolongan). Sehingga, untuk meminimalisir kegagalpahaman tujuan di dalam peribatan dan amal baik lainnya sebagai makhluk beragama, maka mempelajari dan mendalami makna tauhid merupakan solusi aktif yang efektif untuk diterapkan kalangan agamawan, khususnya Islam.
Pentingnya tauhid tidak hanya bisa digali melalui teks-teks semata, melainkan juga perlu adanya pemahaman individu melalui pemikirannya. Dalam hal ini, tidak dapat dipungkiri bahwa problematika tauhid merupakan problem besar. Sebab, gagal sedikit dalam memahami tauhid boleh jadi fatal dan kufur. Kufur disini bukan kufur yang dilontarkan antar manusia dengan manusia, melainkan batasan kekufuran yang diukur oleh ilmu; berdasar hadis dan kesepakatan para ulama. Oleh sebab itu, menyegarkan kembali tauhid merupakan jalan alternatif terbaik untuk menguji kebertuhanan manusia selama hidupnya hingga dewasa kini.
Problematika Tauhid
Ada beberapa contoh kefatalan dalam memahami tauhid. Lazimnya, yang menjadi modal kekeliruan ialah pemahaman teks otoritas; subjeknya. Diantara kekeliruan dalam pemahaman ialah, bahwa Allah diyakini sedang duduk di Arsy lalu waktu sepertiga pagi Dia turun memberikan rahmat kepada yang bangun dan menunaikan sholat. Hal demikian umumnya diyakini bahwa turunya Allah ialah untuk mendengar doa hambanya yang bangun diwaktu sepertiga pagi.
Jika dibaca, diteliti dan dipahami secara merinci pernyataan di atas; jelas bahwa Allah digambarkan duduk. Tidak hanya itu, Allah juga digambarkan turun untuk mendengar doa hambanya yang bangun di sepertiga pagi.
Ada beberapa pernyataan di atas yang menurut penulis sangat polemik. Diantaranya ialah gambaran Allah duduk; Allah terkena waktu (sepertiga pagi); Allah turun; dan Allah mendengar. Hal ini dilandaskan pada keyakinan, bahwa tidak ada yang serupa dengan Dia; baik dalam dzat, sifat maupun pekerjaan. Mustahil Allah sama dengan ciptaanNya. Oleh sebab itu, maka problem ini merupakan problem dasar dalam beragama, khususnya dalam wilayah ke-Maha Sucian Allah.
Dari polemik di atas yang tentunya tidak asing bahkan sering dijadikan objek; populer, maka penting untuk dikaji dan digali memalui nalar kritis keberagamaan, khususnya bagi orang awam seperti penulis. Sebab, nalar adalah alat penting yang difungsikan untuk menguji ilmu dan menemukannya. Meskipun, dalam keyakinan beragama ilmu merupakan hidayah dan taufiq dari (rahmat; kehendak dan ketetapan) Allah secara mutlak, namun manusia dengan nalarnya dianjurkan untuk mengupayakan; ibadah, dzikrullah.
Penalaran dan Majaz Nalar Kritis Tauhid
Yang pertama, ihwal Allah duduk di arsy. Kata duduk mengandung gambaran adanya susunan. Layaknya manusia, duduk melingkupi adanya pantat, kursi, kaki. Sebab, umumnya gambaran duduk tidak terlepas dari kondisi pantat dan kaki yang menempel di suatu tempat. Hal demikian normal, karena jika orang berkata dari kejauhan memberitakan bahwa dirinya sedang duduk, maka yang ditemu oleh gambaran pikiran ialah menempelnya pantat dan kaki pada suatu tempat. Secara tidak langsung, maka ada problem baru dari pembedahan di atas yang ditemu oleh nalar yakni bahwa Allah bertempat di Arsy dan Allah bersusun dalam duduknya.
Perlu dipahami, seandainya Allah bertempat di Arsy, sedangkan Arsy ialah ciptaan Allah yang memiliki permulaan, maka sebelum Arsy diciptakan oleh Allah, Allah bertempat dimana? Lebih dalam lagi, seandainya Allah bertempat, sedangkan tempat sendiri adalah ciptaan Allah yang memiliki permulaan, maka sebelum diciptakannya tempat, Allah dimana? Jika tempat diciptakan oleh Allah dan memiliki permulaan, maka mustahil Allah bertempat. Pernyataan berikut menegaskan bahwa pertanyaan dimana Allah adalah kekeliruan tauhid. Sebab, yang menciptakan tempat Allah dan tempat diciptakan tentunya memiliki permulaan. Maka kesimpulannya ialah Allah mustahil bertempat.
Selain itu, Allah digambarkan sedang duduk di Arsy. Secara tidak langsung maka, pikiran menemukan gambaran duduk sendiri seperti apa; adanya kaki dan pantat. Lalu, apakah akal menerima jika Allah memiliki pantat dan kaki? Jika Allah memiliki pantat dan kaki, maka seberapa panjang dan seberapa besar kaki dan pantat Allah? Apakah lebih kecil dari Arsy atau lebih besar dari Arsy? Tentu butuh penalaran.
Seandainya Allah memiliki susunan (pantat dan kaki), maka Allah butuh akan alat yakni pantat dan kaki. Sedangkan, butuhnya Allah akan pantat dan kaki itu ditolak akal, sebab Allah mustahil butuh (Maha Suci). Selain itu, jika Allah bersusun demikian, maka Allah tidak ada bedanya dengan ciptaan yang bersusun. Sedangkan, Allah mutlak berbeda dengan makhlukNya, Dia tidak serupa dengan makhlukNya. Maka, kesimpulannya ialah Allah mustahil duduk, sebab Allah mustahil sama dengan makhlukNya.
Yang kedua, ihwal Allah turun disepertiga pagi. Kata turun menggambarkan adanya atas dan adanya bawah. Lazimnya, kata turun dipahami dari atas kebawah. Lalu, apakah akal menerima Allah turun (dari atas ke bawah)? Apakah Allah terkena sisi juga arah? Tentu butuh penalaran.
Seandainya Allah turun, maka Allah terkena sisi dan arah yakni atas bawah, jika Allah terkena sisi dan arah, maka Allah butuh akan tempat, sebab atas dan bawah butuh akan tempat. Sedangkan, butuhnya Allah akan tempat (atas dan bawah, kanan dan kiri) ialah mustahil. Sebab, Allah suci dari sifat butuh dan Allah mustahil sama dengan makhlukNya yakni terkena arah dan sisi. Maka kesimpulannya ialah Allah mutahil turun dan sama dengan makhlukNya.
Selain itu, dalam polemik ini ada penunjukan waktu yakni sepertiga pagi; dipahami bahwa hal tersebut ialah pukul 03.00 pagi. Sedangkan, dalam suatu wilayah yang dihuni oleh umat muslim normalnya memiliki waktu yang berbeda-beda dan itu jelas disepakati. Jika Allah turun disepertiga pagi, maka sepertiga pagi wilayah mana dahulu? Sebab, setiap wilayah umumnya memiliki waktu yang berbeda-beda. Sehingga, sangat tidak mungkin Allah turun terus meninggalkan Arsy layaknya keyakinan yang keliru. Maka hal tersebut ditolak akal; artinya mustahil Allah seperti itu.
Hal ini pun sangat tidak rasional, karena Allah dinyatakan terkena waktu yakni sepertiga pagi. Sedangkan, jika Allah terkena masa atau waktu, maka samahalnya Allah memiliki awal dan memiliki akhir, juga menyatakan bahwa Allah sama dengan makhluknya terkena masa. Jika demikian, maka akal menolak, sebab mustahil Allah bermula dan berakhir. Allah juga mustahil terkena masa layaknya ciptaannya, karena masa sendiri adalah makhluknya. Maka kesimpulannya ialah Allah mustahil terkena arah (turun) dan terkena waktu layaknya ciptaanNya, karena Allah tidak bermula dan tidak sama dengan makhlukNya.
Yang ketiga, Allah turun untuk mendengarkan doa hambanya yang bangun disepertiga pagi. Fokus kajiannya ialah Allah turun untuk mendengarkan. Lalu, apakah ketika Allah di atas (berkuasa) Arsy Allah tidak mendengar? Kenapa Allah turun seakan-akan hanya untuk mendengar do’a? Tidakkah Allah Maha Mendengar? Maka perlu nalar kritisnya.
Jika Allah turun untuk mendengarkan doa hambaNya yang bangun, maka perlu ditelaah kembali pemaknaan yang tidak logis tersebut. Sebab, Allah seakan tidak mendengar ketika tidak turun, sehingga perlu turun untuk mendengar. Perlu diketahui, bahwa mendengarnya Allah dan makhlukNya berbeda. Mendengarnya Allah tidak butuh telinga, sedangkan mendengarnya makhluk butuh telinga. Telinga dipahami sebagai alat untuk mendengarkan.
Seandainya Allah tidak mendengar, maka Allah bisu. Sedangkan, bisunya Allah itu mustahil, sebab Allah memerintahkan ciptaanNya untuk meminta kepadaNya (sebagai bentuk kelemahan dan kebutuhan atas Tuhan). Tentunya, do’a-do’a yang diterbangkan para makhlukNya pasti didengar. Sebab, Allah wajib mendengar dan mustahil bisu. Maka kesimpulannya ialah, Allah tidak turun untuk mendengar do’a. Sebab, Allah tidak butuh turun dan tidak terkena atas bawah layaknya makhlukNya.
Dari beberapa paparan di atas dapat dipahami bahwa Allah itu Esa. Keesaan Allah dapat ditemukan melalui nalar kritis. Hal tersebut sesui dengan Islam; agama yang logis. Oleh sebab itu, sebagai manusia yang diberi nalar dalam beragama, tentunya sangat penting untuk menetapkan kesucian Allah baik dzat, sifat dan pekerjaanNya dalam keesaan, wajib tidak serupa dengan makhlukNya melalui nalar kritis. Sehingga, nalar adalah alat penting untuk menetapkan tujuan peribadatan tanpa sebatas taklid buta semata.

No responses yet