Kita gak usah takut kematian, mbah. Sejatinya, dalam kaitannya dengan proses kematian, yang patut kita takuti adalah saat sakarotul maut. Saat itu adalah saat penentuan bagi semua, akan kemana setelah nyawa dicabut?

Analoginya, seperti saat kita harap-harap cemas selesai ujian kelulusan atau tes untuk satu pekerjaan, lalu kita menunggu hasilnya. Kecemasan kita saat itu berlipat-lipat, dibandingkan setelah tau hasilnya. Sementara kalo udah tau hasilnya, andai lulus ya seneng, kalo gak lulus biasanya kecewa bentar, ntar juga menerima kenyataan. Nah, saat datang rasa cemas inilah yang paling menakutkan dan paling menguras emosi.

Maka biar kita tenang saat menghadapi waktu penuh kecemasan itu, kita harus bersiap-siap akan kedatangannya dengan selalu beramal baik dan ilmu manfaat. Dan mempersiapkan mental menerima kenyataan datangnya sakarotul maut dan hasil setelahnya. Seperti dawuh para ulama

كرب بيد سواك لا تدري متى يغشاك

“Kesedihan yang ada pada orang lain, engkau tak kan tahu, entah kapan giliranmu untuk merasakannya juga”

Sayyiduna Luqman dawuh, “Hai anakku, atas urusan yang kamu gak tahu kapan akan menghampirimu, bersiaplah akan kedatangannya biar kamu tidak terkaget-kaget saat dia datang,”

Ada 3 hal yang bikin sakarotul Maut itu harus lebih diantisipasi daripada kematian itu sendiri :

1. Kesakitan saat Sakarotul Maut.

Saat sakarotul maut, segala panca indera tak mendeteksi apapun, akal pun hilang. Semua akibat rasa sakit yg hebat saat tercerabutnya ruh dari raga. Walau dikelilingi keluarga, tapi saat sakarotul maut, kita sendirian merasakan sakitnya dan gak ada yg bisa menolong.

Dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Sayyidina Hasan RA

أنه رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر الموت وغصته وألمه فقال قدر ثلثمائه ضربة بالسيف

“Satu hari Kanjeng Nabi bercerita tentang proses kematian, kesakitannya dan kesusahannya, lalu Beliau SAW bersabda, rasa sakitnya seperti disabet 300 pedang”

Untuk menghadapinya, Imam Ziyad bin Aslam telah meriwayatkan dawuh ayahnya, “Jika seorang mukmin itu selalu punya perasaan belum pantas mendapat derajat tinggi dengan sebanyak apapun amalnya, maka sakarotul maut dan kesusahannya akan menaikkan derajatnya di surga. Kalau ada orang yang kufur yang selalu kepedean dan menggampangkan masalah maut, padahal dia gak tau nasibnya gimana, maka akan disempurnakan penglihatannya saat sakarotul maut bahwa dia bakal masuk neraka”

2. Melihat wujud dari Malaikat Maut

Satu hari, Nabi Ibrohim AS bertemu dengan Malaikat Maut, dengan rupa yang bagus, lalu Nabi Ibrohim bertanya “Aku ingin tahu bentukmu seperti apa kalau kamu ketemu orang bejat?”

Malaikat Maut menjawab “Tidak, panjenengan pasti tidak akan kuat melihatnya,”

Nabi Ibrohim memaksa, “Sudah, tunjukkan saja padaku,”

Maka seketika Malaikat Maut berubah wajahnya menjadi sangat mengerikan. Rupa Malaikat maut jadi hitam, rambutnya berdiri tegak, hidungnya mengeluarkan bau busuk, mulutnya mengeluarkan api dan asap hitam. Melihat wajah Malaikat Maut seperti itu, Nabi Ibrohim pingsan. Setelah Nabi Ibrohim siuman, Malaikat Maut beralih rupa jadi rupawan lagi.

Nabi Ibrohim lalu dawuh “Hei Malaikat Maut, andai orang bejat itu cukup ditampakkan wajah mengerikanmu itu, pasti mereka seketika akan menyudahi kebejatannya,”

Jadi, kalau orang baik saat bertemu Malaikat Maut, Malaikat Maut berwajah rupawan dan berkata “Jazaakallah (Gusti Allah memberkatimu)”. Kalau orang jahat bertemu Malaikat, Malaikat Maut menampakkan wajah buruknya dan berkata “Gusti Allah tidak akan menolongmu”

3. Melihat kenyataan nasib dan tempatnya di neraka.

Saat sakarotul maut, semua mata diri terbuka. Segala hijab pun tersingkap. Saat itu Malaikat dawuh, “Bergembiralah hai musuh Gusti Allah dengan neraka. Bergembiralah hai Waliyullah dengan surga”

Kesimpulannya, entah kita nanti mati gimana, rasa cemas dalam menghadapi kematian harus ada. Jangan merasa puas dengan amal dan jangan merasa cukup dengan ilmu. Baik atau jahat, semua tergantung bagaimana hati kita di hadapan Gusti Allah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *