_”Sesungguhnya ilmu itu didatangi bukan mensatangi_
Imam Malik bin Anas
Ilmu memiliki kemuliaan yang sangat tinggi. Sebab ilmu segala sesuatu dapat dikerjakan dengan benar. Dengan ilmu pula, kesuksesan dalam banyak hal dapat digapai. Baik sukses di dunia maupun di akhirat kelak juga dengan ilmu.
Sebagaimana kemuliaan ilmu, orang yang berilmu pun menjadi mulia. Paling tidak, orang yang berilmu sangat di hormati. Siapa yang memiliki ilmu niscaya akan memperoleh kebaikan. Tidak cukup itu, ia memiliki tempat istimewa dalam hati masyarakat.
Salah satu contoh yang menggambarkan tentang keutaman ilmu dan pemiliknya adalah kisah Harun Al-Rasyid dengan Imam Malik bin Anas. Kita ketahui Harun Al-Rasyid adaah salah satu khalifah dinasti Abasyiyah yang sangat mencintai ilmu. Saking cintanya pada ilmu, ia berpesan pada Al-Barmakiy untuk menyampaikan pesannya pada Imam Malik bin Anas agar membacakan kitab _Muwatha’_ di hadapannya.
Niat baik sang Khalifah –untuk mengaji pada Imam Malik–tidak serta merta di terima oleh Imam malik. Mengapa demikian? Sebab Harun Al-Rasyid dianggap belum tepat. Ia dinilai kurang memiliki adab atas ilmu dan pemiliknya. Karena itulah Imam Malik bin Anas mengatakan, “Ilmu itu didatangi bukan mendatangi. Sesungguhnya ilmu didatangi bukan mendatangi.”
Dari perkataan Imam Malik di atas dapat dipahami bahwa ilmu dan pemiliknya sangat mulia. Sehingga tidak mudah untuk dikemudian diatur-atur sebagaimana umumnya. Maka dari situlah kemudian masyhur bahwa sekelas Khalifah Harun Al-Rasyid, saja harus tunduk pada ilmu dan pemiliknya maka bagaimana dengan kita?
Demikian sekilas tentang kemuliaan ilmu dan pemiliknya. Semoga dalam mencari ilmu, kita senantiasa memuliakan ilmu dan pemiliknya. Menjaga adab dengan mereka.
Wallahu A’lam Bisshawab.
Kediri, 12-02-2021.

No responses yet