Kita kudu punya perhitungan sebelum ngapa-ngapain biar gak kepleset. Namun harus disadari, perhitungan kita itu cuma untuk memenuhi kasab yang sifatnya dhoruri (kepastian yg wajib dilakukan secara akal). Perhitungan itu gimanapun tidak bisa melawan Qudroh Gusti Allah. Andai perhitungan kita tepat, artinya sesuai dengan qudroh. Walau perhitungan teliti tapi gak sesuai qudroh, ya gak akan terjadi.

Alkisah dulu Kanjeng Nabi Sulaiman AS didatangi seseorang yang ingin ngaji tentang ilmu bab kemampuan bicara dengan binatang. Dan Nabi Sulaiman pun menerima orang itu sebagai murid.

Tak butuh lama si murid tersebut menyerap ilmu bicara dengan binatang dari Nabi Sulaiman. Hingga suatu ketika si murid ini ingin ngetest ilmu yang baru diperolehnya dari Nabi Sulaiman itu. Akhirnya, dipilih binatang pertama yang diajaknya bicara sebagai ajang test drive ini adalah seekor kucing.

“Hai, kucing, bisakah ente mengerti ucapan saya?” Tanya murid tersebut pada kucing.

“Ya, aku paham, mbah,” Jawab si kucing. Si murid pun girang, akhirnya ilmunya bisa dipraktekkan. Si murid dan kucing pun akhirnya ngobrol ngalor ngidul. Hingga satu saat si kucing bilang, “Mbah, umur njenengan ini tak lihat-lihat kok tinggal 40 hari, saya melihat malaikat maut sudah ancang-ancang mencabut nyawa njenengan,”.

Si murid terhenyak dengan perkataan si kucing tersebut. Perkataannya pun dianggap serius, hingga akhirnya si murid pun pasrah. Akhirnya si murid ini berkeliling silaturahim ke sanak famili dan handai taulan, tak lupa sahabat dan kerabat dihampiri juga. Si murid meminta maaf kepada mereka semua karena terbayang perkataan kucing tadi. Hutang-hutang pun dilunasi semua.

Hingga hari ke 39, si murid ini meminta maaf kepada istri dan anaknya lalu berkumpul bersama sehingga harapannya ketika dicabut nyawanya, si murid meninggal di tengah keluarga. Ketika hari ke 40 datang, si murid harap-harap cemas. Namun hingga hari ke 40 habis, si murid ternyata masih hidup.

Tentu saja si murid heran dan menganggap si kucing berbohong. Si murid lalu melaporkan kejadian di atas kepada Kanjeng Nabi Sulaiman sekalian bermaksud melaporkan si kucing yang sudah membohonginya. Namun ternyata jawaban Nabi Sulaiman mengejutkan, mbah. 

“Si kucing itu tidak berbohong, mbah, sampeyan memang seharusnya sudah meninggal dalam 40 hari,” jawab Nabi Sulaiman. 

“Tapi la kok saya masih seger buger, Kanjeng Nabi? Ada apa gerangan? ” Tanya si murid heran. 

“Njenengan mendapat barokahnya silaturahim, mbah, sehingga Gusti Allah berkenan memberikan penundaan atas jadwal kematian njenengan, umur njenengan pun diperpanjang,” Jawab Nabi Sulaiman. 

Jadi hikmahnya, orang boleh saja bikin rencana dan mempercayai perhitungan yang dia buat. Tapi tetap perhitungan Gusti Allah yang akan berlaku. Seperti cerita di atas, murid Nabi Sulaiman itu memperkirakan pasti datang kematian, tapi Gusti Allah memutuskan hidup.

Makanya orang Jawa suka bilang “Gusti Allah mboten sare”, agar kita gak cuma bergantung pada perhitungan kita saja, gak berhenti takut dan gak berhenti berharap kepada-Nya. Sehingga kita gak usah terlalu khawatir dan terlalu gembira dengan perhitungan yang kita buat sendiri. Rencana harus ada, tapi disertai tetap berharap dan takut pada Qudroh Gusti Allah.

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

“Gusti Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, Yang tidak mengantuk dan tidak tidur” (Al Baqoroh 255)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *