Saya punya teman FB (Mas Andrezeko ) yang dalam pengamatan saya gentle karena berani adu argumen secara ilmiah untuk masalah virus. Sikap beliau ini berdasar kondisi nyata rakyat saat turun ke lapangan plus ikut meneliti virus.
Beliau menantang adu pembuktian secara ilmiah kepada orang-orang yang disebut ahli epidemiologi dan sering menyebarkan berita yang, dalam pandangannya cenderung membuat situasi rakyat malah rapuh psikologisnya. Beliau siap membuktikan secara ilmiah masalah perkembangan virus itu baik di lapangan, di laboratorium atau dimana saja di dunia nyata, baca komentarnya: https://www.facebook.com/100008879261456/posts/2682838095355473/
Tentu tantangan seperti ini menarik sehingga kita bisa mempunyai sisi pemahaman lain yang berguna untuk keseimbangan dalam menghadapi informasi virus kopid dalam ranah “intelek”. Beliau nampaknya gregetan dengan kondisi saat ini.
***
Sebetulnya tidak hanya beliau, ada juga kolega pendekar yang karena kadung gregetannya hingga pernah bilang ke para tamu yang datang ke rumahnya yang terlalu takut dengan berkata, “Kalau kamu ke sini copot maskernya, kalau tidak dicopot, maka saat pulang, kamu malah sakit.”
Bahkan sang kolega ini memberi semangat, “Lha saya ini pedang dan silet saja gak tedas, dan masa muda sering berhadapan dengan preman, masak hanya dengan virus takut dan tidak bekerja?” Tentu Anda boleh tidak setuju, tapi maksud beliau adalah agar mengurangi beban psikologis tamu yang ketakutan. Memang pendekar ini bisa disebut sembodo antara ucapan dan lelakonnya. Sejak lebaran tahun lalu para tamu sudah biasa datang ke rumahnya kayak seperti belum ada korona.
***
Kita tahu ada virus, kita tetap perlu menggunakan standar sesuai pengetahuan dan kemampuan kita. Dan yang paling penting adalah bagaimana agar kehidupan bermasyarakat tidak begitu dimonopoli berita korona yang lebih membuat takut.
***

No responses yet