” … mengajak segenap hadirin untuk meneladani Nabi Muhammad dgn sederhana. Meneladani akhlak dan budi pekertinya, bukan hanya pakaian dan penampilannya. Mencintai Nabi itu, meneladani budi pekerti dan akhlaknya. Kita juga dituntut, untuk meneladani ulama sbg pewaris para Nabi. Tapi, cintailah Nabi dan teladani ulama dgn sederhana. Karena mencintai nabi, tidak menghalangi kita untuk berbhineka tunggal ika”.

DAWUH SIMBAH KH MUHAMMAD SYAFI’I KUWOJO

Pada Puncak Perayaan Maulid Nabi 1439 H Desa Sempu Kecamatan Kunduran, Minggu 26 Nopember 2017, di Pesantren Al Fattah Dukuh Ngronggah Desa Sempu Kunduran Blora Jawa Tengah.

—————————-

additional posts

Syekh Muhammad al-Ghazali rahimahullah (Mesir 22 September 1917 M – 9 Maret 1996 M di Jannatul Baqi’ Madinah), penulis buku “Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad shalallahu alaihi wasallam” menyatakan: “Meskipun begitu banyak buku ditulis tentang Muhammad, sosok agung itu tidak akan pernah selesai diungkap secara final sampai kapanpun. Sebab, batinnya menyamudra dan ilmunya menyakrawala. Di dalam dirinya, tersimpan segala kearifan masa lalu dan segala pengetahuan suci masa depan. Karena itu, tidaklah berlebihan ketika seorang sufi besar Persia dari abad ke-12, menulis bait berikut ini: “Muhammad walaupun engkau ummi, tidak bisa baca tulis, tetapi seluruh perpustakaan dunia tersimpan rapi dalam dirimu. Ini karena ilmu yang menggenang dalam diri beliau, adalah merupakan anugerah tak kepalang yang meluruh secara langsung (ladunni) dari tahta keagungan Allah SWT”.

Cinta kepada nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, memang memiliki ekspresi yg berbeda2 bagi setiap manusia, manusia biasa yg dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala, pemimpin teladan umat yg diutus menjadi Rasul Allah untuk memperbaiki akhlak manusia. Nabi terakhir (khataman nabiyyin), tiada nabi setelahnya, kekasih Allah yg digelari sbg manusia yg dipercaya, Al-Amin.

Tanda Mencintai

Al-Qadhi Abu Al-Fadhl ‘Iyadh bin Musa bin ‘Iyadh bin ‘Imrun bin Musa bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Musa bin ‘Iyadh al-Yahshubi As-Sabti al-Maliki atau Imam al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahshubi rahimahullah (1083 M Spanyol – 1149 di Marrakesh, Maroko), dalam Kitabnya “Asy-Syifa’ Bi Ta’riifi Huquuqil Mushthafa berkata :

“Ketahuilah, bahwa barangsiapa yg mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku2 (tanpa bukti nyata). Maka, orang yg benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tsb pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yg utama adalah dgn meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dgn adab2 (etika) yg beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit.”

Cinta Dengan Simbolitas Semu

Disadari, memang tidak ada manusia di bumi yg sanggup meniru persis perilaku Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Tetapi, mengamalkan ajaran Rasulullah shalallahu alaihi wasallam secara tebang pilih, jelas bukan sebuah sikap bijak. Tidak pantas kita berlaku sederhana dalam urusan ibadah, sementara tamak dalam urusan dunia dan popularitas. Ketika kita berhasil berlaku sederhana dalam urusan ibadah, jangan2 itu bukan mengamalkan ajaran Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, melainkan wujud alasan atas kemalasan kita dalam beribadah.

Mari kita amati secara faktualitas kekinian, tidak sedikit sekelompok muslim yg secara lahiriyah tampak “sangat agamis” setidaknya dengan simbol2 busana, akan tetapi tutur katanya sering diwarnai “kekerasan” dan “menebar ancaman” dan mengundang kegalauan dan ketidaknyamanan dalam ruang sosial kemasyarakatan dan kebangsaan. Muncul suatu pertanyaan, apakah ini pertanda, beragama sebatas formalitas semata ataukah karena ada “ambisi” yg tak tersampaikan? Allah a’lam. 

Akhlaq Teladan Terbesar

Seorang ulama besar dan sastrawan besar Mesir, Syaikh Ahmad Syauqi Bek bin Ali bin Ahmad Syauqi atau Syauqi Bek rahimahullah (wafat 1932 M) menegaskan: “Suatu umat (bangsa) akan berlangsung apabila akhlak mereka tetap mendasari hati dan perilaku mereka, apabila akhlak hilang dari hati dan diri mereka, akan lenyap entitas umat (bangsa) tsb’.

انما الامم الاخلاق ما بقيت

فإن همو ذهبت اخلاقهم ذهبوا

“Bangsa2 akan eksis sepanjang moralitas luhur ditegakkan di dalamnya. Jika ia hilang, maka hilanglah bangsa itu”. Atau :

فالأمم تضمحل وتندثر اذا ما انعدمت فيها الاخلاق.

“Bangsa2 akan runtuh jika moralitasnya hilang/hancur”.

Akhlak luhur itu antara lain jujur, rendah hati, berkata2 yg baik, berbaik sangka, sabar, kasih-sayang, suka menolong yg lemah, tulus hati dan lain2. Jika akhlak ini tak lagi ada pada bangsa dan berubah menjadi sebaliknya: suka bohong, sombong, mencaci-maki, menghina dan merendahkan orang lain, mengadu domba, bikin fitnah, dendam, buruk sangka dan lain2, maka bangsa itu akan hancur berantakan, sengsara dan menderita.

Kita juga masih terus menyaksikan, sebagian saudara kita yg dgn dalih agama, melakukan kekerasan dan main hakim sendiri. Sangat terasa makin memudar sikap meneladani Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Bahkan, tidak jarang mereka yg dgn begitu mudah mengafirkan orang lain, hanya karena tidak masuk di dalam kelompoknya. Ini diperburuk lagi, mereka yg menganggap bahwa NKRI ini adalah Negara kafir. Akibatnya, mereka melakukan teror, merampok, dan menghalalkan berbagai macam cara, demi meraih tujuan, yang sering mengorbankan orang2 yg tidak bersalah. Padahal NKRI adalah hasil cucuran darah dan sabung nyawa para founding fathers kita, yg saling bahu membahu, memperjuangkan kemerdekaan, di atas fondasi persatuan dan kesatuan bangsa di tengah kemajemukan dan pluralitas bangsa. Karena itu MUI mengeluarkan fatwa bahwa NKRI adalah final dan harga mati.

Sebenarnya, Islam diturunkan untuk merealisasikan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi ini (rahmatan lil ‘alamin). Karena itu, Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam memberikan teladan dan tuntunan, bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berpemerintahan. Beliau mengedepankan sifat dan sikap lemah lembut namun tegas, selalu menjadi pemaaf, dan bahkan selalu memohonkan ampunan orang lain kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan di atas segalanya sangat menghormati dan mengajak orang lain bermusyawarah dan bekerja keras, namun tetap bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar tidak takabbur namun rendah hati.

Akhlak adalah sunnah terbesar Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Akhlaqmenjadi kunci baik atau tidaknya seseorang. Sepintar apapun seseorang jika tidak memiliki akhlak, maka tidak ada manfaatnya. Begitupun setinggi apapun ilmu yang dimilikinya, tidak akan memberi pengaruh apapun jika ia tidak memiliki akhlak, sebagaimana perintah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Untuk memiliki akhlak yg baik dan mampu beramal baik tentu tidak mudah. Banyak gangguan dan cobaan bagi siapa saja yg tengah berusaha untuk istiqamah di jalanNya. Namun demikian, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tak luput pula untuk mengajarkan doa yg bisa memotivasi umatnya untuk tetap berupaya untuk bisa memiliki akhlak yg mulia dan beramal baik.

Syair

Salah satu syair indah tentang khasais atau keistimewaan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, adalah susunan syair yg dinukil oleh Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani rahimahullah (Tanara, Serang, 1230 – 1314 H / 1813 – 1897 M)  di Mekkah, Hijaz 1314 H/1897 M), di dalam kitabnya Maraqiul Ubudiyyah syarah kitab Bidayah Al-Hidayah, karya imam Al-Ghazali rahimahullah sbg berikut :

لَمْ يَحْتَلِمْ قَطُّ طٰهٰ مُطْلَقًا أَبَدًا  #  وَمَا تَثَاءَبَ أَصْلًا فِيْ مَدَى الزَّمَنِ

مِنْهُ الدَّوَابُ فَلَمْ تَهْرَبْ وَمَا وَقَعَتْ  #  ذُبَابَةٌ أَبَدًا فِيْ جِسْمِهِ الْحَسَنِ

بِخَلْفِهِ كَأَمَامٍ رُؤْيَةٌ ثَبَتَتْ  #  وَلَايُرَى أَثَرُ بَوْلٍ مِنْهُ فِيْ عَلَنِ

وَقَلْبُهُ لَمْ يَنَمْ وَالْعَيْنُ قَدْنَعَسَتْ # وَلَا يُرَى ظِلُّهُ فِى الشَّمْسِ ذُوْفِطَنِ

كَتْفَاهُ قَدْ عَلَتَا قَوْمًا إِذَا جَلَسُوْا # عِنْدَ الْوِلَادَةِ صِفْ يَاذَا بِمُخْتَتَنِ

هٰذِي الْخَصَائِصَ فَاحْفَظْهَا تَكُنْ أَمِنًا  #  مِنْ شَرِّ نَارٍ وَسُرَاقٍ وَمِنْ مِحَنِ

Sang nabi tak pernah mimpi basah selamanya # pun tak pernah menguap di sepanjang masanya

Tiap binatang tunduk patuh dan tak kan hinggap # sampai kapanpun lalat pada tubuh indahnya

Seperti di depan, beliau lihat yg ada di belakangnya  #  dan air seninya pun tak terlihat bekasnya

Hatinya pun tak tidur walau mata terpejam  #  duduk pun, sang Nabi tak tampak bayangnya

Dua pundaknya unggul saat duduk bersama # telah berkhitan pula saat dilahirkannya

Hafalkanlah khasais ini semoga kau aman # dari jahatnya api, pencuri, bencananya.

Demikianlah syair yg dinukil oleh Syekh Nawawi Al-Bantani di dalam kitabnya yg dikenal dengan Al-Qashaid fi (ba’dhi) al-khashaish al-Nabawiyyah atau kasidah2 tentang (sebagian) keistimewaan2 nabi. Syair ini dilantunkan dgn menggunakan note bahar al-basith, sebagaimana note dalam nadzam “ya rabbi bil musthafa balligh maqaasidana.” Biasanya syair ini dilatunkan oleh para santri di pondok pesantren dan masyarakat di sebagian daerah Jawa setelah azan sambil menunggu shalat jamaah dimulai.

Doa Akhlaq Yang Baik

Al-Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i atau Imam Al-Ghazali rahimahullah (wafat 18 Desember 1111 M di Thus, Iran), dalam kitab Ihya Ulumuddin jili1 halaman 587, menyebutkan agar kita selalu diberikan akhlak dan perangai yg baik, sehingga kita dijauhkan dari orang2 yg bisa saja memusuhi kita. Di riwaytakan oleh Imam An-Nasa’i rahimahullah (wafat 28 Agustus 915 M,  di Mekkah), doa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tsb adalah :

اَللَّهُمَّ أَهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ اْلأَعْمَالِ، وَأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئِ اْلأَعْمَالِ، وَسَيِّئِ اْلأَخْلاَقِ، لاَ يَقِي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

Allaahumma ahdinii li-ahsanil a’maal, wa ahsanil akhlaaq, la yahdii li-ahsanihaa illaa anta, wa qinii sayyi-il a’maal, wa sayyi-il akhlaaq, laa yaqii sayyi-ahaa illaa anta.

“Ya Allah, berilah petunjuk kepadaku untuk berbuat sebaik2 amalan, sebaik2 akhlak, tidak ada yg bisa menunjuki untuk berbuat sebaik2nya kecuali Engkau. Dan lindungi kami dari jeleknya amalan dan jeleknya akhlak, dan tidak ada yg melindungi dari kejelekannya kecuali Engkau.”

Wallahu a’lam semoga bermanfaat

From various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim Jama’ah Sarinyala Kabupaten Gresik

CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

https://youtube.com/channel/UC5jCIZMsF9utJpRVjXRiFlg

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *