Mengapa Ustadz Harus Lucu?

0
447
Gus Dur Tertawa, sumber gambar; hipwee.com

 

Jaringansantri.com-Jum’at pagi, seseorang membagikan video pendek ceramah almaghfurlah Gus Dur di satu grup di WA yang diunduh dari chanel TV 9. Dalam video itu, seperti biasa beliau melontarkan cerita-cerita lucu.

Agak berbeda dengan ustadz lainya, kelucuan Gus Dur tidak keluar spontan di sela-sela ceramah, tapi dikemas dalam satu cerita. Tapi pasti di dalam setiap cerita itu ada satu pesan yang ingin beliau sampaikan.

Kembali ke video tadi. Gus Dur melontarkan banyak lelucon: Tentang penganten pria Arab dan wanita Madura sedang malam pertama, tentang orang Sunda dan Jawa waktu antrian di toilet, dan lain-lain seputar kesalahpahaman dalam berbahasa.

Ada juga cerita tentang orang Arab penjual minyak yang diminta khotbah Jum’at, karena dia orang Arab ya dikira ahli khotbah. Ceritanya saat khotbah dia ngomong sembarangan dengan bahasa Arab. Dikiranya tidak ada jamaah yang paham.

Tiba-tiba ada seorang mungkin pernah nyantri di pesantren tiba-tiba “njenggelek” (bahasa Jawa Timur artinya tiba-tiba bangkit, yg tadinya duduk menunduk). Sepertinya khotib orang Arab penjual minyak tadi sadar kalau orang ini paham apa yg barusan dia sampaikan dan dia sedang memprotesnya.

Lalu orang Arab tadi bilang begini. “Li khomsuun. Ana tsalasun, anta isyruun..” (Maksudnya kira-kira begini: Udah gampang dah, lu tenang aja, entar gue kan dapet limapuluh ribu. Buat gue tigapuluh ribu. Buat elu duapuluh ribu dah..).

Jamaah yang protes tadi paham dan sepertinya dia sama tengilnya dengan khotib Arab tadi dan dia setuju tawarannya. Dia menjawab: “Rodliyallaahu anhu”. Maksudnya, “Oke dah…”.

Kata Gus Dur, “Gimana kalau sudah begini-ini, batal semua kan (khotbahnya).. ” Mungkin pesannya adalah bahwa tidak semua yang Arab itu Islam.

Dan jamaah pun tertawa riang mendengar cerita Gus Dur.

“Ya bagini-ini. Modal ceramah keliling ya harus ada lucu-lucunya begini..”

Kali ini Gus Dur memberikan alasan kenapa beliau berusaha lucu dalam setiap berkeliling ceramah? “Mengapa sih harus lucu? Ya biar orang-orang ga lari,” kata Gus Dur. Jamaah pun sudah tertawa lagi, padahal sebenarnya bukan itu bagian lucunya.

“Kalau ceramah pakai gini-gini…” Gus Dur memberikan isyarat jari telunjuknya mengacung ke atas: menunjuk-nunjuk seperti sedang berteriak-teriak. “Kalau begini… ya nanti dikira saya bekas danramil,” kata Gus Dur. Jamaah tertawa lagi. Tahu kan betapa galaknya tentara di zaman Orde Baru dan beliau biasa menghadapi itu.

Nah ini bagian lucunya. Gus Dur bercerita ada seorang mantan danramil sedang khotbah Jumat. Mulailah dia berwasiat taqwa.

“Ya ayyuhan nasut taqullaha haqqa tuqotih… Wahai sekalian manusia bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa…. Kalau tidak…,” khotib mantan danramil tadi menunjuk-nunjuk.

“Kalau tidak awassss…!!!”

“Lha kog pakai awas segala,” kata Gus Dur. Jamaah pun tertawa lagi. (Anam)