Kita disunnahkan mengikuti prosesi pemakaman dan nyarkub di makam. Dengan harapan untuk shock terapy, bahwa kita nanti pasti bernasib sama dengan jenazah itu. Sayangnya, buat warga +62, shock therapy itu sering gak manjur. Kita gak merenungi pemakaman itu pasti terjadi juga pada kita. Malah kita asyik selfi di depan nisannya. Akhirnya yang shock justru malaikat.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga sudah dawuh.

أَيُّهَا النَّاسُ كَأَنَّ الْحَقَّ فِيهَا عَلَى غَيْرِنا وَجَبَ، وَكَأَنَّ الْمَوْتَ فِيهَا عَلَى غَيْرِنا كُتِبَ، وَكَأَنَّ الَّذِينَ نُشَيِّعُ مِنَ الأَمْوَاتِ سَفَرٌ، عَمَّا قَلِيلٍ إِلَيْنا عَائِدُونَ، نُبَوِّئُهُمْ أَجْدَاثَهُمْ وَنَأْكُلُ تُرَاثَهُمْ كَأنا مُخَلَّدُونَ بَعْدَهُمْ، قَدْ نَسِينا كُلَّ وَاعِظَةٍ، وَأَمِنَّا كُلَّ جَائِحَةٍ

“Wahai manusia, seakan-akan kita menganggap bahwa kematian itu suatu kepastian bagi selain kita, seakan-akan pula hanya dituliskan bagi selain kita. Kita menyangka bahwa mengantarkan orang-orang mati itu seakan hanyalah perjalanan sesaat yang selepasnya kita akan segera kembali pulang ke rumah. Kita mengebumikan jasad-jasad mereka lalu memakan warisan-warisan yang mereka tinggalkan seolah-olah kita akan hidup kekal selepas mereka. Kita telah melupakan setiap nasihat dan merasa aman dari setiap kebinasaan”

Ini menandakan tipikal manusia ya gitu. Lihat orang kena musibah, jarang yg punya kesadaran musibah itu juga bisa menimpa kita. Kebanyakan nyantai2 aja.

Makanya, gak heran disebut bahwa yang mengerti manfaat dan faedah dzikrul maut itu cuma orang ‘arif nan bijak bestari. Mereka berhati peka karena sadar bahwa tiap manusia itu punya ketakutan dan kemungkinan yang sama di hadapan musibah, kesusahan, kemiskinan, ketidakmampuan dan kematian. Tiap melihat orang kena musibah, mereka bermuhasabah.

Dan percaya atau gak, orang ‘arif nan bijak itu mudah ditemui di kuburan. Karena bagi mereka, saat nyarkub di makam adalah waktunya mereka berelaksasi dan pacaran. Dalam nyarkub itu mereka bisa melepaskan diri sejenak dari ikatan dengan makhluk dan dunia, menjaga kewarasan jiwa dan akal, sekaligus mengadukan rindunya pada Gusti Allah. Itulah satu bentuk dzikrul maut.

Faedah dzikrul maut bagi orang ‘arif itu ada dua. Sebagai upaya pembebasan jiwa dari kesumpekan dunia dan mengasah kerinduan pada akhirat. Dan karena dzikrul maut-lah, mereka jadi ‘arif dan punya kepekaan tersebut.

Makam adalah tempat terhening yang bisa di dapat di jaman urban post-modern ini. Selain makam, adalah tempat yang bising dan berisik. Akan sulit untuk lari sejenak dari keruwetan dan mengasah kerinduan. Lha wong pacaran aja kita nyari tempat sepi, mosok berkholwat dengan Gusti Allah di tempat rame?

Jadi gak usah heran dengan dawuh Gus Dur saat ditanya kenapa suka nyarkub ke makam-makam? Beliau jawab “Saya datang ke makam karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi,”. Udah gak bisa berisik.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *