Namanya Qoidudduwal. Artinya, Pemimpin Berbagai Negara. Ayah kami pernah bilang sambil berseloroh: Aku namakan begitu biar nanti dia jadi Sekjend PBB. Kami suka dengan cara almarhum ayah memberi nama kami berdua.

Kami lahir dari rahim yang sama, tapi karakter kami berbeda. Aku lebih suka berbicara, dia pendengar yang baik. Dia pendiam, aku cerewet. Aku cenderung zig-zag, dia lurus-fokus. Dia Milanisti, aku Juventini. 

Ulama panutannya dua: KH. Abdul Mannan Syukur, Pengasuh PP. Nurul Huda, Singosari, Malang; tempatnya ngangsu kaweruh selama 3 tahun, dan Gus Dur, sosok yang dia kaji dalam tesisnya di IAIN Jember. Dia juga menyukai pemikiran KH. Husein Muhammad, karena itu dia menelaahnya di skripsinya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

***

2 Januari 2020, dia meneleponku. Mengabarkan sesuatu yang singkat: “Mas, aku sakit…” suaranya tercekat.

“Sakit apa?”

“Ada indikasi kanker lidah. Aku masih menunggu hasil laboratorium. Doakan saja ya.”

“Oke. Ayo kita hadapi bersama. Diobati medis dan non-medis ya.”

Hatiku membeku. Sudah lebih 6 bulan dia sariawan, ternyata kanker lidah. Stadiumnya tidak dikasih tahu.

Di awal tahun, dia masih bersikukuh mengajar di IAIN Jember, tempat dia mengabdi sejak 2010. Tapi, pihak kampus memberinya keringanan hanya memegang satu mata kuliah saja. Lalu, memberikan dispensasi cuti agar fokus pada pemulihan kesehatannya.

Setelah itu, dia menjalani pengobatan. 8 kali kemoterapi di RS DKT Jember. Kemudian dilanjutkan radioterapi 35 kali, Juni-september 2020, di RSAL Surabaya. (Terimakasih Mbak dokter SasQa SasQa atas rekomendasinya dan dokter Liliek Murtiningsih atas segala motivasinya)

Hampir setahun dia bertarung hebat dengan sel kanker. Kesakitan, kurang tidur, dan beban pikiran, menjadi satu. Aku akui dia pejuang yang tangguh. Kondisi fisiknya yang terus menurun, pendarahan yang terjadi beberapa kali dari luka bekas biopsi di lidahnya, tak membuatnya berhenti membaca buku-buku terbaru, dan tentu saja istiqomah berdzikir. Butiran tasbih selalu dia putar. Bahkan, ketika kesadarannya drop, jemarinya tak henti bergerak, seolah-olah memilih butiran tasbih. Istrinya aku akui wanita yang tanggguh dan sabar. 24 jam penuh dia mendampingi, merawat, dan seringkali kurang tidur. Karena juga harus merawat dua buah hatinya yang masih balita. Kesabaran seorang istri yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Aku berguru kepada keduanya dalam urusan cinta, kesetiaan dan kesabaran dalam menjalani suka dan duka. 

***

Pengobatan medis dan non-medis telah ditempuh. Dirawat di rumah sakit, maupun menjalani rawat jalan di rumah juga sudah dilakoni.

Kondisinya naik turun. Kesadarannya kadang normal, kadang drop. Di tengah kesadaran yang menurun itu, yang aku cermati, jemarinya tak henti bergerak, seolah-olah memilih butiran tasbih. Alam bawah sadarnya tetap bekerja memilin Asma Allah 

November 2020, setelah dirawat selama seminggu di salah satu RS di Jember, dan belum ada indikasi membaik, kami membawanya pulang. Tujuannya dirawat di rumah. Biar lebih dekat dengan keluarga. Senin, pada waktu magrib, 16 November 2020, dia tiba di rumah. Segala keperluan perawatan sudah kami persiapkan. Sejak bakda isya’, tabung oksigen selalu terpasang mulai menipis persediaannya, kami kelabakan. Untungnya, berkat bantuan para sahabatnya, tabung oksigen ukuran jumbo bisa didapatkan. Bahkan stok cukup untuk beberapa hari mendatang. Kami lega, dan kondisi pernafasannya mulai membaik.

Pukul 23.00 WIB, saya dan ibu mendampinginya, membantunya berdzikir. Nafasnya tidak stabil. Aku memintanya menirukan kalimat yang kuucapkan dalam bahasa Jawa:

“Duh, Gusti Allah, saya ikhlas terhadap ketentuan yang Engkau gariskan kepadaku. Jadikan sakitku sebagai kafarat atas dosa dan kesalahanku. Wahai Allah, aku bertawakkal kepada-Mu atas akhir perjuanganku melawan sakitku. Aku adalah makhluk-Mu, penyakit hanyalah makhluk-Mu, dan aku rela atas keputusan-Mu sebagai sang Khaliq. Wahai Allah, jadikan amal solehku sebagai penebus solih-solihah-nya dua buah hatiku. Jadikan keduanya permata bagi orangtuanya. Hatiku ikhlas, rela atas segala keputusan agung-Mu. Saya ikhlas, Gusti. Saya ikhlas, saya rela. Jadikan akhir hayatku, kapanpun Engkau menghendaki, sebagai akhir hayat yang indah, sebagai akhir yang baik, dalam keimanan dan kecintaan kepada Kanjeng Nabi…”

Walau hanya mampu menirukan dalam hati atas kalimat-kalimat yang terus saya dektekan, dia memegang erat telapak tanganku, dan kami saling berpandangan. Ingatan kebersamaan kami di masa kecil juga terus melintas. Aku berusaha menahan air mataku agar tidak tumpah. Tangannya terus menggenggam telapak tanganku. Dalam hentakan lembut dzikir, tangannya mengelus pipiku, dan akupun mengelus rambutnya, sambil terus memandunya melafalkan nama-Nya.

Setelah itu, saya yang berbaring di sisinya terus memandunya melafalkan dzikir, Allah…Allah…Allah….dalam sekali hembusan nafas. Terus demikian. Hingga saya yang kecapekan, ketiduran….

Selasa dinihari. 17 November 2020. Pukul 02.30 WIB. Ibu saya yang mau tahajjud, membangunkan saya dengan perlahan. Suaranya tercekat, “Le, adikmu apa sudah tidak ada umur?”

Dalam usaha mengumpulkan kesadaran, saya lihat tangannya masih menggenggam erat telapak tanganku. Saya segera mengecek kondisinya. Nafasnya sudah berhenti, tapi kondisi tubuhnya masih hangat. Dugaanku, dia belum lama menghembuskan nafas.

Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.

Pertengahan Oktober 2020, Mbak Mai, istri Mas Noeroeddien, mimpi berjumpa ayah saya. Dalam mimpi tersebut, ayah saya berada di bandara, tampak sibuk mempersiapkan, menyambut dan berharap kedatangan pesawat. Mbak Mai menyapa ayah saya, tapi ayah tidak menjawab dan lebih sibuk menata ini-itu menyambut kedatangan pesawat. Rupanya, ini semacam pertanda almarhum ayah saya menyambut kedatangan putra keduanya.

Tanggal 10 November, sahabat saya, Mas Mochammad Aziz Qoharuddin, yang selama ini membantu penyembuhan adik saya, mimpi. Waktu itu, adik saya berbaju putih berpeci putih, mengucap salam sekaligus berpamitan, “Cak Aziz, saya pulang dulu ya….”. Tepat seminggu setelahnya, adik saya benar-benar pulang ke Rahmatullah.

***

Sejak awal November 2020, dokter sudah mengabarkan apabila sel kanker sudah menyebar di tenggorokan dan paru-parunya. Dokter juga sudah bilang agar kami bersiap menghadapi segala kemungkinan. Kami juga sudah bersiap menghadapi hal terburuk, tapi ikhtiar harus tetap dijalankan. 

Sepeninggalnya, saya dan keluarga juga para sahabat yang selama ini mendampingi proses kesembuhannya juga merasa terhormat mengantarkan kepergiannya. Ibaratnya, dalam sepakbola, di menit injury time, dengan skor 0-3, kami terus berjuang, berlari, mengoper bola, dan berusaha mencetak gol. Dengan cara itu, kami tahu, kalah melawan takdir setelah berjuang maksimal, menegakkan kepala, dan segenap perjuangan tanpa lelah adalah kehormatan itu sendiri.

***

Qoidud Duwal bin H. Saifuddin Mujtaba

Lahir Selasa Kliwon, 25 Muharram 1407 H/30 September 1986.

Wafat Selasa Pahing, 2 Rabiul Akhir 1442 H/17 November 2020)

Semoga Allah melapangkan kuburmu, menjadikannya sebagai bagian dari taman surga, dan menjadikan kebaikanmu sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Alfatihah

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *