Belum lama, sahabat saya seorang musisi multi talenta, Fahad Munif dipanggil oleh Allah di usia 40. Seorang musisi yang aksinya di panggung raksasa Festival Janadriyah, Riyadh Arab Saudi mampu menggetarkan relung hati terdalam kedua bangsa besar, Saudi dan Indonesia.
Untuk mengenangnya, saya edit salah satu video aksi monumentalnya di “The Indonesian Cultural Stage” dengan software yang sangat popular di kalangan para sineas, Adobe Premiere Pro CC multi bahasa yang rodo njlimet. Mulai proses cutting, synchronizing, editing, caption, rendering sampai dengan encoding.
Aksi jari jemari Fahad begitu sempurna mengiringi lagu yang sering saya sebut dengan “Senandung Diplomasi” yaitu sebuah kumpulan syair bertitelkan “Ib’ad” yang sangat akrab di telinga bangsa Timur Tengah dan Nusantara terutama kalangan santri.
Setidaknya ada dua lagu yang sering saya gunakan sebagai “alat diplomasi” tuk muluskan komunikasi dengan para petinggi Kerajaan Arab Saudi.
Dua senandung “asmara sahara” tersebut adalah pertama: Ahibbak lau tahib ghairi (aku mencintaimu, meski cintamu untuk orang lain) dan kedua: Ib’ad (ketika kau menjauh). Hampir para sesepuh dan milenial Saudi sangat mengenal dua nyanyian ini termasuk notasi-notasi musiknya.
Dua senandung cinta ini dipopulerkan oleh artis Saudi almarhum Thalal Maddah (1940 – 2000) dan Muhammad Abduh (lahir 1949) sang “Fannan al-Arab” seniman Arab, yang konon masih berdarah Indonesia.
Kemujaraban dua lagu ini begitu “digdaya” bak hizib-hizib para ulama kita. Ketika saya senandungkan satu atau dua bait saja, dentuman kesaktian dua lagu ini sangat saya rasakan bahkan mampu menjebol tembok tebal diplomasi.
Sebagiamana kisah-kisah merana dan ambyarnya cinta, lirik dua lagu tersebut juga didominasi oleh keputus-asaan dan ketidak-perkasaan siapapun yang sudah dihajar oleh “experiences of ambyar”. Sebuah narasi kesedihan cinta yang di Jazirah Arab sudah dikenal sejak zaman Jahiliyah lewat syair-syair “al-Muallaqat as-Sab’u” dan “al-Muallaqat al-Asyar”.
Fahad Munif biasanya tampil di segmen-segmen terakhir jelang malam di panggung budaya Janadriyah. Dia tampil setelah penampilan berbagai budaya nusantara seperti angklung Tilung, Angklung Saung Udjo, rampak gendang, kentrung dan “mahalul qiyam” plus Salawat Badar Banyuwangi, tari Saman, Tari Zafin, reog Ponorogo, rebana, seni pencak silat Pagar Nusanya NU, tari kolosal Diponegoro, Tari Melayu dan sudah barang tentu seni “musik ndangdut”.
Di edisi “ib’ad” yang dibawakan oleh penyanyi legendaris Timur Tengah Muhammad Abduh, ada penambahan beberapa “bait sedih” yang biasa dikenal oleh sastrawan Arab dengan sebutan “mawal” sepeti di bawah ini:
يامن هواه اعزه واذلني
كيف السبيل الى وصالك دلني
أنت الذي حلفتني وحلفت لي
وحلفت إنك لا تخون فخنتني
وتركتني حيران صبّا هائما
أرعى النجوم وأنت في نوم هني
واصلتني حتى ملكت حشاشتي
ورجعت من بعد الوصال هجرتني
ولأقعدن على الطريق فأشتكي
فأقول مظلوم وأنت ظلمتني
ولأدعون عليك في غسق الدجى
يـبـلـيـك ربي مـثـلـمــا أبلـيـتـنــي
Kira-kira artinya:
Wahai sayangku, yang mengagungkan cinta dan menghancurkanku
Tuntun aku untuk temukan lorong tuk jumpaimu
Kau lah yang berjanji dan bersumpah untukku
Kau janji tak akan pernah khianat tapi ternyata kau khianati aku
Kau rengkuh aku, sampai hatiku terdalam berhasil kau tundukkan
Namun setelah rendevous itu, kau campakkan aku
Kau biarkan aku dalam kebingungan dan kegundahan tak terperi
Aku pandangi bintang-bintang, melihatmu nikmati hidup bahagia
Apa aku harus duduk di pinggiran jalan lalu berteriak?
Bahwa aku teraniaya, dan kaulah pelakunya?
Atau harus kuteriakkan kutukan kepadamu di tengah gelap malam?
Agar Tuhan menghancurkanmu sebagaimana kau hancurkan aku?
Selamat menikmati aksi almarhum Fahad Munif, kita doakan khusnul khatimah dan kita resapi kedalaman lirik kisah asmara padang sahara.
Diplomatic Quarter Riyadh
14 Agustus 2020

No responses yet