Al-Imam al-Muhaddist Imam Abu Dawud rahimahullah (lahir 817 M / 202 H dan meninggal di Basrah, 888 M / 16 Syawal 275 H, pada umur 70–71 tahun), adalah salah seorang ulama besar perawi hadis, yg mengumpulkan sekitar 50.000 hadits, lalu memilih dan menuliskan 4.800 di antaranya, dalam kitab SUNAN ABU DAWUD. Nama lengkapnya adalah Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amru bin Amir al-Azdi al-Sijistani rahimahumullah.
Selain Imam Bukhari dan Muslim rahimahumallah, salah seorang tokoh hadits yg terkenal adalah Imam Abu Dawud rahimahullah. Kepakarannya dalam bidang hadits, diakui banyak ulama2 besar, baik para ulama ahli tafsir, fikih, ushul, maupun ahli hadits.
Untuk mengumpulkan hadis, beliau bepergian rihlatul ‘ilm ke Arab Saudi, Irak, Khurasan, Mesir, Suriah, Nishapur, Marv, dan tempat2 lain, kemudian menjadikannya, sbg salah seorang ulama hadits yg paling luas perjalanannya.
Bapak beliau yaitu Imam Asy’ats bin Ishaq rahimahullah adalah juga seorang perawi hadits, yg meriwayatkan hadits dari Imam Hamad bin Zaid rahimahullah, dan demikian juga saudaranya Imam Muhammad bin Al Asy`ats rahimahullah, termasuk seorang yg menekuni dan menuntut hadis dan ilmu2nya, juga merupakan teman perjalanan beliau, dalam menuntut hadits, dari para ulama besar ahli hadits pada zamannya.
Imam Abu Dawud rahimahullah, sudah berkecimpung dalam bidang hadits, sejak berusia belasan tahun. Hal ini diketahui mengingat pada tahun 221 H, dia sudah berada di Baghdad, dan di sana dia menemui kematian Imam Muslim rahimahullah, sebagaimana yg beliau katakan: “Aku menyaksikan jenazahnya dan mensholatkannya”. (termaktub dalam kitab Tarikh Madinat as-Salam atau Tarikh Baghdad wa Dhailihi wal Mustafad atau masyhur dgn nama kitab Tarikh Al-Baghdadi, IX/56, karya Abu Bakr Ahmad ibnu ʿAli ibn Tsabit ibnu Ahmad ibnu Mahdi asy-Syafi`i atau Imam Al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah, 10 Mei 1002 M – 5 September 1071 M Bagdad, Irak).
Walaupun sebelumnya, dia telah pergi ke negeri2 tetangga Sijistan, seperti khurasan, Baghlan, Harron, Roi dan Naisabur.
Setelah beliau masuk kota Baghdad, beliau diminta oleh Amir Abu Ahmad Al Muwaffaq atau Abu Ahmad Talha ibn Ja’far Al-Muwaffaq Billah (843 – 891 M, Bagdad, Irak), untuk tinggal dan menetap di Bashroh,dan beliau menerimanya, akan tetapi hal itu tidak membuat dia berhenti dalam mencari hadits.
Guru
Kemudian, beliau mengunjungi berbagai negeri, untuk memetik langsung ilmu dari sumbernya. Dia langsung berguru selama bertahun2. Di antara guru2nya adalah :
1. Amirul Mukminin fil Hadits Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim bin rahawaih bin Mukhallad Al-Maruzi al-Ḥanẓali atau Imam Ishaq Bin Rahawaih rahimahullah (778 M, Turkmenistan – 853 M, Naisabur, Iran), seorang ahli hukum dan imam dari Khorasan. Termasuk gurunya Imam Bukhari rahimahullah, sosok di balik lahirnya Kitab Sahih Bukhari. Beliau juga gurunya Imam Muslim, Imam Nasa’i, Imam Tirmidzi, Imam Ad-Darimi, Imam Yahya bin Said al-Qatthan
rahimahumallah. Beliauwafat di usia 77 tahun tepat pada tahun 238 H / 852 M dimakamkan di Kota Naisabur, Iran.
2. Hafizhul ‘Ashr Abul Hasan Ali bin Abdillah bin Ja’far bin Najih As-Sa’di Al-Madini atau Imam Ali Al-Madini rahimahullah (778 – 849 M, Samarra, Irak). Beliau juga gurunya Imam Adz-Dzuhli, Imam Al-Bukhari, imam Abu Ya’la Al-Maushuli, Imam Al-Baghawi, rahimahumullah dan ulama lain sezamannya.
Abu Hatim Ar-Razi (811 – 890 M Iran) rahimahullah mengatakan, “Imam Ali Al-Madini rahimahullah adalah tanda bagi manusia dalam memahami hadits, cacat hadis. Saya belum pernah mendengar Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah menyebut namanya, namun beliau menyebut dgn kunyahnya, dalam rangka menghormati Imam Ali Al-Madini rahimahullah”.
Imam Sufyan Ibnu Uyainah rahimahullah (wafat 25 Februari 815 M, Mekkah) mengatakan, “Demi Allah, ilmu yg aku ambil darinya itu lebih banyak dibandingkan ilmu yg diambil dariku.”
Imam An-Nawawi Ad-Dimasqi Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 10 Desember 1277 M Nawa, Suriah) mengatakan, “Imam Ali Al-Madini rahimahulah, memiliki sekitar dua ratus karya tulis.” (Kitab Tadzkirah Al-Huffazh, Al-Maktabah Asy-Syamilah, 436, karya Imam abu Abdillah Adz-Dzahabi al-Fariqi Asy-Syafi’i rahimahullah, wafat 3 Februari 1348 M Damaskus, Suriah)
3. Al-Imam Abu Zakaria Yahya bin Ziyad bin Abdullah bin Manzhur bin Marwan al-Aslami ad-Dailami al-Kufi al-Farra atau Imam Abu Zakaria al-Farra atau Imam Al-Farra’ rahimahullah (wafat 822 M, Bagdad, Irak, dalam usia 63 tahun).
4. Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi atau Imam Ahmad bin Hambal atau Imam Hambali rahimahullah (wafat 855 M, Bagdad, Irak).
5. Syaikhul Islam Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab Al-Qa’nabiy Al-Haaritsi Al-Madani Al-Bashri atau Imam Al-Qa’nabiy rahimahullah(wafat 835 M Madinah).
6. Abu Ayyub Sulaiman bin Harb bin Bujail atau Imam Sulaiman bin Harb rahimahullah (wafat 838!M di Basrah).
7. Imam Abi Amr adh-Dhariri
8. Sulaiman bin Daud Al Farisi atau Imam Abu Walid ath-Thayalisi rahimahullah (wafat 819 M), penyusun kitab Musnad Ath-Thayalisi.
9. Imam Abu Zakariya Yahya bin Ma’in bin ‘Aun bin Ziyad bin Bistham Al-Ghatfan Al-Baghdadi rahimahullah (774 M Irak – 847 M, Jannatul Baqi’ Madinah), juga gurunya Imam Ahmad bin Hambal, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Abu Zur’ah ar-Razi dan Abu Hatim ar-Razi, Ibrahim bin Abdillah Al-Junaid, Ahmad bin Ali Al-Marwazi, Ibrahim bin Ya’qub Al-Juzajani dan lainnya rahimahumullah.
10. Abu Nashr Khaitsamah bin Abu Khaitsamah Al Bashri atau Imam Abu Khaitsamah rahimahullah (wafat 892 M)
11. Imam Zuhair bin Harb rahimahullah (Wafat 848 M)
12. Abdullah bin Abdurrahman bin al Fadhl bin Bahram bin Abdush Shamad atau Imam ad-Darimi rahimahullah (797 M, Samarkand, Uzbekistan – 869 M, Muskat, Oman)
13. Abu Utsman Sa’id bin Mansur bin Syu’bah al-Khurasaniy al-Marwaiy atau Imam al-Thalganiy rahimahullah (wafat 227 H / 841 M), juga gurunya Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah.
14. Abu bakr Al-‘Absi Abdullah bin Muhammad bin Al-Qadli Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman bin Kuwasta atau Imam Ibnu Abi Syaibah rahimahullah (wafat 2 Agustus 849 M, Kufah, Irak), juga gurunya Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Majah, imam An-Nasa’i, Imam At-Tirmidzi, Muhammad bin Sa’ad Al-Khathib, Muhammad bin Yahya, Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah, Abu Bakar bin Abi ‘Ashim, Baqiyyu bin Makhlad, Muhammad bin Wadlah, Al-Hasan bin Sufyan, Abu Ya’la Al-Maushuli rahimahunullah dan ulama besar lainnya.
Dari guru2nya tsb, Imam Abu Dawud rahimahullah menimba berbagai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu2 hadits. Karena itu, pengetahuannya dalam bidang hadits, ditempatkan pada urutan ketiga ahli hadis setelah Imam Bukhari rahimahullahbdan Imam Muslim rahimahullah.
Beliau mengumpulkan, meneliti, menyaring, dan membukukan hadits2 yg diperolehnya. Dari ratusan ribu hadits yg didapatkannya itu, sekitar 4.800 hadis ia pilih, menjadi hadis sahih yg dibukukan menjadi Kitab Sunan Abu Dawud.
Murid
Demikian pula murid2, beliau cukup banyak antara lain, yaitu:
1. Imam Turmudzi rahimahullah
2. Imam Nasa’i rahimahullah
3. Abu Ubaid Al Ajury rahimahullah
4. Abu Thoyib Ahmad bin Ibrohim Al Baghdady rahimahullah (Perawi sunan Abi Daud dari dia).
5. Abu `Amr Ahmad bin Ali Al Bashry rahimahullah (perawi kitab sunan dari dia).
6. Abu Bakr Ahmad bin Muhammad Al Khollal Al Faqih rahimahullah.
7. Isma`il bin Muhammad Ash Shofar rahimahullah.
8. Abu Bakr bin Abi Daud rahimahullah (anak beliau).
9. Zakariya bin Yahya As Saajy rahimahullah.
10. Abu Bakr Ibnu Abid Dunya rahimahullah.
11. Ahmad bin Sulaiman An Najjar rahimahullah (perawi kitab Nasikh wal Mansukh dari beliau).
12. Ali bin Hasan bin Al `Abd Al Anshory rahimahullah (perawi sunan dari beliau).
13. Muhammad bin Bakr bin Daasah At Tammaar rahimahullah (perawi sunan dari beliau).
14. Abu `Ali Muhammad bin Ahmad Al Lu’lu’iy rahimahullah (perawi sunan dari beliau).
15. Muhammad bin Ahmad bin Ya`qub Al Matutsy Al Bashry rahimahullah (perawi kitab Al Qadar dari beliau).
16. Imam Al-Kirmani rahimahullah
17. Imam Abu Zur’ah rahimahullah
18. Dan banyak lagi lainnya.
Murid2 Imam Abu Dawud rahimahullah tsb, di kemudian hari juga menjadi ulama2 besar Islam. Tidak sedikit pula, di antara mereka yg menjadi ahli hadits terkemuka, seperti Imam Nasa’i rahimahullah dan Imam Tirmidzi rahimahullah. Meski demikian, mereka semua tetap takzim, hormat, dan memuji gurunya Imam Abu Dawud rahimahullah, sbg seorang yg alim, tawadhu, dan berjasa terhadap kehidupan mereka.
Penyusunan Sunan Abu Dawud
Imam Abu Daud rahimahullah, menyusun kitabnya di Baghdad. Minat utamanya adalah syariat, jadi kumpulan haditsnya berfokus murni pada hadits tentang syariat. Setiap hadis dalam kumpulannya, diperiksa kesesuaiannya dgn Al-Qur’an, begitu pula sanadnya. Beliau pernah memperlihatkan kitab tsb, kepada gurunya, Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, untuk meminta saran perbaikan.
Kitab Sunan Abu Dawud, diakui oleh mayoritas dunia Muslim, sbg salah satu kitab hadits yg paling autentik. Namun, diketahui bahwa kitab ini mengandung beberapa hadits lemah (yg sebagian ditandai beliau, sebagian tidak).
Banyak ulama yg meriwayatkan hadis dari dia, di antaranya Imam Turmudzi rahimahullah dan Imam Nasa’i rahimahullah. Imam Al Khatoby rahimahullah mengomentari bahwa kitab tsb adalah sebaik2 tulisan dan isinya lebih banyak memuat fiqh daripada kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Imam Ibnul A’raby rahimahullah (26 Juli 1165 M Spanyol – 16 November 1240 M Damaskus, Suriah) rahimahullah berkata, barangsiapa yg sudah menguasai Al-Qur’an dan kitab “Sunan Abu Dawud”, maka dia tidak membutuhkan kitab2 lain lagi. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali rahimahullah, (wafat 1111 M Thus Iran) juga mengatakan bahwa kitab “Sunan Abu Dawud” sudah cukup bagi seorang mujtahid, untuk menjadi landasan hukum.
Beliau adalah imam dari imam2 Ahlus Sunnah wal Jamaah, yg hidup di Bashroh, kota berkembangnya kelompok Qadariyah, demikian juga berkembang disana pemikiran Khowarij, Mu’tazilah, Murji’ah dan Syi’ah Rafidhoh serta Jahmiyah dan lain2nya, tetapi walaupun demikian, beliau tetap dalam keistiqomahan di atas Sunnah, dan beliau pun selalu intensif membantah kelompok Qadariyah dgn kitabnya Al Qadar, demikian pula bantahan beliau kepada kelompok Khowarij dalam kitabnya Akhbar Al Khawarij, dan juga membantah terhadap pemahaman yg menyimpang dari kemurnian ajaran Islam, yg telah disampaikan olah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Maka, tentang hal itu, bisa dilihat pada kitabnya As Sunan, yg terdapat padanya bantahan2 beliau terhadap kelompok Jahmiyah, Murji’ah dan Mu’tazilah.
Beliau lahir sbg seorang ahli ilmu hadits, juga dalam masalah ilmu fiqh dan ilmu ushul, serta masyhur akan kewara’annya dan kezuhudannya. Kefaqihan beliau, terlihat ketika mengkritik sejumlah hadits yg terkait dgn hukum, selain itu terlihat dalam penjelasan bab2 fiqih dalam sejumlah kitab2 karyanya, seperti kitab Sunan Abu Dawud.
Sepanjang sejarah, telah muncul para pakar hadits yg berusaha menggali makna hadits dalam berbagai sudut pandang, dgn metode pendekatan dan sistem yg berbeda, sehingga dgn upaya yg sangat berharga itu, mereka telah membuka jalan bagi generasi selanjutnya, guna memahami as-Sunnah dhn baik dan benar.
Di samping itu, mereka pun telah bersusah payah menghimpun hadits2 yg dipersilisihkan dan menyelaraskan di antara hadits yg tampak saling menyelisihi. Hal tsb, dilakukan untuk menjaga kewibawaan dari hadits dan sunnah secara umum.
Imam Abu Muhammad bin Qutaibah rahimahullah (wafat 267 H / 13 November 889 M, Bagdad, Irak) dgn kitab beliau, Ta’wil Mukhtalaf al-Hadis, telah membatah habis pandangan kaum Mu’tazilah yg mempertentangkan beberapa hadits dgn al-Quran maupun dgn rasio mereka.
Selanjutnya, upaya untuk memilahkan hadits dari khabar2 lainnya yg merupakan hadits palsu, maupun yg lemah, terus dilanjutkan sampai dgn kurun muridnya, al-Imam Bukhari rahimahullah dan beberapa penyusun sunan dan lainnya.
Salah satu kitab yg terkenal adalah yg disusun oleh Imam Abu Dawud rahimahullah yaitu sunan Abu Dawud. Kitab ini memuat sekitar 4800 hadits, terseleksi dari 50.000 hadits.
4 Hadits Pegangan
Imam Abu Dawud rahimahullah berkata, “Aku telah menulis 500.000 hadis Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, dan aku telah memilih 4.800 hadits yg aku anggap paling sahih, yg aku masukan ke dalam kitabku. Dari 4.800 hadits tadi, setidaknya ada empat hadis yg cukup dijadikan pegangan keislaman seseorang.”
1. Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya.
2. Di antara (tanda) kebaikan Islamnya seseorang adalah ketika dia meninggalkan sesuatu yg bukan urusannya.
3. Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dgn iman sempurna), sampai ia mencintai saudaranya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
4. Sesungguhnya yg halal itu jelas dan yg haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yg samar2 (syubhat), kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, maka barang siapa menjaga dirinya dari yg samar2 (syubhat) itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.
Karya lain
Beliau menciptakan karya2 yg bermutu, baik dalam bidang fiqh, ushul, tauhid dan terutama hadits. Kitab sunan beliaulah yg paling banyak menarik perhatian, dan merupakan salah satu di antara kompilasi hadits hukum yg paling menonjol saat ini.
Selain kitab Sunan Abu Dawud, Imam Abu Dawud rahimahullah, melahirkan beberapa karya lain. Seperti, misalnya :
1. kitab al-Marasil
2. Kitab Masail al-Imam Ahmad
3. Kitab al-Nasikh wa al-Mansukh
4. Risalah fi Wasf Kitab Sunan
5. Kitab al-Zuhud
6. Kitab Ijabat al-Salawat al-‘Ajjurri
7. Kitab Musnad Malik
8. Kitab Qaul Qadr
9. Kitab al-Du’a
10. Kitab A’lam an-Nubuwwat
11. dan lain2.
Istilah sistematika hadits
Selain Imam Abu Dawud rahimahullah, beberapa ulama yg menulis kitab hadits dgn sistematika kitab fikih, seperti Imam Ibnu Majah, Imam al-Nasa’i, dan Imam al-Tirmizi rahimahumullah. Kitab hadits yg disusun dgn metode sunan berbeda dgn kitab yg disusun dgn model jami’, yakni kitab hadits yg disusun dgn bab2 tertentu dan tema yg bermacam2.
Contoh, kitab hadits model ini adalah kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Selain itu, ada lagi model yg disebut dgn musnad, yakni kitab hadits yg disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah dgn mengacu kepada nama sahabat. Contoh, kitab hadits model ini adalah kitab Musnad Ahmad.
Kitab Sunan Abu Dawud sendiri, terdiri dari 4.800 buah hadits. Akan tetapi, beberapa ulama mengatakan ada 5.274 hadits. Pendapat ini karena didasarkan pada seringnya Imam Abu Dawud rahimahullah, mengutip hadits di tempat berbeda, untuk menguatkan atau menjelaskan dari sebuah hadits.
Kitab Sunan Abu Dawud ini, hanya memuat hadits marfu’ (hadits atau riwayat dari Nabi). Tidak ada riwayat mauquf (riwayat dari perkataan maupun perbuatan sahabat) atau riwayat maqtu’ (riwayat dari perkataan maupun perbuatan tabi’in). Menurut Imam Abu Dawud , hadits dapat dinamakan sunnah hanya karena riwayatnya dari Nabi Muhammad.
Dalam Sunan Abu Dawud ini, tidak hanya berisi hadits yg berderajat shahih, tetapi juga memiliki kualitas lemah atau dha’if. Ada beberapa istilah dalam Sunan Abu Dawud untuk menilai sebuah hadits. Ada yg disebut dgn shahih, yakni hadits yang memenuhi syarat2 sebuah hadits (ketersambungan sanad, keadilan rawi, kedhabitan rawi, tidak ada cacat, maupun janggal). Selain shahih, ada “ma yusybihu” (menyerupai shahih). Hal tsb, mempunyai arti bahwa kualitas hadits itu di bawah shahih, tetapi ada riwayat atau pendapat yg menguatkannya. Istilah ini kemudian dikenal dgn “shahih li ghairihi”.
Kriteria lainnya adalah “yuqaribuhu” (mendekati hadits shahih). Di kemudian hari, para ulama menyebut hadits ini dgn istilah hadits hasan.
Istilah lain lagi adalah “wahn syadid”, yakni bahwa hadits dimaksud mempunyai kualitas sangat lemah. Terakhir, istilah kualitas hadits dalam Sunan Abu Dawud adalah “shalih”. Istilah terakhir ini, menjadi perdebatan generasi para ulama hadits, setelah Imam Abu Dawud rahimahullah. Perdebatan muncul, karena Imam Abu Dawud rahimahullah menempatkan istilah hadits shalih ini pada hadits shahih, hasan, maupun dhaif. Sehingga, istilah ini dianggap tidak jelas, kepada hadits mana derajat shalih ini dialamatkan.
Banyaknya istilah derajat hadits dalam Sunan Abu Dawud lebih disebabkan, pada saat itu, belum ada kesepakatan di antara ulama dalam menilai kualitas sebuah hadits. Kualitas hadits pada zaman Imam Abu Dawud rahimahullah, hanya dibagi menjadi dua saja: shahih dan dhaif. Baru setelah era Imam Abu Dawud rahimahullah, terutama Imam al-Tirmizi rahimahullah, yg membagi hadits menjadi beberapa istilah yg jelas seperti shahih li zatihi, shahih lighairihi, shahih gharib hasan lizatihi, hasan lighairihi, hasan gharib, dan lain2.
Kualitas Hadits
Tentang kualitasnya, Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Kitab sunannya Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats as-sijistani rahimahullah, adalah kitab Islam yg topiknya tsb, Allah telah mengkhususkan dia dgn sunannya, di dalam banyak pembahasan yg bisa menjadi hukum di antara ahli Islam, maka kepadanya hendaklah para mushannif mengambil hukum, kepadanya hendaklah para muhaqqiq merasa ridho, karena sesungguhnya ia telah mengumpulkan sejumlah hadits ahkam, dan menyusunnya dgn sebagus2 susunan, serta mengaturnya dgn sebaik2 aturan bersama, dgn kerapnya kehati2an sikapnya, dgn membuang sejumlah hadits dari para perawi majruhin dan dhu’afa. Semoga Allah melimpahkan rahmat atas mereka dan memberikannya pula atas para pelanjutnya”.
Pujian ulama
Begitu dalamnya perhatian Abu Dawud pada hadis, banyak ulama yg memuji dan memberikan sejumlah julukan kepadanya.
Menurut Syekh Muhammad Said Mursi rahimahullah, dalam buku Tokoh2 Besar Islam Sepanjang Sejarah, Imam Abu Dawud, dikenal sbg penghafal hadits yg sangat kuat. Ia menguasai sekitar 500 ribu hadits.
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (5 Oktober 1274 M – 3 Februari 1348 M Damaskus, Suriah) dan Imam Al-Hakim rahimahullah (933 – 1012 M, Naisabur, Iran), sepakat mengatakan bahwa, “Imam Abu Dawud rahimahullah adalah pemimpin hadits dan fikih di masanya.”
Imam Ibnu Ishaq Shahani rahimahullah berkata, ”Abu Dawud menempa hadis sebagaimana layaknya Nabi Daud menempa besi.”
Imam An-Naisaburi rahimahullah berkata, ”Dia adalah imam hadits yg tidak ada tandingannya di masanya.” Imam Ibnu Mamduh rahimahullah menyatakan, ”Orang yg istimewa dalam hafalannya dan terhindar dari kesalahan ada empat, yaitu Iman Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam An-Nasa’i (rahimahumullah)”.
Al-Imam Al-Hafidh Musa bin Harun rahimahullah berkata, ”Imam Abu Dawud diciptakan di dunia, hanya untuk hadits dan di akhirat untuk surga. Aku tidak melihat orang yg lebih utama melebihi dia.”
Saking pandainya Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Imam Sahal bin Abdullah At-Tistari rahimahullah, pernah meminta Imam Abu Dawud rahimahullah untuk menjulurkan lidahnya dan menciumnya. Hal itu dilakukannya, untuk mengambil hikmah dari apa yg didapatkan Imam Abu Dawud rahimahullah mengenai hadits.
Ulama lainnya pun, banyak yg memberikan ungkapan dan pujian serupa, yg menggambarkan betapa tinggi dan luasnya pengetahuan Imam Abu Dawud rahimahullah, dalam bidang hadits. Ketika kitab hadits yg ditulisnya ditunjukkan pada Imam Ahmad bin Hambali rahimahullah, gurunya itu berkata, ”Kitab ini sangat bagus dan indah.”
Bahkan, kendati diakui sbg gurunya, ternyata Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, pernah meriwayatkan sebuah hadits yg diterimanya dari Imam Abu Dawud rahimahullah. Ini menunjukkan, kualitas dan keahlian Imam Abu Dawud rahimahullah dalam ilmu hadits yg luar biasa.
Pribadi dan akhlaknya
Selain itu, Imam Abu Dawud rahimahullah, juga dikenal sbg seorang ulama yg wara’, saleh, dan patut menjadi teladan. Sifat2nya sebagaimana diungkapkan para ahli ulama ahli hadits, menyerupai gurunya, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam hal perilaku, sikap, dan kepribadiannya.
Imam Ahmad bin Hanbali rahimahullah, dalam sifat2nya menyerupai Imam Waki’ rahimahullah dan Waki’ rahimahullah, menyerupai Imam Sufyan As-Sauri rahimahullah, gurunya. Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menyerupai Imam Manshur rahimahullah dan Imam Mansur rahimahullah menyerupai gurunya, Imam Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah. Imam Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah menyerupai Imam Alqamah radliyallahu anhu dan ia menyerupai Ibn Mas’ud radliyallahu anhu.
Sedangkan, Ibn Mas’ud radliyallahu anhubmenyerupai Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Sifat dan kepribadian yg mulia ini menggambarkan kesempurnaan akhlak dan kepribadian Imam Abu Dawud rahimahullah.
Dalam hal berpakaian, sang pakar hadits ini juga punya pandangan dan falsafah tersendiri. Menurut sebuah riwayat, baju yg dipakainya tampak berbeda antara lengan baju yg kanan dgn yg kiri. Yang satu lebih lebar dan yg lain lebih sempit.
Seseorang yg melihatnya, terkadang bertanya akan sikap nyentriknya Imam Abu Dawud rahimahullah ini. Adapun alasan yg dikemukakannya, ”Lengan baju yg lebar dipergunakan untuk membawa kitab dan yg lain tidak diperlukan. Jadi, kalau keduanya sama lebar, itu hanyalah pemborosan dan berlebih2an,” ujarnya.
Imam Abu Dawud rahimahullah, juga dikenal sbg seorang yg wara, sopan, dan hormat kepada yg tua dan santun kepada yg muda. Sebagaimana dituturkan oleh Imam al-Khattabi rahimahullah dari Syaikh Abu Bakar bin Jabir rahimahullah, pembantu imam Abu Dawud rahimahullah.
”Aku bersama Abu Dawud tinggal di Baghdad. Pada suatu waktu, ketika kami selesai menunaikan shalat Maghrib, tiba2 pintu rumah diketuk orang. Lalu, pintu aku buka dan seorang pelayan melaporkan bahwa Amir Abu Ahmad al-Muwaffaq mohon izin untuk masuk. Kemudian, aku melaporkan tamu ini kepada Imam Abu Dawud dan ia pun mengizinkan. Sang Amir pun masuk, lalu duduk. Tak lama kemudian, Imam Abu Dawud rahimahullah menemuinya seraya berkata, “gerangan apakah yg membawa Anda datang ke sini pada saat seperti ini?”
Sang Amir menjawab, ”Ada tiga kepentingan. Pertama, hendaknya tuan berpindah ke Basrah dan menetap di sana, supaya para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia datang belajar kepada tuan. Dengan demikian, Basrah akan makmur kembali. Ini mengingat bahwa Basrah telah hancur dan ditinggalkan orang akibat tragedi Zenji.”
”Kedua, hendaknya tuan berkenan mengajarkan kitab Sunan kepada putra2ku. Ketiga, hendaknya tuan mengadakan majelis tersendiri untuk mengajarkan hadits kepada putra2 khalifah, sebab mereka tidak mau duduk bersama2 dgn orang umum.”
Imam Abu Dawud rahimahullah menjawab, ”Permintaan ketiga tidak dapat aku penuhi. Manusia pada dasarnya adalah sama, baik pejabat maupun rakyat.” Ibnu Jabir rahimahullah menjelaskan, sejak saat itu putra2 khalifah hadir dan duduk bersama di majelis taklim.
Imam Abu Dawud rahimahullah berkata, ”Hendaknya para ulama tidak mendatangi para raja dan penguasa, tetapi merekalah yg harus datang kepada para ulama.”
Kisah ‘Membeli’ Surga dengan 1 Dirham
Jangan remehkan kebaikan, meski kelihatannya kecil tapi di sisi Allah sangat mulia. Banyak amalan yg dianggap remeh oleh manusia, padahal perbuatan itu bisa mendatangkan ridha Allah hingga menjadi sebab seseorang masuk surga .
Ada satu kisah beliau yg sangat menarik, ketika “membeli” surga dgn 1 Dirham. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah dgn sanad jayyid, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani Asy-Syafi’i rahimahullah, dalam Kitab Fathul Bari syarhu Shahih Bukhari.
Berikut kisahnya diceritakan kembali oleh Al-Habib Quraish Baharun dalam satu tausiyahnya. Kisah ini mengajarkan kita, tentang keutamaan menghidupkan Sunnah Nabi dan mendoakan kebaikan kepada orang lain.
Dikisahkan, dulu Al-Imam Abu Dawud rahimahullah, suatu hari menaiki perahu. Lalu, beliau mendengar seseorang yg bersin di tepi pantai, seketika orang yg bersin ini mengucapkan: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Kemudian, Imam Abu Dawud rahimahullah mengupah pengemudi perahu dgn satu dirham dan turun dari perahu itu, hingga beliau mendatangi orang yg bersin tadi, lalu berkata: Yarhamukallah, yg artinya semoga Allah merahmatimu.
Kemudian, beliau kembali menaiki perahu. Hal ini membuat kawan2nya bertanya2 mengenai alasan yg dilakukan beliau. Imam Abu Dawud rahimahullah menjawab: “Barangkali orang yg bersin tadi adalah orang yg dikabulkan doanya.”
Ketika para penumpang perahu terlelap dalam tidurnya, mereka mendengar suara yg menyeru: “Wahai para penumpang perahu! Sungguh Abu Dawud rahimahullah telah membeli surga dari Allah subhanahu wa ta’ala dgn uang satu Dirham.”
Begitulah ketika ulama mengajarkan ilmu hikmah, orang2 di sekitarnya termasuk para penumpang perahu dibuat takjub. Kisah ini, memberi kita pelajaran betapa perbuatan yg dianggap kecil, ternyata dapat mendatangkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Hanya dgn menjawab doa orang yg bersin, Allah Ta’ala mengganjarnya dgn surga.
Demikianlah riwayat dan kebesaran sang ulama hadits ini. Setelah mengalami masa kehidupan yg gemilang dgn keilmuan yg dimilikinya, tepatnya pada tanggal 16 Syawal 275 H / 889 M, Imam Abu Dawud rahimahullah berpulang ke rahmatullah, menghadap Sang Khalik. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ridha-Nya. Dan semoga, kita dapat mengambil hikmah dari kisah hidupnya yg penuh kemuliaan. Aamiin.
Wallahu a’lam
نفعنا الله بعلومهم وامدنا بأسرارهم واعاد علينا من بركاتهم وعلومهم وانوارهم في الدين والدنيا والآخرة آمين يا رب العالمين بجاه سيد المرسلين محمد صلى الله عليه وآله وسلم , الفاتحة ..
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ. أمين
from a variety of sources https://id.m.wikipedia.org www.republika.co.id www.kalam.sindonews.com https://kesan.id and other sources by Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA Kabupaten Gresik.
CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

No responses yet