Oleh:Rabela dekasari, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka
Puasa adalah jalan alternatif untuk mengendalikan lidah dan kemaluan, aplikasi dari
puasa adalah bisa meregulasi emosi, yang senantiasa ingat dengan Allah ketika berniat
untuk melakukan suatu hal yang buruk. Puasa menurut Imam Al Ghazali adalah pada
hakekatnya sebagai media untuk bisa dekat dengan Allah SWT. Puasa jika dilakukan
secara sungguh sungguh seorang individu senantiasa menjaga agar emosi tetap stabil
sehingga tidak melakukan hal hal yang buruk. Karena pada dasarnya seseorang bisa
dekat dengan Allah SWT jika seseorang individu menjaga diri agar terhindar dari hawa
nafsu.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa menghindar diri dari komunikasi dan
interaksi dengan orang lain, dan dalam setiap interaksi bisa muncul emosi, baik yang
menyenangkan maupun sebaliknya.ketika seseorang di hadapkan pada informasi atau
perlakuan tertentu dari orang lain, maka secara spontan, emosi nya akan memberikan
respon terhadap informasi yang di dengarnya ataupun perlakuan yang diterimanya.
Respon itulah yang membedakan mana orang yang bisa mengendalikan emosi dan
mana orang yang lebih banyak di kendalikan oleh emosinya. Orang yang bisa
mengendalikan emosi akan memberikan respons yang wajar atas setiap perlakuan dan
informasi yang diterimanya dari orang lain.Sekuat apapun emosi yang timbul dari
informasi atau perlakuan orang lain, akan dihadapi dengan penuh kebijaksanaan dan
tentunya dengan kepala dingin.
Namun sebaliknya, orang yang lebih banyak dikendalikan oleh emosinya, biasanya
berperilaku meledak-ledak dan mudah marah serta kurang pertimbangan dan
kebijaksanaan, sehingga segala tindakan dan perbuatannya sering sulit untuk
dikendalikan.
Salah satu hakekat dari ibadah puasa adalah pengendalian emosi. Emosi di sini kita
maknai sebagai pergolakan pemikiran, perasaan, nafsu dan atau setiap keadaan
mental (psikologis) yang hebat dan meluap-luap. Bentuk emosi ini bermacam macam,
sulit untuk didefinisikan karena sering kita jumpai emosi bercampur aduk menjadi
satu.Emosi bisa juga dikategorikan menjadi amarah, kesedihan, rasa takut, cinta, kasih
sayang, kesal, malu, jengkel dan lain sebagainya.
Ketika manusia sedang dilanda oleh emosi, biasanya emosilah yang lebih banyak
mengedalikan kita, ketimbang kita yang mengendalikan emosi. Akibatnya kita akan
menjadi pemarah, meledak-ledak, gelap mata dan pada akhirnya akan bertindak
irasional. Puasa dapat memberikan ketenteraman jiwa, sehingga manusia diharapkan
mampu mengendalikan emosi.
Bagi beberapa orang, mengendalikan emosi ini sangat sulit. Emosi negatif seperti
kemarahan dan iri hati cenderung membuat seseorang lepas kendali. Nah, berpuasa
Dengan mengingat Allah, maka akan menimbulkan rasa khauf, perasaan khawatir
untuk melakukan hal yang tidak disukai dan diridhai oleh Allah SWT. Dari khauf ini
maka ia akan membangkitkan ketaatan kepada Allah SWT. Di samping itu, mengingat
Allah SWT juga bisa mengusir setan dan menghilangkan pengaruhnya serta membuat
hati tenang.
Menurut Dr. Ahmad taj dalam tulisannya, al-Shiyam Mu’jizat llmiyyah, puasa tidak
hanya dapat mengerem gejolak hawa nafsu yang membara, tapi juga dapat
mengoptimalkan tingkat tanggung jawab seseorang dalam mengemban tugas. puasa
juga tidak menimbulkan depresi psikologis karena rentang waktu berpuasa yang
berkisar antara 12-16 jam itu justru dapat meningkatkan denyut jantung sampai
12%,sehingga kondisi fisik dan psikis menjadi lebih bugar dan dinamis. puasa itu
mencerdaskan emosi dan spiritual. Di antara aspek kecerdasan emosi yang di latihkan
allah melalui puasa adalah kejujuran dan kesabaran.
Anjuran untuk melakukan ibadah puasa pun menjadi salah satu upaya untuk
meningkatkan kemampuan pengendalian diri seseorang. Tidak sedikit sufi menjadikan
puasa sebagai sarana penyucian diri, disamping menjadikannya sebagai ibadah,
mereka juga melatih dirinya dengan berpuasa dalam mengekang nafsu. Shidiq
berpendapat bahwa puasa tidak sebatas ibadah yang mewajibkan individu untuk lapar,
haus, dan nafsu. Tetapi puasa juga memiliki dampak yang positif pada psikis, seperti
pada perilaku dan emosi, serta memiliki manfaat kemanusiaan seperti melatih
pengendalian emosi, empati, dan sabar.
semakin seseorang memiliki kualitas puasa yang tinggi maka semakin mampu
mengontrol dirinya. Begitu pun sebaliknya, semakin rendah kualitas puasa maka
semakin rendah juga kemampuan kontrol dirinya.
Daftar pustaka:
Sari, A. N. (2019). Peran puasa sunah senin dan kamis terhadap regulasi emosi marah:
Studi penelitian mahasiswa Tasawuf Psikoterapi UIN Bandung kelas A angkatan 2016
(Doctoral dissertation, UIN Sunan Gunung Djati Bandung).
Andrian, B. (2018). NILAI–NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PENGAMALAN PUASA
RAMADHAN MENURUT TAFSIR AL-MISBAH (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan
Lampung).
Fasha, K. (2020). Hubungan antara kualitas puasa dengan kontrol diri: Studi kasus
Mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi Tahun Ajaran 2019/2020 (Doctoral dissertation,
UIN Sunan Gunung Djati Bandung).
KARIM, H. A. (2021). Menilik Pengelolaan Dan Pelaksanaan Ibadah Sebagai Sarana
Psikoterapi Dalam Islam. Al Irsyad: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 12(1), 15-36.

No responses yet