Categories:

_”Aku tidak melihat paling minimnya akal dari seseorang yang mengetahui keburukan dirinya sendiri dan ia senang mendapat pengakuan dari sesamanya dengan ahli ilmu dan kebaikan.”_

Ikrimah RA. 

Sesungguhnya yang paling mengenali kebaikan dan keburukan prilaku seseorang adalah dirinya sendiri. Yang paling mengetahui sejauh mana kebaikan yang kita lakukan atau keburukan yang kita lakukan adalah diri kita sendiri. Begitu juga yang paling akurat dalam mengetahui kelebihan dan keuranagan kita, adalah diri kita sendiri.

Sejauh mana kadar kebaikan dan keburukan yang kita lakukan pada dasarnya diri kita sendiri yang paling tahu kadar ukurannya. Begitu pula, yang paling mengenali sifat apa yang pantas kita sandang adalah diri kita sendiri. Sebab itulah menjadi janggal manakala kita mengenali diri kita sebagai orang yang kurang baik, kurang berilmu, kurang cakep senang bukan kepalang ketika dipuji oleh orang lain sebagai orang paling baik, ahli ilmu dan orang yang sangat cakep. 

Pujian seseorang kepada kita memang tidak ada salahnya. Meskipun belum tentu pujian, sanjungan, dan apresiasi itu tidak tepat kita sandang secara sempurna. Maka kemudian penting bagi kita tidak jumawa dan tetap merespon segala pujian sewajarnya ketika menerima pujian, apalagi pujian yang berlebihan yang kemudian menjadikan kita ketergantungan akan pujian dan melalaikan kita atas pengetahuan kita atas diri kita sendiri. 

Demikianlah yang harus kita pahami dari diri kita sendiri. Jika kita dipuji padahal belum layak mendapat pujian maka kita jangan keburu bahagia apalagi jumawa. Sebaliknya ketika kita dihina, dicaci, dan dicap buruk, sedang itu semua tidak ada pada diri kita maka kita jangan berkecil hati. Kita harus mengembalikan segala penyifatan buruk atau baik dari orang lain pada diri kita sendiri. Sebab semua itu–penyifatan orang lain–hanya kita sendiri yang tahu. 

Wallahu A’lam Bisshawab. 

Kediri, 07-03-2021.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *