Oleh: Amanda Mutiara, Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab Uin Syarif Hidayatullah Jakarta
sebelum mengulik hadist yang terdapat pada manuskrip diatas. Ada baiknya kita mengetahui sedikit ulasan tentang manuskrip. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Manuskrip atau Naskah dapat diartikan sebagai: (1) karangan yang masih ditulis dengan tangan; (2) karangan seseorang yang belum diterbitkan; (3) bahan bahan berita yang siap untuk diset; dan (4) rancangan.
Jika kita meninjau “manuskrip” atau “naskah” dari kacamata Filologi Indonesia adalah sebuah tulisan tangan yang menjadi alat utama kajian filologi dan salah satu sumber primer untuk bidang keilmuan humaniora. Mengutip dari laman pendahuluan dalam bukunya Prof. Oman Fathurahman yakni Filologi Indonesia: Teori dan Metode.
Perlu kita ketahui bahwa dalam naskah manuskrip kuno terdapat banyak ulasan dari berbagai macam bidang ilmu. Manuskrip kuno sendiri juga sangat berkaitan erat dengan Ilmu Filologi. Ilmu Filologi layaknya buku, bisa ditulis apapun oleh penulisnya. Entah, Ilmu sastra, tata bahasa, sejarah, astronomi, dunia kedokteran, ilmu Hadist, Balagah, ilmu Fiqih, dan masih banyak Ilmu-ilmu lainya. Tingginya keanekaragaman naskah, yang membuat kesan naskah tersebut semakin unik dan menarik.
Yang menarik dari Manuskrip Hadist ini berjumlah 72 halaman dengan 2 halaman kosong (isi teks yang sudah tidak bisa dibaca), isi teks yang kosong itu yang seharusnya menjadi judul pada manuskrip diatas. Naskah ini berukuran 20.9 x 16.7 cm dan ukuran teks 14 x 10.8 cm. Tidak memiliki iluminasi, tidak pula memiliki ilustrasi. Pengoleksi manuskrip ini adalah La Ode Zaenu. Ditemukan di daerah Baubau, Sulawesi Tenggara. Naskah ini juga ditulis dengan tinta berwarna hitam dan merah. Tinta merah digunakan untuk menulis perawi dan mukharrij, dan untuk teks lainnya ditulis menggunakan tinta hitam
Dalam manuskrip yang saya kaji minggu lalu mengandung kumpulan-kumpulan hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam-Imam dan Ahli hadist yang sudah diakui Keshahihannya, seperti Imam Bukhari dan Muslim. Selain hadist shahi, ada pula hadist-hadist yang dhaif
Hadist merupakan Sumber pedoman hidup yang utama bagi manusia setelah Al-Qur’an. Dengan kata lain hadist merupakan sumber Ajaran umat Islam.
Penulisan hadist yang terdapat pada isi teks dalam naskah diatas hampir sama seperti Kitab Asrâr ash-Shalah. Kitab Asrâr ash-Shalah ada berbagai macam pembahasannya, di mlulai dari Kitab Asrâr ash-Shalah MinIddah Kutub Mu‟tamidah karya Abdurrahman Shiddiq al-Banjari merupakan kitab yang membahas mengenai shalat, kaifiyat lahir dan batin shalat, hal tertentu pada shalat, serta faidah dan keutamaan shalat. Unsur-unsur tasawuf yang terdapat dalam Asrâr ash-Shalah Min „Iddah Kutub Mu‟tamidah karya Abdurrahman Shiddiq al-Banjari adalah tasawuf akhlaki dan tasawuf irfani. Meskipun demikian, unsur tasawuf yang terdapat dalam Asrâr ash-Shalah Min Iddah Kutub Mu‟tamidah karya Abdurrahman Shiddiq alBanjari lebih banyak bercorak tasawuf akhlaki daripada tasawuf irfani. Unsur tasawuf akhlaki yang terdapat dalam Asrâr ash-Shalah Min Iddah Kutub Mu‟tamidah antara lain mengenai ikhlas, ridha, taubat, khauf, tafakkur, musyahadah, syukur, thuma‟ninah, haya‟, ta‟zhim, haibah, raja, khusyuk, khudhu, tawadhu, hudhur, tadabbur, dan munajatun. Unsur tasawuf irfani yang terdapat dalam Asrâr ash-Shalah Min Iddah Kutub Mu‟tamidah adalah fana dan baqa, serta makrifat. Kitab Asrâr ash-Shalah Min Iddah Kutub Mu‟tamidah menguraikan unsur tasawuf melalui penjelasan secara tersirat dalam beberapa bagian terpisah pada isi kitab. Dalam kitab Asrâr ash-Shalah Min „Iddah Kutub Mu‟tamidah juga ditemukan pandangan tasawuf terhadap syariat dalam dua pengertian yakni riwayah dan diroyah. kaifiyat batin shalat, hal tertentu pada shalat, serta faidah dan keutamaan shalat.
Ada beberapa hadist yang akan saya ulas yang terdapat di dalam teks naskah manuskrip diatas, yakni
Berikut hadist yang menjelaskan salah satu keutamaan pada surat Ali Imran. Yang berbunyi :
من قرأ آخر آل عمران في ليلة كتب له قيام ليلة) غير أن سنده ضعيف ، فيه ابن لهيعة .وذكره القرطبي في كتابه “التذكار” (صـ 235) ، وقال الأرناؤوط في تحقيقه : إسناده ضعيف .
“Barang siapa yang membaca ayat-ayat terakhir dari surat Ali Imran pada malam hari, maka ia mendapatkan pahala qiyamul lail semalam penuh”.
Penjelasan dari hadist di atas bahwasanya menerangakan, siapapun yang membaca ayat-ayat terakhir dari surat Ali Imran sama saja seperti medapatkan pahala seperti sholat malam dengan penuh.
(Namun sanad hadits ini lemah, di dalamnya terdapat Ibnu Luhai’ah, al Qurtubi juga menyebutkan dalam bukunya “Adz Tidzkar” hal.235. al Arna’uth berkata dalam tahqiqnya: “sanadnya lemah”.
Selanjutnya hadist yang menerangkan sebgaian dari surat Al-Kahf, berikut hadisnta yang berbunyi :
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ. رواه احمد.
Dari Abu Darda’, dari Nabi saw., bahwasannya beliau bersabda,
“Barang siapa membaca sepuluh ayat terakhir dari surah surah Al-Kahf, maka ia akan dijaga/dilindungi dari fitnah Dajjal.” (HR. Ahmad)
Hadist di atas menunjukkan bahwa siapapun yang membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al-Kahf merupakan penjaga diri dari fitnah Dajjal.
Berikutnya ada hadist yang menerangkan dari keutamaan menbaca surat yasin. Yang berbunyi :
ديث من قرأ يس ابتغاء وجه الله غفر له رواه البيهقي عن أبي هريرة مرفوعا وإسناده على شرط الصحيح وأخرجه أبو نعيم وأخرجه الخطيب فلا وجه لذكره في كتب الموضوعات
Artinya : Barangsiapa membaca Yasin dengan mengharap ridho Allah, ia akan diampuni. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Hurairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai standar Shahih.
Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dan Al-Khathib. Maka, tidak ada alasan memasukkan hadits tersebut ke dalam kitab hadits-hadits maudhu’ (palsu).”
Dari penjelasan manuskrip diatas dengan keanekaragaman isi dan kandungannya membuat kita sangat tercengang. Karena dengan manuskrip kita bisa menapaki jalan pintas, dan kita bisa menyelami sejarah, tradisi, bahkan pengetahuan yang sampai saat ini belum diketahui banyak orang.
Saya beropini dari tulisan di atas “Belajar dan membaca manuskrip sama saja kita belajar Agama. dengan demikian banyak kaitannya dengan ilmu-ilmu agama kita’’. Maka dari itu mari kita rawat dan dasar akan keberadaan manuskrip di sekitar daerah kita atau dimana pun untuk menjadi warisan berharga anak cucu kita kelak.
“ Dengan membaca dan memiliki kaidah kebahasaan, kita akan menemukan hal-hal yang seharusnya bisa diperbaiki’’. Dikutip dari perkataan – M. Nida Fadlan, M.Hum.- Dosen Fakultas Adab dan Humaniora
Gambar: Manuskrip Digital Kitab al-Hadith Ashrat al-sa’ah yang didigitalisasi oleh Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA)

No responses yet