Oleh: Nozky Syaeful Fathah dari Fakultas Psikologi program studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.HAMKA (UHAMKA)
Akhlak merupakan hal yang sangat penting bagi umat islam.Perkembangan arus globalisasi membawa berbagai macam ideologi yang berpengaruh bagi kehidupan manusia. Salah satu ideologi yang terbawa dalam arus globalisasi adalah hedonisme. hedonisme adalah gaya hidup yang berfokus mencari kesenangan dan kepuasan tanpa batas. Berkembangnya hedonisme ini khususnya mempengaruhi gaya hidup berbagai kelompok manusia, salah satunya adalah mahasiswa. Hedonisme dapat membuat mahasiswa banyak membuang waktu yang kurang produktif, seperti menghabiskan waktu untuk berbelanja, bersenang-senang, dan bahkan sampai melakukan seks bebas. Mahasiswa yang memiliki sifat hedonisme menghabiskan banyak uang untuk memiliki berbagi barang mewah dan barang-barang mahal lainnya.
Faktor penyebab munculnya budaya hedonis di kalangan mahasiswa adalah karena semakin mudahnya akses budaya global melalui teknologi. Budaya global yang masuk dalam kategori jauh dari nilai-nilai akhlak, menuntut pendidik untuk mampu memberikan pelatihan dan pemahaman bagi mahasiswa agar mampu mengendalikan diri. Pembentukan akhlak islami bagi mahasiswa dalam Perguruan Tinggi sangat perlu dilakukan demi membentuk kepribadian Islami. Hal ini merupakan cara dalam menekan pengaruh hedonisme yang sangat besar di kalangan generasi muda Islam. Akhlak erat kaitannya dengan tingkah laku manusia dalam interaksi antar manusia. Sehingga, pembentukan akhlak Islami bagi mahasiswa akan berdampak bagi kehidupan mereka ketika berinteraksi dalam lingkungan sosial.
Dampak Sikap Hedonisme Pada Kehidupan Mahasiswa
Hedonisme memiliki banyak dampak negatif bagi kehidupan mahasiswa. Banyak nya waktu terbuang hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak diperlukan. Hedonisme tidak hanya membuang-buang waktu tetapi juga membuang uang untuk membeli barang yang dibutuhkan. Uang yang digunakan lebih berguna apabila disumbangkan kepada saudara kita yang membutuhkan.
Upaya Membentuk Karakter Akhlak Mahasiswa dengann Psikologi Islam
Upaya dalam membentuk akhlak islami dilingkungan pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Salah satu pendekatan yang bisa digunakan untuk membentuk akhlak mahasiswa adalah pendekatan psikologi. Integrasi Psikologi dan Islam terlihat sekali ketika membicarakan manusia sebagai objek kajian. Sebagaimana psikologi memiliki sumber data (rujukan) berdasarkan teori dan hasil riset, maka Islam pun memiliki sumber rujukan yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an yang menjadi rujukan utama dalam Islam, menjelaskan konsep tentang manusia yang kemudian menjadi dasar terbentuknya teori psikologi islami. Dengan psikologi pendidikan Islami, dosen akan dapat mengetahui potensi dan psikis mahasiswa.
Ada satu metode yang efektif dalam pembentukan akhlak mahasiswa, yaitu metode teladan yang dilakukan ciptakan oleh Ali Mustofa. Ali berpendapat bahwa manusia memiliki rasa ingin untuk mengikuti orang lain. Dosen tidak hanya membantu mahasiswa untuk mendalami ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan contoh keteladanan bagi mahasiswa. Dalam proses perkuliahan, dosen memberikan contoh keteladanan bagi mahasiswa. Dalam kelas, dosen selalu menggunakan bahasa yang baik, mencerminkan jiwa seorang pendidik. Dosen selalu menceritakan pencapaiannya, dengan tujuan untuk memotivasi mahasiswa,bukan untuk menuai pujian. Bahkan ketika ada mahasiswa melakukan kesalahan, dosen tidak langsung menegur dengan bahasa yang kurang baik. Dosen tidak menegur mahasiswa didepan umum, kalaupun harus menegur, maka dosen menegur dengan bahasa yang tidak mempermalukan mahasiswa. Dosen selalu bersikap rendah hati, tidak pernah menunjukkan sikap ingin dipuji oleh mahasiswa.
Apabila lingkungan perkuliahan seperti dosen dan staff lainnya sudah menerapkan sikap yang sesuai dengan apa yang dikatakan di atas maka secara tidak langsung penerapan metode terapan akan berpengaruh pada akhlak mahasiswa. Mahasiswa akan sedikit demi sedikit akan terbiasa dengan sikap yang lebih baik.

No responses yet