Categories:

Oleh: Asmanih, mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, semester VI

Dalam setiap pribadi manusia memiliki kelebihan dan kekurangan dalam hal apapun, karena manusia diciptakan Allah swt “al insanu maal khotayaa” yaitu manusia adalah tempat salah dan lupa. Disinilah kita sadari bahwasanya setiap kepribadian orang itu ada nilai plus minus nya. Begitupun dalam segi Ibadah. Ada manusia yang benar benar khusyu dalam ibadah , ada juga yang belum sempurna tingkat kekhusyuan nya, ini bukan berarti cara ibadah nya berbeda namun ritual ibadah yang dilakukan belum bisa menempatkan nilai khusyu yang sesungguhnya.

Ada berbagai macam tipe manusia yang mempunyai nilai kualitas ibadah dalam diri. Ada sebagian dari orang yang rajin melaksanakan ibadah sholat tahajud namun dalam hal bersedekah diajaknya susah. Atau sebaliknya ada orang yang banyak sekali bersedekah namun sholat malam nya malas. Ada juga yang rajin puasa sunnah nya, akan tetapi jarang membaca Al Qur’an, ada yang rajin tilawahnya tapi untuk di ajak kegiatan bakti sosial nya kurang respon. Ada yang mengatakan tidak dapat melaksanakan ibadah shaum sunnah karena akan membuat malas dalam tilawah pada hal tilawah ibadah yang paling dicintai. Inilah hakikat dari pada diri manusia, jikalau pun ada yang demikian namun masih bisa jauh perbandingan nya.

Semua ini adalah semacam fenomena dalam kehidupan manusia. Karena jarang ada orang yang hebat pada semua bidang baik ibadah maupun keilmuan. Di beberapa kenyataan apabila seseorang hebat dengan tekun dalam ibadah, tetapi lemah dalam ibadah lainnya, untuk itu hanya dengan mempertahankan kebaikan yang memiliki kualitas akan jauh lebih penting.

Kecenderungan manusia dalam hal ibadah pun berbeda-beda dan tidak bisa diseragamkan . Makanya Allah menciptakan syurga itu ada macam-macam pintunya,  ada pintu sholat dimana syurga ini diciptakan untuk orang-orang yang rajin ibadah sholat. Ada pintu sedekah dimana pintu ini di khusus kan untuk manusia yamg rajin bersedekah,  ada yang namanya babur rayyan , yaitu pintu syurga yang diperuntukkan bagi orang-orang yang rajin shaum. Di sebagian lagi ada yang berpendapat bahwa ketika kita fokus pada satu ibadah yang kita lakukan dengan Istiqomah atau mendawam kan nya setiap hari, atau rutin kita kerjakan merupakan potensi yang kita miliki.

Dalam suatu kisah dimana Imam Malik diajak oleh Abdullah Al ‘Umari untuk ‘uzlah (menyepi dan fokus ibadah mahdhah) dan meninggalkan kesibukan mengajar. Beliau (Imam malik) menjawab, “Allah membagi-bagikan amalan sholih kepada setiap orang seperti membagi – bagikan rejeki. Betapa banyak orang yang dimudahkan dalam mengerjakan sholat nya akan tetapi susah shaum sunnah, betapa banyak yang dimudahkan dalam bersedekah tapi jarang tilawahnya, bagiku menyebarkan ilmu adalah sebaik-baik amalan sholih, aku ridho atas kemudahan yang Allah berikan ini. Dan aku tidak merasa bahwa apa yang aku lakukan ini di bawah ibadah yang kamu lakukan. Aku berharap setiap kita dalam kebaikan dan ketaatan. “

Kita dapat tarik benang merah dari pernyataan Imam Malik, bahwasanya setiap orang mempunyai potensi kualitas ibadah nya masing-masing. Namun demikian bukan berarti kita cukup puas dengan kualitas ibadah yang kita lakukan atau kualitas ibadah kita saat ini. Pastinya dengan terus meningkatkan kuantitas dan kualitasnya dengan menambahkan amalan ibadah lainnya sehingga potensi kualitas ibadah kita kian sempurna. Karena cinta kepada Allah akan selalu ingin berlama lama bersama Allah. Dan orang yang cinta ibadah akan selalu haus untuk menambah ibadahnya. Allahu ‘alam bisowab.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *