Paijo hanya duduk di teras rumah kecilnya, sementara istri dan anak semata wayangnya sudah tidur. Bintang yang biasanya berkilau di langit tak juga terlihat. Suasana hambar setelah kepergian gurunya (Yuk Tin) masih cukup mempengaruhi jiwa Paijo. “Kenapa Yuk Tin harus pergi disaat dirinya dan jama’ah sedang mulai sadar bahwa warungnya benar-benar bermanfaat dan menyatukan ummat? Apakah dahulu para nabi juga begitu, meninggalkan ummatnya ketika ummat merasa sangat  membutuhkan kehadirannya? Apa rahasia Tuhan sebenarnya dengan takdir ini? 

Paijo terus saja merenung sambil mengingat-ingat adakah pelajaran penting dari Yuk Tin terkait hal ini. Akhirnya Paijo teringat pesan pertama ketika dia datang ke warung Yuk Tin dan mendengar Yuk Tin menasehati sepasang suami-istri yang setia membantunya. “Setiap amal baik mengandung kemuliaan yang abadi. Jadikan setiap detik yang diberikan Allah pada kalian untuk bertasbih, detik berikutnya berhamdalah, setelah itu bertakbir-lah hanya untuk Nya. Tetaplah kalian dalam berikhtiar di dunia untuk meraih Ridho Allah. Jangan pernah malas bekerja dan berdoa. Karena dalam ikhtiar dan do’a itulah Rahman dan Rahim Nya selalu datang sebagai berkah. Jika kalian tinggalkan keduanya, maka yang datang adalah fitnah bencana.”

Paijo tersenyum sambil bergumam subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah Allahu Akbar. Setiap nabi adalah pembawa “Cahaya agama” untuk ummatnya disaat mereka hidup dalam kegelapan Jahiliyah. Maka ketika cahaya itu diterima, langkah berikutnya bergantung pada masing-masing penerima cahaya ilmu tersebut. Apakah digunakan untuk menerangi jalannya atau justru dimatikan agar terjebak dalam kegelapan teologis hasil imajinasi mereka. Para nabi juga memberi petunjuk dimana saja saklar cahaya itu bisa kita tekan agar cahayanya menyala. Jadi kitalah yang menentukan gelap dan terangnya dunia dimana kita hidup. Jika aku mematikan lampu di warung Yuk Tin, maka bukan hanya orang miskin dan bodoh saja yang jadi korban. Tetapi semua pelanggan, termasuk mereka yang hanya ingin mampir karena kehausan. Bahkan kami para santri Yuk Tin sendiri juga akan jadi korban kejahilan kita sendiri. Paijo bangkit dari tempat duduknya sambil bergumam : “Yuk Tin, kami akan teruskan perjuanganmu dengan menjaga cahaya yang telah engkau nyalakan untuk kami di warungmu.” #SeriPaijo 

Tawangsari, 5 Desember 2021

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *