Penjagaan terhadap kesucian lewat bersuci juga bermakna penjagaan diri dari dosa yang menempel di jiwa dan raga, menurut Imam Ghozali. Atau dengan kata lain, bersuci adalah istighfar.
Gusti Allah dawuh dalam akhir ayat 6 Surat Al Maidah
مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Gusti Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”
Lewat perintah bersuci, Gusti Allah hendak membuat kita bersih lahir batin. Sehingga nikmat dari-Nya bisa sempurna. Saat kita mau menjaga kesucian lahir kita karena itu perintah Gusti Allah, maka Gusti Allah, dengan Rahmat-Nya, berkenan mengampuni dosa kita karena kita sudah mau menuruti perintah-Nya. Entenglah beban kita di hadapan Gusti Allah.
Masyhur cerita bahwa salah satu karomah Imam Hanafi adalah bisa melihat dosa seorang manusia itu rontok saat berwudhu. Ini memberi isyarat pada kita, lewat bersuci, dosa kita bisa rontok. Tentunya dosa kecil yg berkaitan dgn hak Gusti Allah. Karena itu madzhab Hanafi meyakini air musta’mal itu najis.
Karena dosa itu hakikatnya memang barang najis yg bisa menghijab kita dengan Gusti Allah. Ketika kita berbuat dosa, artinya kita belepotan najis. Kalo dibiarkan, lapisan najis akan menebal, jadi kerak dan mengeras. Maka perlu dirontokkan dengan bersuci.
Syeikh Hatim Al Ashom dawuh kepada ‘Ashim bin Yusuf: “Apabila waktu sholat telah datang, berwudhulah kamu dengan dua wudhu, yaitu wudhu lahir dan batin!”
‘Ashim bin Yusuf bertanya, “Bagaimana wudhu tersebut?”
Syeikh Hatim Al-Asham menjawab, “Wudhu lahir sudah kamu ketahui. Sedangkan wudhu batin ialah dengan bertaubat, menyesali perbuatan dosa, meninggalkan perasaan dendam, menipu, keragu-raguan, kesombongan, dan meninggalkan kesenangan kepada penampilan dunia, pujian manusia, dan politik praktis”
Sayyidina ‘Umar bin Khattab dawuh, wudhu yang bagus dapat menolak kejahatan setan dari anda.
Mbah Sholeh Darat Semarang dawuh, kapan saja saat kita sedang di kondisi lupa dengan Gusti Allah, maka saat itulah posisi kita disebut Naumul Ghoflah atau tidur yang bikin terlena dan makin menjauhkan diri dari Gusti Allah. Semakin lama di naumul ghoflah, seinci demi seinci kita menjauh dari-Nya. Nah, saat kita di posisi naumul ghoflah itu, kita jadi santapan empuk bagi setan. Sehingga bikin tidak sadar, tau-tau kita sudah jauh sekali dari Gusti Allah. Seperti kambing yang meleng dan terpisah dari kawanannya, maka akan jadi santapan empuk serigala.
Nah, seperti kalo mak bangunin kita tapi kitanya tetep tidur gak bangun-bangun, maka kita diguyur pake air seember sama mak. Maka untuk menyadarkan diri kita yang sedang naumul ghoflah, kita guyur diri kita dengan air wudhu atau mandi seperti yang telah diperintahkan Gusti Allah. Dengan begitu, setan gak jadi menyeret kita menjauh dari Gusti Allah.
Lewat bersuci, tanda kita juga bertaubat pada Gusti Allah karena telah berada di posisi naumul ghoflah. Karena melupakan Gusti Allah (ghoflah) sedetik saja, itu sudah menambah seinci hijab bagi hati yang menjauhkan kita dengan Gusti Allah. Dengan bersuci, kita mendekatkan diri pada Gusti Allah. Menjaga kesucian, artinya menjaga hubungan kita dengan Gusti Allah.
Mugi manfaat.
#AyoNyarkub #ArbainFiUshuliddin #ImamGhozali

No responses yet