Seperti tulisan sebelumnya, menyimpan harta (seperti menabung, deposito atau simpanan lain) itu amal wahm (perkiraan yg belum pasti) yg sifatnya syubhat. Kadang terpuji, tapi kadang tidak. Bisa haram, bisa halal.

Imam Ghozali dawuh bahwa menjauhi tindakan menyimpan harta itu akhlaq terpuji bagi orang yg terbiasa hidup sederhana, bermental kaya dan hatinya kuat. Saat sekaya atau semiskin apapun, gaya hidupnya gak berubah, lempeng, gak butuh perhatian, terbiasa serba minimalis dan sederhana.

Tapi bagi orang yg hatinya masih lemah atau bermental miskin atau orang yg selalu dipenuhi kekhawatiran akan kemiskinan, justru jadi tercela. Karena saat mereka tidak punya simpanan harta, ibadahnya jadi kendor. Bahkan lebih baik bagi mereka untuk punya tabungan biar pas sholat gak kepikiran “Besok makan apa?”. Karena kepikiran harta dunia pas ibadah itu bisa jadi keburukan di sisi Gusti Allah.

Logikanya, tujuan ibadah itu biar bisa syukur. Kalo bisa syukur, maka bisa ikhlas. Kalo bisa ikhlas, maka ibadah gampang diterima. Nah, kebanyakan manusia itu baru bisa keluar syukurnya kalo lagi seneng. Orang seneng itu gara2 merasa gak kekurangan.

Sedangkan kalo merasa kekurangan, orang jadinya sumpek, gelap dan susah bersyukur karena merasa kurang. Sehingga saat ibadah pun susah buat ikhlas. Karena gak ada ikhlas, ibadah pun sia-sia. Ditambah lagi, rasanya kurang ridho dgn takdir. Apalagi muncul tamak. Ini semua maksiyat.

Makanya, biar gak merasa kekurangan dan memunculkan rasa syukur, orang jenis ini perlu untuk punya tabungan dan simpanan harta. Bahkan wajib kalo gara2 kurang harta, jadi susah bisa ibadah. Karena saat orang yg lemah lalu beramal seperti orang kuat itu jelas maksiyat, karena sama saja bunuh diri dan menyalahi maqomnya.

Makanya, tidak dianjurkan buru-buru hijrah jika belum ada dugaan kuat kehidupan baru akan lebih baik, seperti yg dilakukan kaum hijrah kekinian itu. Perlu adanya riset, uji coba dan usaha membuka jaringan sebelum berhijrah. Lalu kumpulin harta, nasehat2 guru dan ilmu sebanyak mungkin. Niatkan semua itu biar tenang ibadahnya dan bisa syukur. Visi misi hijrahnya harus jelas, bukan sekedar pindah gaya hidup yg justru jadi biang ketamakan.

Maka, menyadari maqom pribadi, realita dan kesadaran akan posisi diri kita, sangat dibutuhkan untuk membantu kita untuk mencapai tingkat ibadah yang sesuai dengan yang dikehendaki Gusti Allah. Sehingga menjadi hamba yg penuh syukur, ikhlas, bertaqwa dan bertawakal secara benar.

Mugi manfaat.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *