Menyeberang ke Pulau Seram

0
202

Jelajah Nusantara A Ginanjar Syaban di Maluku

Di Pulau Seram terdapat hutan hujan yang luas di mana segala macam tanaman rempah tumbuh subur dan melimpah: cengkih, pala, kayu putih, kayu manis, kelapa, damar, dan lain sebagainya.

Di Pulau Seram juga terhampar padang rumput dan bebukitan ilalang gersang, selain pesisir pantainya yang memukau pandang. Tampak indah sekali dengan gradasi warna biru, hijau, dan juga putih.

7

Ada juga gunung yang tinggil menjulang. Binaiya namanya, yang dikepung gunung-gunung barisan lainnya yang lebih pendek. Puncak Binaiya setinggi 3.000 mdpl. Dari arah laut di seberang atau kejauhan, gunung tersebut tampak mistis. Awan gemawan selalu menyelimuti puncak dan sekitarnya.

Saya menyeberang dari arah Jazirah Hitu dan menginjakkan kaki di Pulau Seram ini, lalu menjelajahi jengkal-jengkal tanahnya yang berlanskap indah, dengan jalanan lintang pukang, naik turun bebukitan, di kanan kiri jalan adalah berbagai macam tanaman rempah.

Dari kejauhan tampak lautan terhampar. Membentang dengan sangat gagah. Sepanjang jalan tercium semerbak wangi cengkih, pala, kayu manis, dan kayu putih.

Sepanjang jalan pula, saya kerap membayangkan ke masa silam: masa kurun niaga Asia Tenggara zaman pertengahan, ketika orang-orang dari berbagai bangsa di dunia datang ke pulau-pulau di Maluku dan pulau-pulau di Nusantara lainnya untuk mencari rempah-rempah.

Sejarah peradaban manusia tak bisa dilepaskan dari babakan “Kurun Niaga” tersebut. Dan Pulau Seram adalah salah satu latar utama zaman legendaris itu.

Teluk Ambon, 14 Agustus 2018