Jauh sebelum terjadinya revolusi di negara-negara Arab (the Arab Spring) seperti di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, sejatinya, al-Būtī telah memberikan warning kepada masyarakat Suriah untuk meningkatkan ibadah kepada Allah. Hal itu diserukan agar Suriah selamat dari fitnah yang sedang melanda di dunia Arab.

Lebih dari itu, ajakan al-Būtī tersebut bukan tanpa alasan. Karena sebenarnya al-Buti sudah mengetahui yang akan terjadi melalui mimpinya. Ya, mimpi tentang masa depan Suriah. Dalam salah satu pengajian mingguan, al-Būtī bercerita tentang mimpinya kepada para murid-muridnya. Menurut al-Būtī -sesuai dalam mimpinya, Suriah akan dilanda bencana besar. Inilah embrio dari kegaduan politik serta perang saudara yang akan menelan banyak korban.

Al-Buti bercerita begini:

في أواخر شهر شعبان أراني الله عز وجل رؤية وكلفت بإبلاغها أن هذه الرؤية تقول أن غضبة إلهية وافدة ستأتي. فيا الناس عودوا إلى الله…ولكن هذه الرؤية التي أراني الله عز وجل تقول لي أن العاقبة خير وأنها ستنتهي، رأيت ذلك، ولكن علمت أن هناك شرطا، يا إخواننا وقادتنا المسؤولين وعلى رأسهم سيد الرئيس، والشرط هو أن نجدد البيعة مع الله وأن تصطلح مع الله وأن نعود فنكون حراسا لدينه…

Meskipun demikian, al-Būtī berharap kepada masyarakat Suriah untuk tidak pesimis. Karena dalam mimpinya pun, al-Būtī “diperlihatkan” Allah dalam mimpinya bahwa konflik yang akan terjadi tersebut nantinya berakhir happy ending. Artinya, fitnah itu pun berakhir dan kejayaan bagi masyarakat Suriah akan terjadi, bila terpenuhi syarat-syaratnya.

Al-Būtī menjelaskan bahwa bencana itu akan berakhir bila masyarakat Suriah mau melakukan “pertaubatan nasional”. Artinya, semua lapisan masyarakat, baik dari pihak penguasa, pejabat publik hingga rakyat sipil harus kembali kepada Allah. Al-Būtī mengajak semua masyarakat Suriah untuk meningkatkan komitmen beribadah kepada-Nya.

Pasca warning yang disampaikan al-Būtī banyak kalangan yang menuduh al-Būtī sebagai pembawa khurafat. Hal itu karena, al-Būtī yang diklaim ulama intelektual tetapi percaya pada hal-hal yang di luar nalar (mimpi). Bahkan, beberapa ulama mengecam al-Būtī atas sikap tersebut.

Dan benar. Sekitar dua tahun pasca warning dari al-Būtī, mimpi itu pun terjadi. Konflik Suriah meletus sejak 2011 silam. Itu sebabnya, selama konflik mencuat, khotbah Jumat al-Būtī di masjid Jami Umawiyyah selalu mengajak rakyat Suriah untuk kembali ke jalan Allah, memperbanyak munajat dan beristighfar kepada Allah.

Al-Būtī sangat cinta dan setia pada Suriah. Itu dibuktikan dari kesetiannya dan bertahan di Suriah hingga beliau wafat. Sebagaimana diketahui, Al-Būtī wafat menjadi korban serangan bom bunuh diri oleh kelompok ektrimis di Suriah, Jabhat al-Nusrah. Al-Būtī wafat syahid dalam keadaan memberikan pengajian tafsir di masjid al-Iman Damaskus.

Al-Būtī wafat dalam keadaan sujud di depan mihrab masjid al-Iman. Ajaibnya, darah al-Buti membekas pada lembaran al-Quran tepat pada ayat 39 dari surah Ali Imran. Al-Būtī kemudian dimakamkan di sebelah makam Salahudin al-Ayubi.

Sebernarnya, upaya pembunuhan al-Būtī ini telah direncanakan jauh sebelumnya. Namun, setiap upaya jahat itu dilaksanakan selalu gagal. Dalam situasi Suriah yang begitu mencekam, al-Būtī masih menjalankan aktivitas dakwahnya seperti biasa. Hingga ajal menjemput, beliau tetap istikamah mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya untuk masyarakat Suriah.

Berkali-kali al-Būtī dirayu untuk meninggalkan Suriah demi keamanannya. Tetapi, beliau menolak meninggalkan Suriah dalam kondisi carut-marut. Al-Būtī tidak ingin dicap sebagai “bapak” yang meninggalkan anak-anaknya”. Perlu diketahui bahwa al-Būtī hingga wafatnya adalah Ketua persatuan Ulama Syam (rais ittihād al-ulamā al-Syām). al-Būtī memiliki pengaruh besar kepada umara, ulama dan ra’iyah (masyarakat).

Sebagai bapak, karena al-Būtī dianggap sebagai ulama Rabbani panutan di Suriah, dan rakyat Suriah adalah anak-anak “ideologis” al-Būtī yang harus mendapatkan perhatian penuh dari sang Bapak. Begitu pengakuan al-Būtī dalam salah satu wawancara dengan stasiun televisi beberaja jam sebelum wafatnya.

Al-Būtī sungguh bersedih melihat perpecahan umat Islam. Umat Islam diadu domba, dicabik-cabik dan diobok-obok oleh pihak lain, yakni musuh-musuh Islam.

Al-Būtī menyakini bahwa konflik Suriah adalah konspirasi dunia Barat dan Israel. Oleh karenanya, agenda-agenda memecah-belah di kalangan masyarakat perlu diwaspadai. Hal itu karena, apa yang diinginkan pihak kelompok oposisi pemerintah Suriah, sejatinya, juga tidak terlepas dari kepentingan asing.

Di sinilah peran al-Būtī mengajak masyarakat Suriah arif dan bijaksana dalam menyikapi “fitnah” yang sedang terjadi di negaranya. Oleh sebab itu, al-Būtī selalu mengajak murid-muridnya dalam setiap pengajian mingguan untuk semakin mendekat kepada Allah, memperbanyak istighfar dan munajat, agar diberikan solusi terbaik bagi kepentingan bangsa Suriah.[] Wallāhu a’lam
Kamis bakda Subuh, 6 Agustus 2020

Catatan: Mari  mengirimkan doa untuk Syeikh al-Būtī. Al-Fātihah. Amīn.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *