Naluri spiritual manusia pasti memiliki hasrat untuk berjumpa dengan yang Ilahi. Hasrat ini sering disebut sebagai eros religious atau hasrat keagamaan yang tidak dapat dipisahkan dalam diri manusia.

Dalam bukunya Najmuddin al-Kubra berjudul “Aqrab al-Turuq ila Allāh”, diterangkan bahwa jalan menuju Allah ada tiga tahapan: jalan muāmalah, jalan mujāhadah (perang melawan hawa nafsu) dan jalan mahabbah (cinta). Banyak orang yang hanya mampu melewati tahap pertama, tetapi tidak sampai pada tahap ketiga yang merupakan tahap paling istimewa.

Dalam perspektif Syeikh Al-Būtī, sejatinya, jalan menuju Allah itu dapat ditempuh melalui banyak cara. Akan tetapi, tidak mungkin seorang salik mencapai derajat kebergantungan kepada Allah, kecuali ia mengetahui seluk-beluk tentang Tuhannya dan membuktikannya melalui amal perbuatan yang disukai-Nya.

Meskipun demikian, jalan suluk menuju Allah yang banyak itu, sebenarnya kembali pada dua pondasi dasar. Pertama, jalan kelembutan hati dan emosi spiritual (tharīq al-‘ātifah wa al-wujdān) yang diekspresikan melalui perasaan cinta (al-hubb). Kedua, jalan nalar dan kontemplatif (tharīq al-aql wa al-tafakkur) yang diekspresikan melalui ilmu pengetahuan (al-‘ilm).

Syeikh Al-Būtī pernah berkata demikian: “Ada dua jalan yang dapat ditempuh oleh seorang salik menuju Allah, yang pertama adalah ilmu pengetahuan dan yang kedua adalah jalan cinta. Meskipun jalan ilmu ini banyak manfaatnya, namun ia tidak dapat menjamin seorang salik bisa sampai kepada-Nya. Karena jalan ini banyak disusupi oleh godaan setan dan hawa nafsu yang dapat mengagalkan sufi yang sedang menuju Allah.”

Oleh karena itu, menurut Syeikh Al-Būtī bahwa jalan ilmu saja tidak cukup untuk mengantarkan salik kepada Allah. Mengapa? Karena ilmu dapat memabukkan pemiliknya. Dengan ilmu, seseorang akan berbangga diri dan sombong. Sehingga ia menjadikan ilmunya sebagai sarana untuk memenuhi hasrat “nafsu” yang bersifat duniawi semata.

Pada titik inilah, dibutuhkan jalan kedua, yakni jalan cinta (al-hubb). Syeikh Al-Būtī menjelaskan bahwa jalan ini adalah jalan yang “aman”. Karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang tertanam “subur” di dalam hati seorang pelaku suluk, tidak akan memberikan efek negatif dalam dirinya.

Justru, energi cinta tersebut akan melahirkan rasa ketergantungan yang tinggi dengan penuh penghayatan (al-dzillu) dari seorang pencinta kepada kekasihnya (Allah) dalam proses menuju Allah itu sendiri.

Pertanyaannya, apakah orang yang mencintai Allah terlarang untuk mencintai selain-Nya? Jawabnya, tidak.

Memang, terkadang manusia tertarik pada hal-hal yang indah. Atau, hal-hal yang bersifat materi duniawi. Akan tetapi orang yang hatinya dipenuhi rasa cinta yang tulus kepada Allah, akan menjadikan hal-hal materi keduniaan itu sebagai jalan untuk menambah rasa cinta kepada-Nya.

Maka, dalam konteks inilah, cinta menjadi sarana untuk mendaki tangga menuju Tuhan, Sang Pencipta semesta yang paling menentukan. Wallahu a’lam.

Jumat berkah, 17 Juli 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *