Dalam kajian tasawuf tokoh yang populer dengan ajaran tasawuf cinta adalah sufi perempuan, Rabiah Adawiyah. Bagi Rabiah, cinta kepada Allah yang murni lebih tinggi daripada takut (khauf) dan pengharapan (raja’). Itu sebabnya, cintalah yang mendorong Rabiah senantiasa ibadah dan pasrah kepada-Nya, bukan surga dan neraka.
Begitu juga dengan Al-Būtī. Mazhab tasawuf cinta inilah yang dianut Al-Buti dalam menempuh jalan menuju Allah, selain jalan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dipahami dari pernyataan beliau bahwa salah satu jalan menuju Allah adalah jalan cinta (al-hubb). Cinta bagi beliau merupakan ekspresi emosional hati yang dapat membimbing para pelaku suluk untuk meraih ridha Allah dengan pengahambaan yang paripurna.
Menurut Al-Būtī, Islam rasional saja tidak cukup. Kematian tidak dapat dihadapi dengan keyakinan yang berdasar argumentasi akal semata. Justru dengan cintalah, manusia dapat merasakan manisnya iman kepada Allah. Cintalah yang dapat meringankan rasa sakit saat sakaratul maut. Bukan argumentasi ilmiah atau rasional lainnya.
Jika manusia memiliki hati yang dipenuhi cinta, maka rasa sakit saat sakaratul maut itu tidak akan mengalahkan rasa rindu untuk bertemu Allah. Berbeda halnya jika keimanan yang dibangun berdasar rasio belaka. Akal manusia akan hilang ketika merasakan sakitnya sakaratul maut, mulai dari ubun-ubun hingga telapak kaki.
Al-Būtī pernah menuliskan dalam bukunya “Al-Hubb fi al-Qur’ān” demikian: “Bahwa buah cinta manusia kepada Allah adalah kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan-Nya. Sebab, mustahil ada orang yang mencintai sesuatu, tetapi ia tidak ingin bertemu atau berdekatan dengannya. Meskipun ia tahu bahwa untuk bertemu dengan Allah harus ada kematian, ia tidak pernah takut untuk menghadapi kematian itu.”
Mazhab tasawuf cinta ala Al-Būtī ini berarti mengedepankan cinta sebagai pemantik ketaatan kepada Allah. Dalam buku beliau yang lain berjudul: “Al-Insān wa Adalatullahi fi al-Ardhi”, Menurut Al-Būtī bahwa cinta kepada Allah lebih nikmat daripada kenikmatan dunia dan seisinya.
Al-Būtī berkata: “Jika Allah memuliakan Anda dengan pertolongan-Nya sekecil apapun itu, dan Dia anugerahi Anda nikmat cinta, maka niscaya perasaan gelisah dan nafsu akan binasa dari diri Anda. Hati Anda akan tenggelam dalam kenikmatan yang membuncah.”
Lebih lanjut, “Tak ada satupun yang mampu mengilustrasikan kenikmatan itu, kecuali mereka yang telah merasakan manisnya cinta yang diberikan Allah kepadanya. Bahkan, seluruh kenikmatan dunia lebih rendah dari kenikmatan cinta kepada Ilahi. Sebab, cinta kepada Ilahi itu akan menghujam di dalam kalbu.”
Bagi Al-Būtī, orang yang melakukan sesuatu karena cinta, maka seluruh upayanya dilakukan dengan kerinduan kepada sang kekasih (Allah), sehingga yang sulit menjadi mudah, yang jauh terasa dekat, dan ia tidak pernah merasa puas terhadap apa yang ia lakukan terhadap sang kekasih (Allah).
Pertanyaannya, apa yang dapat membangkitkan rasa cinta ini?
Menurut Al-Būtī, cara pertama dan utama untuk menyalakan bara api cinta manusia kepada Allah adalah dengan mengaitkan berbagai kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya. Orang yang merasa dirinya senantiasa diawasi oleh Allah, hatinya akan dipenuhi dengan rasa cinta kepada Allah, Zat pemberi nikmat yang Mahabaik. Perasaan cinta ini akan menguat dan menguasai seluruh jiwanya, sehingga dapat mengalahkan cinta-cinta selain-Nya.
Dalam keseharian Al-Būtī, cinta inilah yang memberikan energi besar dan memengaruhi jalan hidupnya. Kecintaan Al-Būtī kepada Allah memberi dampak positif terhadap pembawaan beliau dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Bahkan, berbekal cinta pula, retorika al-Buti dalam berceramah mampu menggetarkan hati dan jiwa para pendengarnya.
Itulah dahsyatnya cinta dalam aktivitas dakwah. Karena dakwah yang disampaikan dengan cinta, ia akan sampai ke hati audiennya. Inilah bentuk komunikasi hakiki dari jiwa ke jiwa.
Juru dakwah (da’i) yang tidak membekali dirinya dengan cinta kepada Allah, niscaya akan terjerembab ke dalam godaan hawa nafsu yang menyesatkan. Begitu terang Al-Būtī dalam berbagai karyanya. Wallahu a’lam.
Sabtu bakda Subuh, 18 Juli 2020

No responses yet