Dewasa ini, dunia jagad medsos dibanjiri kabar pernikahan kaum muda-mudi milenial. Pro-kontra pun tidak bisa dihindarkan. Banyak komentar miring, dan tidak sedikit pula yang memujinya.

Tren menikah muda ini menjadi pilihan untuk menghindari “budaya” pacaran. Biasanya proses ta’aruf dilakukan, kemudian saling memantapkan hati oleh kedua pasangan dan akad pun disegerakan.

Sebenarnya, tujuan pernikahan bukan sekadar viral-viralan. Misal, dengan sengaja mengundang mantan di pesta pernikahan. Pernikahan adalah proses ibadah seumur hidup. Pasangan yang dipilih adalah pasangan sampai mati, sehingga jangan sampai salah pilih.

Di dalam pernikahan pasti banyak suka duka yang akan dilalui. Karena setiap pernikahan selalu ada tantangannya masing-masing. Dan, ilmu agamalah yang menjadi pondasi utamanya.

Sama halnya dengan al-Būtī. Pada usia 18 tahun, al-Būtī disuruh menikah oleh ayahnya, Syeikh Mulla Ramadan. Dan, ternyata wanita yang akan dijodohkan untuk al-Būtī adalah adik dari istri sang ayah sendiri. Perbedaan umurnya pun cukup mencolok, karena calon istrinya lebih tua 13 tahun dari usia al-Būtī.

Awalnya, al-Būtī sempat menolak. Bukan karena calon istri yang lebih “dewasa”, tetapi lebih disebabkan al-Būtī merasa belum siap menjalini rumah tangga. Keengganan al-Būtī tidak membuat ayahnya marah. Justru Syeikh Mulla menyarankan anaknya untuk membaca kitab Ihyā Ulūmiddīn karya al-Ghazālī, khususnya bab pernikahan.

Al-Būtī akhirnya menerima rencana sang ayah. Al-Būtī pun menyetujuhi niat baik sang ayah untuk menikahkan dirinya dengan adik ipar ayahnya. Saking bahagianya, sang ayah pun rela menjual buku-buku koleksinya untuk biaya pernikahan al-Būtī, anak laki-laki satu-satunya itu.

Pernikahan al-Būtī merupakan babak baru dalam perjalanan hidupnya. Menurut al-Būtī, pernikahan yang digagas oleh ayahnya memberikan pengaruh besar dalam fase-fase karir intelektualnya.

Istimewanya, pernikahan al-Būtī pun mendapat kado spesial dari Rasulullah melalui mimpi sang ayah, Syeikh Mulla.

Kisahnya begini:

Pada suatu pagi, pintu kamar al-Būtī digedor sang ayah.

“Apakah kamu masih tidur, sementara kabar gembira datang untukmu? Semestinya, kamu harus banyak-banyak bersujud dan bersyukur!”, teriak sang Ayah.

“Apa yang terjadi?,” al-Būtī balik bertanya kaget setelah membuka pintu kamarnya.

“Semalam aku bermimpi. Rasulullah bersama beberapa sahabatnya datang ke rumah ini, untuk mengucapkan selamat atas pernikahanmu” jelas sang ayah.

Al-Būtī pun terdiam, tak bisa berkata-kata.

Sejak saat itu, hati al-Būtī makin mantap dan bahagia menjalani pernikahan dengan wanita pilihan sang ayah.

Dari pernikahan ini, al-Būtī dikaruniai empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan. Anak pertama al-Būtī adalah Duktur Muhammad Taufiq Ramadan al-Būtī yang saat ini menjabat sebagai dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus Suriah.

Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah bermuara pada cinta-Nya sebagai tujuan. Sudah sewajarnya setiap upaya meraih cinta-Nya dilakukan dengan penuh tanggungjawab dan suka cita.

Pernikahan yang dibangun atas pondasi agama akan mampu mewujudkan kebahagiaan yang sempurna. Bukan kebahagiaan semu di depan kamera. Apalagi, kebahagian settingan belaka. Wallāhu a’lam[]

Rabu bakda Subuh, 22 Juli 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *