Dari penggalan pelajaran sejarah yang kini masih diingat : gedung-gedung bisa saja dibangun tinggi , bisnis semakin maju, pemandangan kota tampak indah, tapi kenapa si miskin tambah sengsara ?

*^^^*

Jacques Derrida sang pejuang anti miskin dari Brazil itu tak cukup akal menjawab pertanyaan: Apakah miskin tak boleh ada ? Apa yang terjadi bila kemiskinan terhapus dari muka bumi ? Lantas siapa yang harus benahi genteng rontok, talang bocor, cuci piring dan bersihkan jalan-jalan, juga yang melayani para aristokrat hidangkan makan dan minum pada jamuan besar. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu apakah bermaksud menghapus kemiskinan atau hanya semacam ikhtiar agar setiap kita tetap giat bekerja, 

Si miskin dengan tidak menyoal tentang status bisa saja hanya sebuah peran — kata Herbert Marcuse. Artinya si miskin harus tetap ada untuk menjaga keseimbangan agar kehidupan dunia tetap harmoni. 

Marx tokoh komunis yang keras itu juga tak mampu hapus kemiskinan — ia hanya tawarkan pemberontakan agar si kaya tak lengah dan status sosial dipergilirkan. Statemen pak Menko cukup menggelitik untuk direnungkan: ‘bila si miskin besanan bakal melahirkan orang miskin baru’. Tapi sayang pernyataan genius ini banyak disalah pahami. Bahwa kemiskinan struktural harus di pangkas agar cluster kemiskinan bisa ditembus setidaknja ada harapan bagi si miskin untuk bisa kaya walau sebentar.

*^^^*

Kefakiran itu hampir-hampir mendekati kekafiran kata Rasulullah saw pendek — saya juga masih belum paham bagaimana di sebuah rumah ada makanan berlimpah dibuang setiap pagi karena sisa semalam dan ada si miskin yang mengais makanan di tong sampah sebelah rumah. Kemana Tuhan saat si miskin kian merana ? Tanya Bruce Sheiman penulis buku An Atheist Defends Religion: Why Humanity is Better Off with Religion Than Without It. 

Bukankah kemiskinan juga seumur manusia di ciptakan dan entah sampai kapan — saya tak percaya bila kemiskinan bisa dihapus dihilangkan sama sekali dari muka bumi. 

Kenapa pembangunan tak bisa hapus kemiskinan ? Bahkan orang miskin tambah merana karena sengsara. Miskin itu niscaya bukan status yang harus dihindari apalagi dihapus sama sekali. Sebab bahagia dan sejahtera tak harus kaya.  Rumah sakit dibangun mewah tapi si miskin tak mampu beli obat.  Gedung sekolah makin tinggi menjulang tapi si miskin tetap tak mampu membayar. Bukti bahawa Pembangunan tak selalu berkorelasi dengan hapusnya kemiskinan. 

*^^^^*

Sayapun tetap bersyukur ada si kafer — dengannya Tuhan menggantikan tempat dudukku di neraka. Jika si kafer tiada lantas siapa yang menghuni neraka —- jadi hidup itu bukan pilihan tapi peran yang sudah ditetapkan termasuk si miskin yang terus di ikhtiarkan, sama sekali bukan menghapus agar tiada, hanya agar diantara kita terlihat bekerja dan bukan melawan ketetapan. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *