Mereka Buat Definisi Sendiri tentang Islam Nusantara, Lalu Dikritik Sendiri

0
548

Tangerang Selatan, jaringansantri.com – Wacana Islam Nusantara sempat kembali viral di media sosial belakang ini. Sama seperti sebelumnya para pengkritik selalu melempar alasan dan tuduhan yang sama. seperti mengaitkan dengan liberal, anti Arab dan lain-lain.

Terkait ini, Dr. Ngatawi Al-Zastrouw menyebut, mereka yang kerap kali mengkritik Islam Nusantara tidak lah benar-benar paham tentang konsep yang diusung Nahdlatul Ulama itu.

“Wong ini (Islam Nusantara) sudah ada sejak wali songo kok, dituduh liberal. Terus ada yang bilang anti Arab, anti bagaimana. Bangsa mana yang melebihi bangsa Nusantara dalam mencintai bangsa Arab. tidak ada,” katanya dalam pembukaan Kajian Islam Nusantara Center (INC) setelah libur Ramadhan. Tangerang Selatan, Sabtu (7/7).

Sastro melanjutkan “Rata-rata pengkritik Islam Nusantara itu, orangnya tidak paham pada Islam Nusantara. Dia tidak paham, tidak ngerti kemudian membuat definisi sendiri, bikin konstruksi pikiran sendiri, bikin asumsi sendiri, dia kritik sendiri.”

“Jadi yang dia kritik itu pikiran dia sendiri tentang Islam Nusantara. Dia tidak bisa membedakan antara Arab, Arabisme, arabisasi, Islam, islamisasi dan Islamisme,” tambah Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta ini.

Para pengkritik umumnya menuduh Islam Nusantara sebagai ‘mazhab baru’, anti-Arab, bid’ah, dan lain sebagainya. Zastrouw menyangkal tuduhan-tuduhan itu. Baginya, Islam Nusantara bukan lah sebuah mazhab baru dan tidak anti-Arab.

Senada dengan Zastrouw, penulis buku Masterpiece Islam Nusantara, Zainul Milal Bizawie atau Gus Milal, juga menegaskan bahwa Islam Nusantara bukan lah Islam liberal sebagaimana yang dituduhkan para pengkritik. Menurutnya, Islam Nusantara merupakan khazanah peradaban yang ada di wilayah Nusantara.

“Tidak ada kaitannya dengan Islam liberal, tapi ini upaya kita menggali praktik keislaman kita di Nusantara,” terang Gus Milal.

Menurutnya, Islam sudah masuk Nusantara sejak abad ketujuh Masehi atau pertama Hijriyah. Namun dakwah Islam kurang begitu berkembang hingga abad ke-14 hingga akhirnya datang lah era Wali Songo. Pada era ini, Islam berkembang sangat pesat dan diterima dengan baik oleh masyarakat lokal yang beragama Hindu-Budha.

Kesuksesan Wali Songo, imbuhnya, dikarenakan mereka mampu mendialektikan antara teks dan konteks, ajaran Islam dengan budaya setempat dan kearifan lokal. Bagi Gus Milal, apa yang dilakukan para Wali Songo itu merupakan cikal bakal dari Islam Nusantara.

Lebih lanjut, Gus Milal menyebutkan bahwa perwujudan dan muara dari Islam Nusantara adalah pesantren. Di sana, praktik-praktik keislaman dari ulama-ulama Nusantara terdahulu terwariskan hingga saat ini.

“Di pesantren, sanad keilmuan dan kebudayaan terwariskan sehingga terus terjaga hingga hari ini,” pungkasnya.  (Muchlishon/Damar).