Hari ini terjadi aksi yang tidak berperikemanusiaan lagi dan kali ini terjadi di Suatu gereja katedral di Makasar. Berdasarkan indikasi yang bisa saya kumpulkan ,pelakunya mengarah ke ISIS, dalam hal ini kemungkinan Mujahidin Indonesia Timur ( MIT ).
Kemungkinan peledakan itu terkait dengan aksi pembakaran dan pembunuhan terhadap empat aktivis gereja di Poso, Sulawesi Tengah yang dilakukan oleh MIT pada 28 Nopember 2020. Aksi itu dilatar belakangi dendam selama konflik Poso beberapa tahun lalu. Umumnya mereka kehilangan anggauta keluarga dan merasa diperlakukan tidak adil terutama ketika berada dalam tahanan.
Aksi mereka itu mendapat apresiasi langsung dari pimpinan ISIS dalam situs mereka yang didahului dengan mengumandangkan nasid atau lagu lagu perjuangan. Suatu cara atau metode yang digunakan oleh pimpinan ISIS untuk membina semangat juang dan mengendalikan pendukung pendukungnya dimanapun mereka berada.
Dalam perkembangannya kemudian pada 12 desember 2020 muncul rilis resmi An Naba, ISIS mengeluarkan suatu perintah yg berbunyi “ couldly kill them with hate and rage “ / bunuh mereka dengan kebencian dan penuh amarah”. Bisa juga dikaitkan dg penangkapan 19 orang yg diduga teroris ( nggauta JAD ) di Makasar baru baru ini,sebagai bagian dari cassus belly yg memperkuat motivasi.
Kalimat ISIS itu bisa dimaknai sebagai perintah dari pimpinan ISIS atas nama Abu Abdullah Asy Syami. Pelaku terorisme , bukan kebetulan , memilih momen hari minggu kebaktian yang masih dalam rangkaian hari paskah / kebangkitan. Tepatnya hari ini ( 28 maret ) dilakukan ritual palma sesuai dg keyakinan umat Katholik.
Perkembangan diatas sebaiknya disikap secara jernih , kepala dingin dan cerdas. Pertama ; peran propaganda jihad global sangat berpengaruh terhadap perkembangan kelompok radikal / ekstrim di Indonesia khususnya kelompok pro ISIS. Kedua : Bukan mustahil akan ada kelompok ekstrim baru sejalan meningkatnya propaganda terorisme global dan kondisi politik internal, sehingga perlu pemetaan teror yang tepat.Ketiga ; jangan ada kebijakan yang tidak cerdas, menggolongkan ormas Islam yg dianggap radikal kedalam Kelompok Teroris.Perlu dicermati , radikal dalam “retorika “atau “ radikal / ekstrim dalam ideologi ( Jihadi ) dan dalam aksi ( istishadah/ bom bunuh diri.
Terngiang dalam otak saya .;pesan tokoh besar intelijen nasional,Pak Ali Murtopo “ Indonesia akan aman damai, kalau kamu bisa menjadikan mereka yang ekstrim menjadi radikal dan kemudian menjadikan yg radikal menjadi moderat”. Insya Allah.Sebagai pengamat bisa saja ,analisa diatas salah, tetapi saya tulis dengan niat tulus untuk membantu pihak yg berkepentingan secara cepat.

No responses yet