Solidaritas Islam menguat: pobhia Islam juga meningkat signifikan —
*^^^^**
Bagi umat Islam Indonesia, pandemi kovid 19, zionisme atas Palestina, genosida rohingyae bukan saja musibah tapi juga sekaligus media untuk kembali merekat solidaritas bahwa umat Islam adalah satu tubuh. Jadi bukan jumlah uangnya yang ditakutkan tapi mobilisasi umat nya itu yang membuat mereka ngeri.
Berbagai musibah itu seakan dikirim Tuhan agar menjadi jawaban bagi umat Islam yang terbelah karena perbedaan pilihan politik, ideologi dan manhaj kembali menyatu karena senasib dan sepenanggungan.
Tapi bisa juga menjadi ancaman. Ada yang kemudian gerah melihat potensi umat Islam dalam menyikapi berbagai masalah, aksi solidaritas ini bisa menjadi tamparan kuat bagi rezim karena mengikis kepercayaan dan mengalihkan nya pada kekuatan alternatif semisal Muhammadiyah dan harakah lainnya yang semisal.
*^^^*
Bahkan ada yang secara personal mendapat limpahan kepercayaan teologis sebut saja ustadz Adi Hidayat. Ditengah upaya keras mengembalikan kepercayaan publik , rezim kita tak cukup piawai bahkan banyak terkesan melawan suasana kebatinan rakyat ini soal besar yang harus segera di urai.
Banyak kebijakan yang dirasa melawan suasana hati rakyat bahkan terkesan melawan — sesuatu yang menurut saya tidak patut. Mestinya ‘ngemong’ bukan melawan kepatutan kolektif.
Kebutuhan rakyat atau keinginan penguasa ? Demikian kira-kira yang patut dipertanyakan terhadap kebijakan rezim Jokowi saat ini — sebagai seorang ratu yang mendapat ‘wahyu keprabon’ sudah selayaknya memahami suasana hati atau suasana kebatinan rakyat kata Bung Karno — yang kemudian menjelma dalam sebuah prilaku dan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada rakyat bukan pada segelintir elite yang sarat kepentingan.
*^^^*
Realitasnya Muhammadiyah tumbuh menjadi alternatif gerakan civil society yang prospektik. Menabalkan diri sebagai harakah profetik— lintas batas agama suku ras bahkan negara. Dengan tidak menyebut jumlah tapi kekuatan gotong royong dari berbagai lapis status sosial ekonomi dan pendidikan gerakan filantropi ini mendapatkan bentuknya yang otentik. Sebagai kekuatan rakyat sekaligus mobilisasi umat Islam secara holistik. Mungkin model ini yang diingini Kuntowidjojo cendekiawan besar dua puluh tahun yang lalu.
Daya resonansinya kuat terasa, bukan persoalan jumlah yang di dapat, tapi kekuatan spiritualnya yang menggetarkan, tergambar jelas di dalamnya. Berbanding terbalik dengan bantuan yang diberikan oleh negara atau kerajaan secara gelondong meski lebih banyak.
*^^^*
Prof Haidar Nashir, saya pikir cukup paham dengan suasana kebatinan umat Islam saat ini, beliau berkata : ‘Mendukung Palestina bagi bangsa Indoenesia sebenarnya normal. Bukan sesuatu yang luar biasa. Kaum muslimin yang mengumpulkan dana juga proporsional. Tidak melupakan nasib bangsa di negeri sendiri—‘.
Tapi ini mengerikan bagi rezim dan menakutkan bagi orang lain —saya bilang.

No responses yet