Pada dasarnya tidak ada murid yang bodoh. Semua murid berpotensi memiliki kecerdasan asal memiliki niat yang kuat, ketekunan, kekokohan tekat yang bulat untuk memperoleh ilmu. Di tambah dengan bimbingan guru yang benar. Jika antara murid dengan keungguhannya, dan guru dengan ketelatennya berpadu maka tidak akan ada murid yang bodoh.

Kebodohan memang memiliki potensi besar untuk diubah–sebagaimana kisah Ibnu Hajar penulis _Fathul Bari,_ namun lain dengan kemalasan. Malas inilah faktor utama yang menyebabkan murid mengalami kegagalan memperoleh pengetahuan serta akan membuahkan kekecewaan dan penyesalan belaka. Alih-alih murid ini mendapat ilmu dalam sepanjang pencariannya melainkan hanya menyia-nyiakan umur belaka.

Tentang potret murid yang malas dan mengecewakan ini pernah direkam dalam suatu catatan. Dalam kitab _Al-Sanatir_ dikisahkan bahwa suatu ketika ada murid dari bangsa Jawa berguru kepada Habib Al-Habsiy di Ribat Siyun di Hadramut Yaman. Si murid ini tergolong anak yang sangat malas.

Si murid pemalas ini meski bertahun-tahun belajar di Yaman ia tetap seperti semula. Ketika lima tahun berjalan dan disuruh pulang oleh orang tuanya dengan harapan yang sangat besar. Orang tua murid ini mengira selama di Yaman ia belajar keras dapat memahami berbagai kitab sehingga upaya ornag tuanya memberikan berbagai fasilitas penunjang mencukupi keperluan hari-harinya tidak sia-sia. Namun apa yang terjadi si murid malas ini sepulangnya dari Yaman, ia tak sesuai harapan dan angan-angan orang tuanya. Dia tak mampu berbahasa Arab, di mintai jawaban suatu pertanyaan tidak bisa, dan masyhur kemudian dengan kebodohannya. Sebab kemalasannya inilah Ayah dari murid ini merasa kecewa hingga kekecewaannya ini menyebabkan ia meninggal.

Dari kisah di atas cukuplah dijadikan pelajaran bahwa kemalasan murid dalam menuntut ilmu akan berbuah penyesalan dan kerugian. Rugi terlewatnya umur, rugi terbuangnya biaya, dan rugi lenyapnya kesempatan. Untuk itulah sikap malas selama masa-masa belajar harus dienyahkan. Sehingga kelak tidak terjadi penyesalan dikemudian hari.

Wallahu A’lam Bisshawab.

Kediri, 10-02-2021.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *