Kontributor: Muhammad Alfasi ( Mahasiswa UIN Jakarta)
Di Indonesia, sepanjang yang diketahui, penyalinan Mushaf Al-Qur’an telah dimulai sejak 5 abad yang lalu. Salah satu mushaf tertua yang masih tersisa diketahui berasal dari akhir abad ke 16 atau tepatnya pada Jumadil awal 993 H (1585 M), koleksi William Marsden. Pada umumnya kegiatan penyalinan secara masif dilakukan di pusat-pusat keislaman, seperti Aceh, Sumatera Barat, Palembang, Banten, Yogyakarta, Sulawesi, dan lain sebagainya.
Dari sudut sejarah, wilayah Provinsi Jambi yang secara geografis mempunyai wilayah garis pesisir timur pulau Sumatera memiliki peran strategis dalam rute pelayaran masa lalu. Pelabuhanpelabuhan yang berada di sepanjang pesisir timur Sumatera dan sepanjang Selat Malaka merupakan tempat-tempat yang sering disinggahi oleh para pedagang muslim untuk mendapatkan suplai air minum dan barang-barang perbekalan. Oleh karena itu, proses kedatangan Islam di wilayah Jambi berkaitan erat dengan proses kedatangan Islam di sepanjang Pesisir Sumatera, termasuk Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara.
Ini lah beberapa Mushaf-mushaf kuno yang berada di Jambi:
Mushaf pertama:

Mushaf ini merupakan koleksi penting Museum Siginjai Jambi. Ditempatkan dalam fitrin yang berada di ruang pamer bagian depan dengan kode registrasi A_07026. Mushaf ini diperoleh pihak museum dari koleksi pribadi masyarakat di Mandiangin, Surolangun, Jambi. Mushaf ini tergolong istimewa, selain dihiasi dengan iluminasi yang sangat indah juga dilengkapi dengan qirā’ah sab’ah yang ditulis pada sisi pias bagian kiri dan kanan secara lengkap 30 juz. Naskah berukuran 29 x 19 cm, bidang teks 20 x 10 cm, dengan ketebalan 7 cm. Setiap halaman berisi 13 baris. Ditulis pada kertas Eropa. Iluminasi hanya terdapat pada bagian awal. Kondisi naskah masih cukup baik, selain memuat teks Al-Qur’an 30 juz juga terdapat teks-teks lain pada bagian awal (sebelum Surah Al-Fatihah) yakni, ilmu fikih penjelasan sekitar masalah aqiqah, sedangkan pada bagian akhir naskah (setelah Surah an-Nas) terdapat doa khatmul Qur’an, hukum tajwid, dan doa-doa. Iluminasi yang terdapat pada Surah Al-Fatitah dan awal Surah al-Baqarah bermotif floral dengan dominasi warna merah dan kuning emas, pada garis-garis tepi bersepuh emas. Hiasan mushaf juga terdapat setiap tanda rubu‘, sumun, dan ni¡f, dengan model bulat kombinasi warna merah dan hitam. Teks Al-Qur’an ditulis dengan khat naskhi dengan pena tebal-tipis.
Menurut catatan yang terdapat pada bagian akhir mushaf dengan menggunakan pensil bahwa mushaf ini adalah milik Sjahbudin, dari kota Padang. Bunyi lengkap catatan dengan aksara latin tersebut “Saja jang empunya Kuran ini bernama Sjahbudin [Gendung] Kota Padang”. Dapat diduga bahwa catatan tersebut ditulis oleh pewaris/pemilik pada masa berikutnya.
Mushaf 2

Mushaf koleksi Museum Siginjai Jambi dengan kode re-gistrasi 07.026. Disimpan dalam lemari koleksi di ruang storage Museum. Mushaf ini memuat teks Al-Qur’an secara lengkap, tetapi bagian awal Surah al-Baqarah telah hilang. Mushaf yang tampak saat ini dimulai dari akhir ayat 13 Surah al-Baqarah, begitu juga pada bagian akhir mushaf yang tersisa hanya hingga Surah al-Bayyinah. Secara keseluruhan mushaf ini terdiri dari 710 halaman. Tidak terdapat keterangan penulis, pemilik maupun tahun. Mushaf ini tergolong besar, ber-ukuran 33 x 21 cm dengan ketebalan 7 cm, sedangkan bidang teks berukuran 22 x 12 cm. Pada setiap halaman terdiri dari 13 baris teks. Ditulis pada kertas Eropa. Bagian luar naskah sudah diganti dengan sampul baru berwarna hitam. Secara keseluruhan kondisi naskah masih cukup baik, hanya saja pada bagian awal dan akhir mushaf terlihat kecoklatan dengan bagian tepi sobek termakan usia. Tidak terdapat iluminasi, baik di awal, tengah, maupun akhir. Tidak terdapat penomoran halaman. Teks Al-Qur’an ditulis dengan menggunakan khāt naskhī dengan menggunakan tinta berwarna hitam, ditulis dengan kalam tebal tipis. Tanda akhir ayat berwarna
merah dengan bentuk bulat dan titik hitam pada bagian tengahnya. Warna merah juga digunakan sebagai garis pembatas bidang teks. Tidak terdapat penomoran dalam setiap halaman. Pada bagian pias terdapat tanda pembagian teks dengan tanda ‘ain untuk maqrā’ dan tanda pembagian teks rubū’, ni¡f, dan £umun. Pada bagian sebelum dan sesudah teks Al-Qur’an tidak terdapat teks lain.
Mushaf 3

Mushaf 3 merupakan koleksi Museum Siginjai Jambi dengan kode registrasi 07.062; disimpan dalam lemari koleksi di ruang storage Museum. Memuat teks Al-Qur’an secara lengkap, tetapi bagian awal Surah al-Fatihah telah hilang, sedangkan bagian akhir mushaf masih lengkap hingga Surah an-Nas. Tidak terdapat keterangan yang menjelaskan tentang nama penyalin, tempat, dan masa penyalinan mushaf ini. Dilihat dari bahan yang digunakan, mushaf ini kondisinya masih baik, tetapi dari segi teksnya sudah banyak yang termakan tinta, sehingga tampak lubang-lubang kehitaman. Ukuran naskah 30,5 x 20 cm, sedangkan ukuran bidang teks 22 x 11 cm. Secara keseluruhan berjumlah 676 halaman, dengan ketebalan 7 cm.
Teks Al-Qur’an ditulis dengan menggunakan khat naskhi dengan menggunakan tinta berwarna hitam, sedangkan tanda akhir ayat berwarna merah dengan bentuk bulat dengan titik hitam pada bagian tengahnya. Warna merah juga digunakan sebagai garis pembatas bidang teks. Tidak terdapat penomoran dalam setiap halaman, hanya untuk menandai sambungan antar halaman digunakan kata alihan (catch word) meskipun tidak dilakukan secara konsisten pada setiap halamannya. Pada bagian pias terdapat tanda pembagian teks berupa rubū‘, ni¡f, dan sumun. Dari sisi kaligrafi, mushaf 2 menggunakan naskhi ditulis dengan mata pena tanpa tebal tipis. Pada bagian akhir sesudah teks Al-Qur’an terdapat teks satu Surah al-Fatihah yang diselipkan, kemungkinan teks ini ditulis belakangan karena karakter tulisannya berbeda, dan difungsikan sebagai pengganti Surah al-fatihah yang sudah hilang pada bagian awal mushaf.
Mushaf 4

Mushaf koleksi Museum Siginjai Jambi dengan kode registrasi 07.067 ini disimpan dalam lemari koleksi di ruang storage museum. Memuat teks Al-Qur’an secara lengkap, tetapi bagian awal Surah al-fatihah telah hilang, sedangkan bagian akhir mushaf masih lengkap hingga Surah an-Nas. Tidak terdapat keterangan yang menjelaskan tentang nama penyalin, tempat, dan masa penyalinan mushaf ini. Ukuran naskah 27 x 19,5 cm, sedangkan ukuran bidang teks 20 x 14 cm, dengan ketebalan 9 cm, secara keseluruhan berjumlah 618 halaman. Mushaf ini tergolong tebal, selain jumlah halamannya yang banyak juga bahan alas kertas yang digunakan adalah kertas daluang yang agak tebal. Dilihat dari bentuk dan bahan yang digunakan, kemungkinan naskah ini dijilid ulang oleh generasi berikutnya dengan menggunakan bahan kulit. Tidak terdapat penomoran halaman ataupun kata alihan (catch word) pada setiap halamannya, sehingga rentan tertukar halaman jika terlepas. Warna tinta yang digunakan untuk menulis teks ayat berwarna hitam. Terdapat tinta merah yang digunakan untuk lingkaran ayat (tanpa nomor), awal juz, dan menulis pembatas awal surah yang biasanya menjelaskan kategori surah makkiyah/madaniyah dan jumlah ayat dalam surah tersebut.
Mushaf 5

Mushaf koleksi Museum Siginjai Jambi dengan kode registrasi 07.083 ini disimpan dalam lemari koleksi di ruang storage museum. Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan, sebagaian besar sudah mengalami kerusakan yang parah. Diduga kuat bahwa pada awalnya mushaf ini kemungkinan besar berisi 30 juz penuh, karena kerusakan yang parah sehingga banyak bagian/lembaranlembaran yang sudah terlepas dan hancur. Lembar awal yang masih ada dimulai dari Surah al-Baqarah ayat 6, sedangkan bagian belakang sudah tinggal potongan-potongan yang tersisa. Mushaf ini mempunyai iluminasi yang indah, saat ini yang masih bisa dilihat adalah pada bagian tengah Al-Qur’an, diperkirakan pada awalnya mempunyai iluminasi di awal, tengah, dan akhir. Sebagaimana khas iluminasi dari tanah Melayu lainnya, motif floral dengan dominasi warna merah dan kuning emas, berbentuk persegi panjang dengan bagian tengah membentuk seperti joglo dengan kombinasi warnabiru, merah, dan kuning emas.
Mushaf 6 A

Mushaf ini tersimpan di Masjid Keramat, Dusun Koto Tuo Pulau Tengah, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Terletak 15 KM sebelah timur kota Sungai Penuh, pusat kota Kabupaten Kerinci. Mushaf ini merupakan jilid pertama, dari dua jilid yang memuat teks Al-Qur’an secara lengkap. Jilid pertama (mushaf 6 A) mulai dari Surah al-Fatihah hingga akhir Surah an-Nisa ayat 12, kemungkinan pada awalnya jilid A ini memuat teks hingga Surah al-hijr, sedangkan jilid 2 juga sudah banyak bagian yang terlepas, dimulai dari lembar akhir Surah an-Nahl dan berakhir pada Surah al-Infitar. Tidak terdapat keterangan yang menjelaskan tentang nama penyalin, tempat dan masa penyalinan mushaf ini. Kondisi mushaf saat ini sudah banyak yang rusak, sampul sudah terlepas dari isinya, demikian juga jilidan sudah banyak yang lepas antar-kurasnya. Sampul terbuat dari kulit yang cukup tebal, sehingga cukup kuat meskipun sudah berumur ratusan tahun. Ukuran mushaf ini tergolong kecil 17 x 26 cm, sementara bidang teks berukuran 15 x 11 cm, dengan ketebalan 5 cm. Jumlah halaman keseluruhan 380, terdapat 5 halaman kosong pada bagian awal sebelum Surah al-Fatihah, sementara pada bagian belakang sudah banyak yang hilang).
Tidak terdapat penomoran halaman ataupun kata alihan (catchword) pada setiap halamannya, sehingga rentan tertukar halamanjika terlepas. Warna tinta yang digunakan untuk menulis teks ayatberwarna hitam, terdapat tinta merah yang digunakan untuk menulistanda waqaf dan tajwid, warna merah juga digunakan untuk menulistanda pembagian maqrā’, juz, rubū‘, ni¡f , dan sumun. Sedangkanlingkaran tanda akhir ayat menggunakan warna kuning dengan sisigaris tepi berwarna hitam (tanpa nomor). Khat yang digunakan untukmenulis teks utama menggunakan naskhi, tetapi secara karakterlebih banyak condong ke £ulus. Saat ini, mushaf disimpan di lemariMasjid Keramat. Menurut penuturan pengurus masjid, mushaf inimerupakan pusaka masyarakat setempat, sehingga tidak boleh dibawakeluar masjid.
Mushaf 6 B

Mushaf ini merupakan jilid kedua dari mushaf 6 A, dimulai dari akhir Surah an-Nahl, terlihat beberapa lembar sebelumnya sudah lepas dan hilang, sedangkan bagian akhir hingga Surah al-Bayyinah. Mempunyai ukuran yang sama yakni, 17 x 26 cm, dan bidang teks berukuran 15 x 11 cm. Secara keseluruhan ketebalan mushaf 482 halaman, tidak terdapat halaman kosong. Kondisi mushaf saat ini sudah menguning kecoklatan, pada bagian pinggir kertas sudah banyak yang mulai sobek, penjilidan melonggar sehingga banyak kuras yang terlepas. Teks ayat sebagian besar termakan tinta sehingga berwarna kehitaman.

No responses yet