Categories:

Oleh:
Nur Kholifah, mahasiswi Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta

Toleransi menurut Bahasa adalah sikap menghargai pendirian orang lain. Dan enghargai bukan berarti membenarkan apalagi mengikuti. Sementara itu, dalam kamus besar Bahasa Indonesia memaknai toleransi sebagai berikut: bersifat atau bersifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat. Pandangan, kepercayaan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.
Toleransi menurut agama islam adalah menghormati atau menolelirdengan tanpa melewati batas aturan agama itu sendiri. Dari Al-Luhaidan dalam kitabnya menuliskan takrif tasamuh sebagai berikut: “Mengambil kemudahan (kelonggaran) dalam pengamalan agama sesuai dengan nash-nash syariat, sehingga pengamalan tersebut tidak sampai pada tasyadûd (ketat), tanfîr­(menyebabkan orang menjauhi islam) dan tasahul (menyepelekan)”
Dalam islam, toleransi tidak dibenarkan jika di terapkan dalam ranah teologis. Peribadahan harus dilakukan dengan tata ritual dan di tempat ibadah masing-masing. Agama adalah keyakinan, sehinggaberibadah dengan cara agama lain akan merusak keyakinan tersebut.
Toleransi hanya bisa diterapkan pada ranah sosial. Upaya-upaya membangun toleransi melalui aspek teologi, seperti doa dan ibadah Bersama, adalah gagasan yang sudah muncul pada sejak zaman jahiliyah dan sejak itu pula sudah ditolak oleh Al-Qur’an dalam surat Al- Kafirun. Para penggagas teologi inklusif jahiliah itu adalah; Al-Aswad bin Muthalib, walid bin Mughirah, Umayah bin Khalaf dan Al-ash bin Wail. Mereka menawarkan secara terang kepada Rasullullah; “wahai Muhammad, bagaimana jika kami menyembah Tuhan-mu setahun, dan Engkau menyembah Tuhan kami satu tahun?”
Usulan Al-Aswad dan kawan-kawannya, adalah baik dan toleransi. Sebuah upaya negosiasi yang lahir dari keputusan masyrakat Makkah saat itu, saat masyarakat Makkah yang homogen, tidak terbiasa dengan sebuah perbedaan. Lalu, sika papa yang diambil Rasullullah atas tawaran itu? Tentu saja Rasullullah menolak. Dan tak lama, turunlah surat Al-Kafirun;
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ . لَا أَعْبُدُ مَاتَعْبُدُونَ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ . وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَمَا أَعْبُدُ . لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Artinya:
“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.
Tegas ayat ini menolak sinkretisme. Sebagai agama yang suci akidah dan syariah, islam tidak akan mengotorinya dengan mencampur dengan akidah dan ‘syariah’ lain. Dan ini bukan bentuk intoleransi, sebab ranah toleransi adalah menghargai bukan membenarkan dan mengikuti. Justru sinkretisme adalah bagian dari sikap intoleransi pemeluk agama pada agamanya sendiri. Sebab pelaku sinkretisme, seolah tidak lagi meyakini kebeneran agamanya sendiri. Sedangkan agama adalah keyakinan.

Adapun toleransi, adalah bagaimana memelihara keimanan di dalamm batin agar tetap suci tanpa terkotori dan tercampuei keyakinan lain, namun secara lahir, seseorang harus bisa menghormati dan memberi ruang kepada pemeluk agama lain untuk mengamalkan keyakinan-keyakinannya
Begitulah Allah mengajarkan kita melalui surah Al-Kafirun surah yang terdiri atas ayat-ayat dengan kesan tansa dan tegas tetapi tanpa Bahasa keras. Itulah islamm, tegas dalam isi, toleran dan santun dalam berkomunikasi. Rasullullah yang menjadi teladan bagi umat muslim. Perbuatannya adalah teladan, uspannya adalah petunjuk,diamnya adalah kehalalan, lupanya adalah tatanan.
Silahturahmi beda agama, menurut Nabi
Seorang muslim tidaklah boleh memutuskan tali keluarga hanya karena beda agama. Sebagaimana Nabi Ketika menjawab pertanyaan Asma’ binti Abi Bakar yang menanyakan perihal ibunya yang datang ke Madinah dalam keadaan musyrik. Asma; berkata: “wahai Rasullullah, ibuku telah dating ke Madinah, apakah aku harus bersilahturahmi kepadanya?”. Nabi bersabda: “ Bersilahturahmilah kepada ibumu!”. Maka turunlah ayat: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *