Sejak kecil nabi dikenal sebagai anak yang mandiri, cerdas, jujur, penuh kasih sayang terhadap kaum yang lemah dan sangat berani membela keadilan. Meski hidup dalam keterbatasan karena sejak kecil sudah yatim piatu, beliau memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Kelebihan nabi ini seolah telah disiapkan Allah sebagai bukti kenabian beliau sebelum diangkat secara “resmi” oleh Allah pada usia 40 tahun. Meski demikian masih ada pihak, bahkan mengaku sebagai “ustadz” yang menyatakan bahwa sebelum diangkat menjadi nabi, beliau tidak berbeda dengan orang biasa lainnya. Tapi pandangan ini adalah pandangan minoritas yang diungkap kalangan ustadz (bukan Ulama), demi popularitas dan sarana untuk “menjebak” penggemarnya agar merasa yakin dengan dirinya yang mantan “pelaku maksiat”.
Karakter Muhammad dimasa kecil dan muda ini memiliki kemiripan (dalam hal kemandirian, keberanian, kesederhanaan, dan keberpihakan pada mereka yang dimarginalkan, serta kecerdasannya) dengan sosok anak muda yang bernama Ali. Anak paman nabi yang mungkin sudah mengidolakan nabi Muhammad (yang kebetulan sepupunya sendiri) sejak kecil. Sebagai figur yang sejak anak-anak sudah masuk Islam, Ali adalah teladan yang baik buat anak-anak dan kaum muda. Para pemuda harusnya memiliki keberanian, kejujuran, ketegasan, keberpihakan pada kaum lemah, kecerdasan dan semangat untuk hidup “merdeka” atau mandiri yang tinggi seperti Khalifah terakhir nabi ini. Ali adalah figur pemimpin yang lebih mewakili sifat Fatonah nabi. Nabi begitu mencintai Ali sehingga memilihnya untuk dijadikan menantu disandingkan dengan putri tercinta beliau Fatimah As Zahra. Meskipun saat itu banyak sekali sahabat nabi lainnya yang lebih “terpandang” secara sosial dibandingkan Ali yang masih menjadi pemuda “miskin”.
Ketika nabi memasuki usia muda dewasa, beliau sudah menjadi “pengusaha” sukses yang sangat dermawan dan bahkan membuat “mitra” usahanya Khadijah tertarik untuk “melamar” Muhammad muda sebagai suaminya. Konon saat itu nabi sudah sangat mapan (kaya) sehingga bisa memberikan “mas kawin” yang cukup “keren” pada masanya. Karakter sebagai “pengusaha” kaya ini terwakili oleh sosok “Ustman bin Affan”. Khalifah ketiga nabi ini memang dikenal sebagai sosok pengusaha sukses yang sangat kaya dan sekaligus “dermawan”, sehingga banyak sekali hartanya yang disedekahkan dalam perjuangan menegakkan Islam di masa kenabian dan paska kenabian. Ustman seolah mewakili sifat tabligh nabi. Sosok yang begitu lugas dan ikhlas dalam bersedekah, karena menganggap hartanya adalah milik Allah SWT yang harus disampaikan diminta ataupun tidak oleh Nabi. Bahkan beliau wafat dalam keadaan sedang membaca (tabligh) Kalamullah dan mendekap mushaf yang sedang dia baca. Hingga sekarang pun mushaf Al-Qur’an yang paling populer dikenal dengan mushaf Usmani.
Memasuki usia kematangan sampai menjelang usia 40 tahun, sosok Muhammad dikenal sebagai orang yang sangat adil, amanah, berani dan tegas dalam memutuskan permasalahan yang dihadapinya. Karakter ini mirip dengan karakter Umar yang begitu kuat memegang amanah. Bahkan dengan sangat terbuka dia mengikrarkan keislaman dan dengan sangat kuat memegang amanah itu. Sosok Umar adalah pemimpin yang tidak bisa diajak kompromi atau ditawar-tawar jika berkaitan dengan penegakan keadilan. Siapapun akan takut akan ketegasan dan keadilannya. Watak Khalifah kedua nabi ini seolah mewakili sifat amanah dari nabi Muhammad. Begitu kuatnya iman dan keberaniannya, konon iblis pun takut jika harus berpapasan dengan Umar.
Setelah matang dalam usia dan resmi diangkat menjadi nabi dan utusan Allah pada usia 40 tahun. Muhammad sudah tidak lagi menempatkan urusan duniawi dalam ruang pikiran dan hatinya. Kepercayaan Allah SWT terhadap dirinya, membuat kakek Hasan dan Husain ini “menghabiskan” seluruh harta dan rasa kenikmatan duniawinya untuk berjuang dan meraih ridho Allah SWT semata. Watak inilah yang kemudian bisa kita teladani dalam sosok Khalifah pertamanya yakni Abu Bakar. Figur yang sangat dewasa dan bisa dipercaya karena tidak pernah membantah apa yang dikatakan dan diperintahkan oleh nabi, sang menantunya sendiri. Bapak mertua yang sangat percaya dan mencintai menantunya melebihi cinta kepada dirinya dan keluarganya. Itulah kenapa nabi sendiri yang menggelari Abu Bakar sebagai as Siddiq atau orang yang sangat bisa dipercaya. Bahkan begitu mulianya sampai Allah menyebutkan secara khusus tentang sahabat nabi yang menjadi Khalifah pertama ini. Dalam satu riwayat bahkan diceritakan ketika nabi bertanya kepada Jibril soal keutamaan Umar Bin Khotob, Jibril menjawab bahwa jika air laut dijadikan tinta maka akan habis untuk menuliskan keutamaan Umar. Ketika nabi melanjutkan bertanya tentang bagaimana dengan keutamaan Abu Bakar? Jibril menjawab keutamaan Umar adalah sebagian dari keutamaan Abu Bakar. Semoga kita bisa mengambil keteladanan nabi melalui para khulafaur Rasyidin, dan tidak tertipu dengan khilaf-ah-ih-uh yang palsu. #SeriPaijo

No responses yet